Pasific Pos.com
Papua Tengah

Nasib Guru di Nabire, 3 Bulan Tanpa Gaji

NABIRE – Nasib tenaga pengajar khususnya guru SMA/SMK di Kabupaten Nabire, memprihatinkan. Pasalnya, terhitung sejak bulan Januari hingga Maret 2018 ini (tiga bulan, red) gaji mereka belum terbayarkan. Gaji guru SMA/SMK setelah statusnya dialihkan menjadi urusan Pemerintah Provinsi Papua, justeru hingga kini menjadi tidak jelas. Belum ada informasi pasti kapan gaji yang merupakan hak para guru SMA/SMK di Kabupaten Nabire ini akan dibayarkan.

Seperti dituturkan salah seorang guru SMA Bhakti Mandala, Agus Kobepa, saat bertandang ke redaksi, Selasa (6/3) kemarin. Agus Kobepa juga bernasib sama dengan guru SMA/SMK lainnya di Kabupaten Nabire ini. Mengenaskan, sudah tiga bulan lamanya belum menerima gaji. Kondisi ini tentu saja bisa berdampak buruk terhadap dunia pendidikan, jika tidak segera dicarikan solusinya.

“Saya sebagai guru SMA juga tidak mengerti kenapa sampai terjadi seperti sekarang ini. Sudah tiga bulan kami tidak menerima gaji. Kapan akan dibayarkan, kami juga tidak tahu dan juga tidak ada pihak-pihak yang memberitahu soal kepastian kapan gaji kami akan dibayarkan,” ujarnya.

Dirinya berharap, pihak terkait di tingkat kabupaten maupun di tingkat provinsi harus memberikan atensi terhadap persoalan ini. Pemindahan status dari kabupaten ke provinsi yang berbuntut terjadinya keterlambatan pembayaran gaji ini, diharapkan bisa diinformasikan secara transparan kepada para guru. Persoalan ada dimana dan sejauh mana penanganan yang sedang dan akan dilakukan, perlu disampaikan kepada umum.

“Kami harap bisa segera dibayarkan gaji yang merupakan hak kami. Kami juga bertanya-tanya, pihak yang jemput data dalam hal ini provinsi yang salah atau pihak yang antar dalam hal ini kabupaten yang salah ? Selama ini tidak ada penjelasan langsung kepada kami para guru,” tuturnya.

Ditanya soal dampak dengan belum terima gaji selama 3 bulan, Agus Kobepa mengaku terkadang harus putar otak untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari. Bahkan terkadang dirinya harus melakukan pinjaman untuk menutupi kebutuhannya selama dirinya belum menerima gaji.

“Bagi guru yang punya pekerjaan sampingan seperti misalnya punya usaha lain, tidak terlalu menjadi persoalan ketika sudah tiga bulan belum terima gaji. Tapi bagi guru seperti kami yang hanya mengandalkan gaji untuk memenuhi semua kebutuhan, tentu saja akan kalang kabut. Saya mau berangkat mengajar ke sekolah kan butuh biaya, belum lagi kebutuhan hidup lainnya. Lantas kalau gaji belum terima, kami mau menutupi untuk kebutuhan itu dari mana ?” tanyanya.

Ditanya soal aktifitasnya sebagai guru, jawab Agus Kobepa, walaupun belum terima gaji hingga tiga bulan namun dirinya masih melaksanakan tugasnya sebagai tenaga pengajar. Namun demikian, bukan berarti pihak pemerintah membiarkan persoalan ini berlarut-larut cukup lama. Persoalan ini perlu segera ada solusinya, terlebih lagi dalam waktu dekat sudah akan masuk pada pelaksanaan ujian nasional (UN). Jangan sampai belum terbayarkannya gaji guru SMA/SMK yang berkepanjangan ini akan berdampak pada pelaksanaan UN di daerah ini.

“Guru SMA/SMK Nabire yang dirugikan. Kalau ada persoalan ini berdampak pada dunia pendidikan, para pelajar yang nota bene anak-anak Nabire ini yang rugi, kita masyarakat di Nabire yang rugi. Jadi kita juga mengharapkan pemerintah daerah melalui instansi terkait untuk juga mau pro aktif untuk mendesak provinsi menyelesaikan persoalan ini,” ujarnya. (ros)