Pasific Pos.com
Sosial & Politik

MRP Bentuk Pansus Rusuh Papua

JAYAPURA – pasca kerusuhan yang terjadi di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayawijaya, Majelis Rakyat Papua (MRP) membentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk mencari solusi perdamaian di tanah Papua.

Hal itu diungkapkan Ketua MRP Timotius Murib saat ditemui wartawan usai pertemuan dengan Kapolda Papua di Mapolda, Rabu (23/10) malam

Kata Timotius, pihaknya akan berdiskusi dengan seluruh stakeholder yang ada di Papua, termasuk Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Papua untuk mencari solusi damai. Dalam kerja Pansus itu, MRP menggandeng salah satu organisasi profesi advokat Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia).

“Kami apresiasi Kapolda (Irjen Paulus Waterpauw) yang telah menerima kami didampingi bapak ibu dari Peradi untuk menyelesaikan soal-soal di tanah Papua,” tuturnya.

Timotius menegaskan agenda paling mendesak yang akan dilakukan MRP adalah terkait penahanan mahasiswa pascarasis di Surabaya yang merembet ke Papua dan Papua Barat.

“Kekerasan yang terjadi antara kami orang Papua dan teman-teman non-Papua luar biasa, sehingga kami mencari solusi agar semua orang berhak hidup damai di tanah Papua,”ujarnya.

Sementara itu, Kapolda Papua, Inspektur Jenderal Paulus Waterpauw memandang bahwa penyelesaian permasalahan di tanah Papua telah menjadi tugas penyelenggara negara, salah satunya MRP. Namun seharusnya, upaya itu dilakukan sebelum terjadinya kerusuhan di Papua.

“Menurut saya penting untuk saat ini, bahkan sebelum kejadian bila perlu harus aktif bersinergi dengan kepolisian,” katanya.

Waterpauw menuturkan, kepolisian akan bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi), sebagai aparat penegak hukum. “MRP menginginkan ada semacam solusi permasalahan di kasus-kasus sebelumnya agar Papua benar-benar menjadi tanah damai. Silahkan, namun kami berjalan sesuai dengan laporan polisi, fakta kejadian dan bukti-bukti yang kami temukan,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, aksi unjuk rasa pelajar di Kota Wamena, Papua, 23 September lalu, berujung rusuh. 33 orang meninggal dan lebih dari 70 warga mengalami luka-luka dalam kerusuhan di Wamena yang dikenal sebagai tanah Lembah Baliem.

Unjuk rasa anarkis diduga dipicu perkataan bernada rasial seorang guru terhadap siswanya di Wamena. Sementara Polda Papua mengklaim telah mengkonfirmasi bahwa isu tersebut adalah tidak benar atau hoaks. Total 19 tersangka telah ditetapkan kepolisian, delapan diantaranya berstatus mahasiswa.