Pasific Pos.com
Kriminal

Malang, Bocah Delapan Tahun Tewas Dianiaya Ibu Kandungnya

Jayapura,– kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur kembali terjadi, dimana Clarirtha Tehila Agatha Cristie Tana, bocah yang masih berusia delapan tahun, tewas diduga akibat kekerasan yang dilakukan oleh pelaku RW alis O (31) yang tidak lain merupakan ibu kandungnya sendiri.

Clarirtha Tehila Agatha Cristie Tana, meninggal dunia, Jumat (19/1/19) lalu, setelah mendapatkan perawatan medis rumah sakit umum daerah Jayawijaya selama dua hari.

Dari data yang didapat di bidang Humas Polda Papua, menyebutkan dari keterangan saksi, Michelle Angellin Manggaprow yang merupakan saudara korban, mengungkapkan pada bulan September 2017 lalu, saksi mendengar ibunya (pelaku) RW alias O memarahi dan menampar korban selanjutnya menyuruh korban ke belakang rumah dan menyiram korban dengan air dingin (air hujan), lalu mengunci korban di belakang rumah dari pukul 16.00 WIT, sampai dengan 18.30 WIT, dimana kejadian tersebut dilakukan berulang kali sejak bulan September sampai dengan November 2017.

Tidah hanya sampai di situ, korban mendapatkan kekerasan dari ibunya (pelaku), lanjut Saksi, Pada tanggal 20 Desember 2017 lalu, dimana saksi mendengar perkelahian mulut antara Ibu (pelaku) dan Bapak korban, tidak lama kemudian pelaku memanggil korban dengan nada yang kasar dan memarahi korban sehingga korban menangis, saat saksi hendak mengetahui apa yang terjadi, saksi melihat korban sudah tergeletak dan pelaku menginjak bagian dada dan perut korban sambil menyuruh korban untuk segera berdiri, pada saat berdiri korban langsung dipukuli dan disiram dengan menggunakan air panas menggunakan mangkok plastik sebanyak 10 kali, selanjutnya korban disuruh untuk keluar ke belakang rumah dari pukul 22.00 wit sampai keesokan paginya.

Lanjut Michelle, tiga hari semenjak kejadian tersebut, korban sering mengeluh kepada saksi bahwa dada korban sakit dan kepala korban panas.

“kondisi korban semakin lemas dan tidak mampu makan sendiri sehingga saksi menyuapi korban namun pada saat berdiri dari kursi, korban langsung terjatuh dengan posisi tengkurap dimana hidung dan mulut korban mengeluarkan darah,” tuturnya.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol AM.Kamal, mengungkapkan dugaan kasus kekerasan yang menyebabkan anak di bawah umur tewas kini sudah di tangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak, Sat Reskrim Polres Jayawijaya.

” Jenazah korban rencana akan di kirim di Jayapura untuk di otopsi agar mengetahui penyebab kematian korban, sementara rencananya akan dilaksanakan pemeriksaan psikiater, kejiwaan terhadap pelaku,” ungkap Kamal, Minggu (21/1/18) sore.

Lanjut Kamal, kasus ini pertama kali dilaporkan oleh ayah kandung korban karena curiga dengan kondisi tubuh korban yang penuh dengan luka bekas kekerasan.

“Ayah dan ibu kandung korban sudah bercerai, dimana saat mendapati informasi korban masuk rumah sakit, saksi langsung berangkat ke Wamena, dan saat berada di rumah sakit melihat korban, saksi curiga fisik korban penuh dengan luka bekas aniaya,” ujar Kamal.

Kamal menambahkan, kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur ini, tindakan kepolisian yang dilakukan yakni menerima laporan, mengamankan pelaku, membuat laporan polisi, melakukan pemeriksaan terhadap para saksi, melakukan koordinasi dengan pihak keluarga korban untuk dilakukan otopsi, melakukan penyelidikan dan penyidikan.

“Sementara kasus tersebut dalam penanganan Unit PPA Sat Reskrim Polres Jayawijaya,” tegasnya.