Pasific Pos.com
Papua Barat

Pemkab Mengklaim Retribusi Rumah Kos Bisa Mencapai Rp 1 Miliar

Manokwari, TP – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manokwari tahun 2018 memperkirakan bisa mendapatkan pemasukan dari penarikan pajak 10 persen rumah kos sebesar Rp 1 miliar lebih.

Pelaksana tugas (plt) Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Manokwari, M. Irwanto mengatakan, penarikan pajak 10 persen rumah kos dimulai bulan Februari 2018.

“Di bulan ini. Kemarin itu kami punya data 2.162 kamar. Itu yang terdata, pasti masih ada yang belum,” kata Irwanto kepada wartawan di Kantor Bupati, Kamis (1/2).

Ia menjelaskan, penarikan pajak 10 persen bagi rumah kos dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu 10 persen Bruto dan 10 persen Netto.

“Jadi beda ya. Nanti kita lihat berdasarkan data yang diberikan kepada kami, kita bisa berhitung mana yang pantas bisa kami kenakan Bruto dan mana yang Netto,” jelas Irwanto.

Dikatakan Irwanto, Bruto akan dikenakan kepada penyewa sedangkan Netto dikenakan ke pemilik rumah sewa. “Parameternya, kalau rumahnya semi permanen kemudian penghuninya oranya tidak begitu mampu kita nanti berhitung berapa biaya operasionalnya baru bisa kita kenakan Netto seperti itu. Sedangkan kalau yang sewa orang mampu bisa kita kenakan Bruto,” jelas Irwanto.

Ditanya tentang jumlah yang akan dikenakan bruto dan netto, Irwanto mengatakan, pihaknya belum bisa menentukan karena masih menunggu data dari pemilik rumah kos.

“Kita tunggu laporan mereka datang. Kita sudah komunikasi. Nanti mereka sampaikan bruto atau netto. Contoh, di Amban ada mahasiswa yang tinggal di kos komplek elit di luar asrama. Yang tidak ini, kalau kita kenakan bruto kan kasihan, jadi dikenakan netto. Tapi kalau misalnya yang tinggal di tarif rumahnya 1 juta per bulan dikenakan bruto,” ungkap Irwanto.

Mantan Kepala Bappeda Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel) ini menambahkan, dari hasil perhitungan sementara, hasil penerikan pajak 10 persen dari rumah kos, Pemkab bisa mendapatkan pemasukan antara Rp.600 juta sampai Rp.1 miliar.

“Kita berhitung masih berdasarkan data kasar yang kita kumpul. Setelah dikoreksi bisa kurang bisa juga lebih,” tandas Irwanto. [SDR-R3]