Pasific Pos.com
Papua Tengah

Novatheo, Apresiasi Pelayanan Wadah III dan Mupel Kategorial III

NABIRE – Musyawarah pelayanan wadah kategorial III Klasis GPI Papua Jayapura Nabire patut diapresiasi. Dalam sambutannya, Pendeta Novatheo Dora Essuruw, M.Si, selaku sebagai Ketua I Sinode GPI Papua, mengatakan di tempat ini kami mendampingi sekaligus sebagai narasumber dalam setiap kegiatan baik kegiatan sidang Sinode maupun musyawarah pelayanann wadah ketegorial ke III yang ada di Nabire ini patut diapresiasi.

Persidangan klasis adalah kegiatan 5 tahunan gereja secara berstruktur setelah kami laksanakan sidang Sinode dan klasis Jayapura. Nabire kini sebagai tuan rumah yang sudah berlangsung kemarin, tanggal 18 – 28 Januari 2018.

Dan setelah persidangan Sinode dilanjutkan dengan sidang Klasis dan jemaat sidang Klasis selain badan pekerja Klasis melakukan pertanggung jawab kerja selama 5 tahun. Merealisasikan program kerja dan anggaran juga akan menyususun rencana kerja dan anggaran 5 tahun ke depan. Jadi ada laporan pertanggung jawaban yang harus ada selama 5 tahun itu periode tahun 2013 – 2018.

Setelah itu, penetapan program dan anggaran juga akan diadakan pemilihan badan pekerja klasis yang baru dipilih, ini semua pegawai organik gereja yang berkualifikasi dengan masa kerja sudah memenuhi syarat akan maju dalam babak pemilihan. Bukan saja kita menyusun program, bukan saja kita mempertanggung jawabkan kerja kita juga akan memilih badan pengurusan yang baru begitu juga dengan musyawarah pelayanan .

Musyawarah pelayanan itu, warga jemaat yang terbagi dalan wadah-wadah kategorial sesuai dengan usian dan jenis kelamin, jadi ada wadah kategorial anak dan remaja, wadah kategorial pemuda, wadah kategorial wanita, wadaah kategorial pria, wadah kategorial lanjut usia.

Mereka juga akan melakukan musyawarah pelayanan sama mengevaluasi kerja lalu menyusun rencana kerja 5 tahun kedepan terus memilih pengurus yang baru.

“Tema ini menjadi pengikat kami dalam kerja kami mau 5 tahun kedepan kami akan dipayungi dengan tema ini. Kami akan berjuang semaksimal mungkin dan sebaik-baik mungkin untuk meningkatkan sumber daya pelayan, sumber daya umat, kami juga bukan melihat diri kami. Saya sampaikan bahwa gereja tidak boleh melihat dirinya sendiri, bahwa gereja harus liat dia bahwa dimana harus melakukan sesuatu terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Misalnya, melakukan aksi-aksi sosialnya, kemasyarakatannya dan hal-hal positif, bahkan dia harus menadvokasi warga jemaatnya terhadap setiap realita kemasyarakatan kita,” urainya.

Jika keluar dari gereja jangan hanya diam-diam saja, apapun itu harus diobrolkan dan mencari solusinya, begitu keluar dari gereja lalu bertindak dengan ketidakadilan segala macam bentuk praktek-praktek yang terjadi dalam masyarakat kita.

“Oleh karena itu, saya merasa bangga, mereka yang sudah akan berakhir demisioner nanti, mereka sudah bekerja dengan baik. Sedangkan klasis yang baru dan juga jemaat yang baru mereka sudah menujukan skil mereka dengan kerja mereka dengan baik bahkan pertumbuhan umat. Umat kini menyadari mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan kehidupan bergereja, bukan saja menyatakan kehadiran tapi pertumbuhan iman juga mempunya kualitasnya sebagai bagian dari kehidupan bergereja,” katanya.

Jadi untuk para pelayan, pekerja gereja dalam hal ini pegawai organik mereka juga punya kualitas diri tinggal bagaimana kita melihat apa yang kita buat untuk gereja apa yang mau kita kerjakan kita mau supaya gereja ini semakin baik. Makin rapi dan makin tersusun dan terikat dengan baik untuk mencapai itu, kita harus menyatukan setiap potensi sumber-sumber daya dari para pekerja gereja dalam hal ini pegawai organik gereja. (ris)