Pasific Pos.com
Papua Selatan

Merauke Daerah Peradaban Nusantara

MERAUKE,ARAFURA,-Momentum halal bi halal menjadi satu hal yang snagat penting dalam upaya menjaga persatuan serta kebersamaan semua komponen bangsa yang ada di Kabupaten Merauke. Apalagi Merauke juga dikenal sebagai daerah peradaban nusantara yang di dalamnya hidup berbagai suku, agama dan etnis dari seluruh Indonesia.

“Dengan halal bi halal ini, kita perlu ingatkan satu sama lain. Daerah ini sudah dibilang sebagai daerah peradaban nusantara yang berada di ujung timur, sebagai tapal batas Republik Indonesia,”ungkap Bupati Merauke, Frederikus Gebze,SE,M.Si dalam sambutannya pada acara halal bi halal Korpri, TNI,Polri dan masyarakat di GOR Head Sai, Selasa (10/7).

Menurut Bupati, di Merauke aroma nusantaranya itu sangat ketal termasuk juga dengan kulinernya. Karena itu, semua komponen bangsa di Kabupaten Merauke harus bisa terus menjaga tatanan kehidupan yang telah dibangun selama ini. Situasi yang ada jangan sampai terkoyak oleh ulah oknum-oknum yang menghendaki daerah ini menjadi tidak aman serta ingin merusak rasa persaudaraan warga Merauke.

Khusus kepada aparatur pemerintah, Bupati menekankan supaya bisa memaknai keberadaannya dalam penyelenggaraan pemerintahan. “Apakah halal bi halal ini setelah kita maaf memaafkan, kunci pertama kita memberikan pelayanan kepada orang lain seperti kita dilayani. Kedua, apakah nanti kita kembali ke sikap kefitrian kita?,”ujar Bupati.

Ketua Panitia Halal Bi Halal, Edi Santoso, mengatakan tujuan dari kegiatan halal bi halal ini adalah untuk saling memaafkan antara umat beragama di Kabupaten Merauke. Meningkatkan tali silaturahmi antar sesama umat Islam di Kabupaten Merauke, serta meningkatkan kerukunan serta solidaritas antar umay beragama yang ada di Kabupaten Merauke.

Sementara itu, Ustad Samsul Qomar,S.Pdi dalam hikmah halal bi halal mengungkapkan halal bi halal hanya ada di Indonesia dan kata halal bi halal dicetuskan oleh ulama Indonesia. Makna dari halal bi halal adalah agar kita saling merangkul dan saling bersanding. Khusus untuk umat Islam, selama satu bulan penuh di Bulan Ramadhan telah ‘ditempa’ bantinya termasuk dididik agar peka terhadap persoalan sosial.

Sebagai contoh, setiap mau maghrib memberikan hidangan bagi orang yang mau makan. Begitu pula dari berbagai kalangan juga ikut memberikan, yang membuktikan bahwa begitu luar biasa kecerdasan sosial yang dilahirkan dari puasa. Karena itu, kecerdasan sosial itu hanya tumbuh dan berkembang selama satu bulan tetapi harus terus dilakukan selama dua belas bulan.