Pasific Pos.com
Papua Barat

Kapolda Tak Kenal Pemilik Perusahaan yang Diduga Jadi Penadah BBM Ilegal

Manokwari, TP – Perusahaan, PT PL diduga menerima atau menjadi penadah bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar bersubsidi dari tersangka AM dan J yang diamankan anggota Ditreskrimsus Polda Papua Barat, Senin (26/2).

Mengenai atensinya untuk menuntaskan kasus BBM ilegal yang diungkap anggota Ditreskrimsus, Kapolda Papua Barat, Brigjen Pol. Rudolf A. Rodja mengaku belum mengetahui siapa pemilik PT PL yang diduga menjadi penadah BBM ilegal dari tersangka AM dan J.

“Saya ndak kenal orangnya. Saya malah belum dengar namanya,” kata Rodja yang dikonfirmasi para wartawan tentang pengungkapan kasus BBM ilegal di Sekretariat KNPI Provinsi Papua Barat, Rabu (28/2).

Dikatakan orang nomor 1 di jajaran Polda Papua Barat ini, yang diketahuinya hanya kedua tersangka, yakni AM dan J yang dilaporkan menjual BBM ilegal.

Dicecar tentang atensinya jika PT PL terbukti bersalah, Kapolda menegaskan, nanti akan dilihat keterlibatannya sejauhmana, karena di luar sana juga masih banyak pengecer.

Secara terpisah, Direskrimsus Polda Papua Barat, AKBP Budi Santoso mengatakan, pengungkapan kasus BBM ilegal, salah satunya untuk menjawab keluhan masyarakat selama ini.

Ditegaskannya, BBM ini merupakan BBM bersubsidi yang seharusnya diperuntukkan terhadap masyarakat tidak mampu, bahkan sanksinya pun cukup berat terhadap penyalahgunaan BBM bersubsidi.

“Memang agak ironis, kalau kita lewat di depan SPBU itu, antreannya panjang, terus banyak pengecer yang antre. Menurut kacamata intelejen, itu perlu didalami, ada apa,” kata Santoso kepada Tabura Pos di Polda Papua Barat, kemarin.
Mengenai kasus ini, Santoso mengaku, proses penyelidikan sementara berjalan, bahkan pihaknya akan terus mengembangkan pihak-pihak mana yang terlibat sebagai penadah.

Meski begitu, ia menilai, pasti ada kerja sama orang dalam, pihak SPBU dengan para tersangka. Ditanya berapa total BBM yang disita saat penggerebekan di Jl. Drs. Esau Sesa, Manokwari, Direskrimsus mengaku sekitar 700 liter, dimana 500 liter berada di mobil tangki, sedangkan 200 liter terdapat di drum plastik.

Ditanya apakah kedua tersangka melakukan hal tersebut tanpa ada pemodal yang berdiri di belakang mereka, Santoso menegaskan, J hanya bertindak sebagai sopir, sedangkan AM merupakan penyandang dana.

Dicecar apakah dalam kasus ini penadah juga akan dijatuhi hukuman, Direskrimsus mengatakan, masih di dalami. “Apakah dari proses jual beli PL memang bekerja sama atau memang di dalam perusahaan ada oknum-oknum yang hanya memanfaatkan keuntungan,” kata Direskrimsus.

Menurutnya, jika terbukti mereka memanfaatkan jasa yang ditawarkan para tersangka, maka mereka akan dikenakan pasal ikut serta. [BOM-R1]