Pasific Pos.com
Papua Barat

Kepala SD Inpres Mansinam Akui, 2 Muridnya di Pukuli Guru

Manokwari, TP – Kepala Sekolah Dasar (SD) Inpres 20 Pulau Mansinam, Benyamin Asaribab membenarkan adanya kejadian pemukulan yang dilakukan oknum guru SR terhadap dua muridnya yakni ER dan GR, pada Senin (5/3) sekitar pukul 10.00 WIT, saat jam sekolah masih berlangsung.

Benyamin Asaribab menjelaskan kejadian itu terjadi saat guru SR sedang bertugas sebagai guru piket, dan melakukan pengecekan kerapian murid.

“Waktu itu guru SR memberikan peringatan kepada para murid tetapi dengan cara memukul, sehingga tidak disengaja murid yang bersangkutan (ER) luka dan mengeluarkan darah,” kata Benyamin Asaribab kepada Tabura Pos di Polres Manokwari, Jumat (9/3).

Lanjut dia, dirinya, bahkan semua guru tahu bahwa anak dilindungi oleh undang-undang perlindungan anak.

Benyamin Asaribab mengungkapkan, tugas guru adalah mengajar dan mendidik, sehingga dapat dikatakan bahwa apa yang menimpa ER dan GR merupakan bagian dari didikan, hanya saja terdapat sedikit kelalaian.

“Saya kira kejadian ini yang terakhir kali terjadi di SD) Inpres 20 Pulau Mansinam,” ujar Benyamin Asaribab.

Menurut dia, kedepan pihaknya akan lebih gencar melakukan sosialisasi tentang perlindungan anak kepada para orang tua dan masyarakat, dengan melibatkan pihak Kepolisian serta Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak, guna mengantisipasi terjadinya kejadian serupa.

Dicecar apakah pihak sekolah akan memberikan sanksi kepada guru SR, Benyamin Asaribab mengaku SR tidak akan mendapatkan sanksi, karena yang bersangkutan merupakan guru kelas 6 yang sedang mempersiapkan ujian nasional.
Sementara itu, Kasat Binmas Polres Manokwari, Iptu Subiyanto mengaku terkait kasus pemukulan yang dilakukan oknum guru terhadap murid, telah diselesaikan secara kekeluargaan.

“Proses ini atas permintaan pihak keluarga korban, supaya kasusnya diselesaikan secara kekeluargaan karena kedua belah pihak merupakan keluarga dekat,” ungkap Kasat Binmas.

Lanjut dia, pihak Kepolisian juga menghargai hukum adat yang berlaku di Papua, sehingga apa yang menjadi permintaan pihak keluarga selalu dipertimbangkan secara baik, asalkan tidak merugikan pihak mana pun.

Kasat Binmas menjelaskan, dalam proses penyelesaian pihak korban memberikan maaf kepada pelaku atas apa yang terjadi, yang disepakati dalam sebuah surat pernyataan.

Dia pun berharap, agar pihak sekolah terus melakukan pengawasan terhadap guru dan murid agar hal serupa tidak lagi terjadi.

“Orang tua juga harus berperan penting, selalu mengawasi anaknya, dan memberikan kegiatan yang positif dan bersifat mendidik kepada anaknya,” ajak dia.

Untuk itu, menurut Kasat Binmas, kedepan peran anggota babhinkamtibmas bukan hanya mengantar jemput anak sekolah di Pulau lemon dan Pulau Mansinam, melainkan mereka akan dilibatkan sebagai guru pembinaan karakter.

Sedangkan perwakilan pihak korban, Ketua Dewan Adat Suku Doreri, Geirus Rumfabe membenarkan jika kejadian pemukulan yang dilakukan oknum guru terhadap kedua muridnya telah diselesaikan secara adat.

“Secara kekeluargaan kita berdamai antara kedua belah pihak, pihak pelaku kita minta buat pernyataan dan penyelesaian secara adat,” ungkap Geirus Rumfabe.

Menurut dia, jika pihak keluarga menginginkan guru SR diproses hukum bisa saja, tetapi karena kedua belah pihak memiliki hubungan keluarga dekat, maka ada baiknya jika proses ini diselesaikan secara kekeluargaan. [BOM]