Pasific Pos.com
Papua Barat

MW Setubuhi Anak di Bawah Umur

Manokwari, TP – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Manokwari gelar sidang perdana kasus tindakan kekerasaan atau ancaman kekerasaan memaksa anak melakukan persetubuhan dengan orang lain secara berlanjut, di rumah keluarga korban Jl. Trikora Sowi IV Pantai, Manokwari, dengan terdakwa (MW) Momi Wanggai alias Nay, Kamis (5/7).

Sidang perdana yang dipimpinan Ketua Majelis Hakim, Rodesman Arianto, SH beragendakan pembacaan surat dakwaan yang dibacakan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Manokwari, Dewi Monika Pepuho, SH. Sidang tersebut berlangsung tertutup dan tertutup untuk publik.

Dalam pembacaan surat dakwaan tersebut, Pepuho menuturkan, Februari 2018, Sabtu (17/3), dan Selasa (20/3) sekitar Pukul 19.00 WIT. bertempat di rumah Irma Wanggai Jl. Trikora Sowi IV Pantai, Manokwari.

Terdakwa MW menyuruh orang memanggil saksi (IIF) Inaresa Insoraki Fonataba alias Ina (15 tahun) untuk menemui terdakwa dirumah tante terdakwa Irma Wanggai. Kemudian, lanjut JPU, saksi menemui terdakwa.

Lebih lanjut, kata JPU, pada saat itu terdakwa memaksa saksi untuk bersetubuh dengan dengan cara menyuruh saksi membuka pakaian yang dikenakannya sambil berkata.

“Ko buka ko punya baju jangan banyak tanya nanti saya pukul ko,”. Tapi, sambung JPU, saksi menolak sehingga terdakwa melepaskan pakaian saksi secara paksa. Lalu, membaringkan tubuh saksi dan saksi tidur dan melakukan persetubuhan selama 10 menit.

Tambah JPU, Sabtu (17/3) pada rumah kosong di Jl. Trokora Sowi IV Pantai, terdakwa menyuruh orang memanggil saksi untuk bertemu di rumah kosong. Kemudian, terdakwa menyuruh saksi masuk dan melakukan persetubuhan selayaknya suami istri.

Terdakwa mengatakan “Ko buka baju jangan banyak bertanya nanti saya pukul ko,” lalu terdakwa membuka pakaian saksi dengan paksa dan melakukan hubungan intim hingga mengeluarkan sperma.

Lanjut JPU, Selasa (20/3) sekita pukul 17.00 WIT bertempat di rumah kosong di Jl. Trikora Sowi IV Pantai, terdakwa menarik tangan saksi menuju rumah kosong melalui pintu belakang. Kemudian, terdakwa memaksa saksi membuka pakaian dengan ancaman akhirnya saksi menuruti dan melakukan hubungan intim layaknya suami istri. 

Walaupun, terdakwa mengetahui saksi dibawah umur (15 tahun) yang belum bisa melakukan hubungan intim, namun terdakwa tidak mengurungkan niatnya untuk melakukan hubungan intim berulang-ulang kali dengan saksi.

Terang JPU, akibat perbuatan terdakwa sesuai hasil visum pemeriksaan, colok dubur selaput dara, saksi tampak robekan lama sampai pada dasar pada jam 3, 5, 6, dan 9 serta tidak tampak perdarahan. “Dari kesimpulan pemeriksaan, selaput dara tidak utuh lagi dan tidak tampak tanda-tanda kekerasaan,” ucapnya.

Dikatakan Pepuho, perbuatan terdakwa dijerat dengan ancaman pidana Pasal 76 huruf D jo Pasal, 81 Ayat (1) UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 1 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak Menjadi undang-undang Jo Pasal 64 Ayat, tandasnya.

Usai mendengarkan pembacaan surat dakwaan, hakim menundah sidang selama 30 menit. Kemudian, sidang kembali digelar dengan agenda pemeriksaan saksi. Dimana JPU menghadirkan 2 orang saksi, saksi korban bersama orang tuanya. [FSM]