Atlet Papua Demo, Ajukan 8 Tuntutan | Pasific Pos.com

| 29 January, 2020 |

Atlet Papua Demo, Ajukan 8 Tuntutan

Olahraga Penulis  Jumat, 13 Desember 2019 13:35 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Jayapura,- Atlet Papua yang dipersiapkan untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XX tahun 2020, melakukan aksi demo di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua, Jumat (13/12/2019) pagi.

Aspirasi atlet dari cabang olahraga, Pabsi, atletik, sepak bola, futsal, taekwondo, pencat silat dan gulat diterima Ketua DPR Papua sementara Jhon Banua Rouw didamping anggota DPRP Paskalis Letsoin.

Koordinator aksi demo Gatot menyatakan, ada delapan tuntutan kepada KONI Papua, pertama, masalah tempat latihan, kedua, perlengkapan dan peralatan latihan, ketiga, suplemen dan obat-obatan, keempat, kelima, uang saku atlet dan pelatih, keenam, kejelasan bonus atlet pelatih dan asisten.

Kemudian, ketujuh tunjangan hari raya, dan tuntutan kedepan, yakni perlu ada penjelasan dari KONI terkait penjelasan atlet yang dikontrak dan atlet di Papua.

Menurut Gatot, atlet Papuasemua punya misi yang sama dengan atlet kontrak untuk meraih medali emas, tapi kenapa atlet kontrak mendapat fasilitas yang lebih baik dari atlet Papua.

"kami butuh transparan dari KONI Papua dan perlu perlu ada evaluasi, karena kami sudah lima bulan jalani pemusatan latihan, belum ada evaluasi," tegas atlet  Binaraga Papua itu.

Gatot mengatakan, atlet Papua juga butuh perhatian, jangan membeda-bedakan atlet kontrak dan atlet yang ada di Papua. "kami semua atlet sama, tujuan kami meraih medali emas untuk Papua pada PON XX/2020 di Papua," urainya.

Hal senada disampaikan atlet tolak Finsen Sroyer bahwa kesiapan PON 2020 kacaua balau, karna tempat latihan di Buper Waena dilarang oleh pihak IPDN.

"kami tidak bisa latihan, karena tidak diberikan ijin oleh pihak IPDN, kami kecewa uang saku yang diberikan pun kami pakai biaya taksi pergi  latihan, termasuk penginapan juga satu kamar 4 orang," bebernya.

Selain itu, banyak atlet yang sakit, datang ke klinic KONI kemudian dirujuk ke RS DOK II Jayapura tapi ditolak.

Penina Nanlohi pelatih Tinju Papua, membeberkan, jika dirinya dan lima atlet tunju dipanggil KONI Papua sejak bulan Januari ke Jayapura.

Namun, Penina pertanyakan sikap KONI maupun Pertina, jika atletnya tidak pakai untuk membela Papua di PON, kenapa tidak ada penjelasan, seperti anak-anak asli Papua tidak dihargai, sementara atlet dikontrak dibuat istimewa, padahal, jika dilakukan uji tanding, belum tentu atlet kontrak lebih baik dari atlet Papua.

"atlet dari Merauke orang asli Papua, tapi Pertina dan KONI lebih pilih atlet kontrak, maka kami akan pulang ke Merauke," ucapnya.

lanjutnya, selama berada di Jayapura, para atketnya tinggal di Wisma Soccer Kotaraja, kemudian dipindahkan ke salah satu wisma di Padan Bulan Waena, Kota Jayapura.

"kami hanya dapat uang saku untuk pelatih Rp 2 juta per bulan dan atlet, Rp 1,5 juta," pungkasnya.

Dibaca 222 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.