Disperindag Timika OTT Truck BBM di Kilo 8 | Pasific Pos.com

| 11 December, 2019 |

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika Bernadinus Songbes saat menunjukan lokasi penyedotan BBM jenis Solar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika Bernadinus Songbes saat menunjukan lokasi penyedotan BBM jenis Solar

Disperindag Timika OTT Truck BBM di Kilo 8

Kriminal Penulis  Jumat, 15 November 2019 18:22 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Timika, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika melakukan penggerbekan di sebuah lokasi tepatnya di belakang sebuah bengkel di Kilometer 7 jalan poros Timika Mapurujaya, Jumat (15/11) sekira pukul 12.45 WIT setelah melakukan pemantauan selama 4 bulan.

Dari data yang dihimpun, penggerbekan dimulai sejak pagi, yang mana pegawai Disperindag yang dipimpin langsung oleh Kepala Disperindag Bernadinus Songbes menempatkan beberapa pegawainya untuk melakukan pemantauan di beberapa lokasi, baik di lokasi dekat jobber pertamina yang berlokasi di Pomako Distrik Mimika Timur, kilometer 11, kilometer 10 dan sekitar TKP.

Pemantauan yang dilakukan mulai dari pagi sekora pukul 09.00 Wit, akhirnya membuahkan hasil. Truck berwarna biru jenis Fuso dengan nomor polisi PA 9003 MQ yang mengangkut BBM jenis solar dengan kapasitas 8000 liter untuk didistribusikan ke PLN Timika yang dikendarai oleh (DS) saat tiba di TKP untuk melakukan penyedotan dan langsung dibuntuti oleh para pegawai.

Dari tangan penyedot solar. Pihak Disperindag menyita dua jerigen berukuran 25 liter yang berisi solar, sementara itu saat dilakukan pengecekan disekitar lokasi ditemukan tanki penampung solar, alat penyedot, puluhan jerigen, dan selang, serta segel.

Kepala Disperindag Kabupaten Mimika Bernadinus Songbes ketika ditemui di lokasi penggerbekan mengatakan, penimbunan BBM hingga menyebabkan kelangkaan di Mimika sudah menjadi atensi dari Pemkab Mimika melalui Disperindag dalam 4 bulan terakhir sehingga dilakukan penelusuran dan pemantauan oleh pihak Disperindag.

Ia menjelaskan, berdasarkan bukti yang dimiliki oleh Disperindag, sebanyak 3 perusahaan yang mendistribusikan solar untuk PLN diindikasi sering melakukan penyedotan. Penyedotan yang dilakukan per tanki kisaran 2 hingga 8 jerigen dengan ukuran bervariasi 25 dan 30 liter disesuaikan dengan besarnya baik tanki berukuran baik 8000 liter maupun 16000 liter. usai penyedotan selanjutnya dilakukan transaksi pembayaran berdasarkan banyaknya solar yang disedot.

Praktek penyedotan dan penimbunan solar membuat negara dirugikan. Artinya, jika truck pengangkut yang sama menyangkut BBM sehari dua kali. Berapa banyak solar yang disedot apabila dikalikan perminggu, perbulan.

"Kami sudah lakukan pemantauan sejak bulan Agustus kemarin," kata Songbes.

Ia mengakui, terdapat 3 perusahaan pendistribusian BBM jenis solar ke PLN, diantaranya, PT Golden Buker, PT Putra Kali Mas, PT Lintas Samudra, setelah mengantongi beberapa dokumen penyedotan dan transaksi dari perusahaan-perusahaan tersebut.

"Kita telah kantongi dokumen dari ketiga perusahaan tersebut antara lain Dokumen sudah kami kantongi," akunya.

Kendati demikian, pihaknya akan mempertanyakan proses pendistribusian solar dari Jobber pertamina ke PLN. Yang mana setiap pendistribusian barang negara harus disegel dan segelnya akan dibuka setelah sampai di tempat tujuan, namun saat digrebek ditemukan puluhan segel cadangan didalam truck tersebut.

Selain itu, pihaknya mempertanyakan fungsi pengawasan dari PLN yang menerima pendistribusian tersebut namun tidak mencocokkan kuota yang masuk dengan dokumen yang diterima.

"Kita akan koordinasi dengan jobber dan PLN untuk distribusi ini. Karena banyak yang janggal," ungkapnya.

Truck pengangkut solar beserta supir dan barang bukti selanjutnya di giring ke Sentra Pelayanan untuk proses hukum.

Sementara itu, Unit Manager Communication, Relations & CSR Marketing Operation Region VIII Maluku-Papua PT Pertamina (Persero) Brasto Galih Nugroho mengapresiasi penyelidikan dan penyidikan yang telah dilakukan oleh Disperindag Kabupaten Mimika terkait dugaan penggelapan BBM tersebut, terlepas dari sistem franco

Ia menjelaskan, untuk penyaluran ke SPBU reguler di Mimika, sistem yang digunakan adalah franco. Pertamina sebagai penjual memastikan barang sampai di tujuan dengan cara berkontrak dengan transportir.

"Kami apresiasi pengungkapan ini," kata Brasto Galih Nugroho.

Ia mengungkapkan, penyaluran dengan sistem franco ke SPBU reguler di Mimika, selain segel, truk tangki juga dilengkapi dengan GPS untuk memonitor truk tangki tersebut. Apabila terjadi losses dalam pengiriman, Pertamina bertanggung jawab pada sistem franco.

Sementara itu, untuk penyaluran BBM ke PLN, sistem yang digunakan adalah loco. Dengan sistem ini, pembeli BBM memilih transportirnya dan pembeli berkontrak dengan transportir. Losses saat pengiriman ditanggung oleh pembeli.

"Setiap pendistribusian kami segel dan dilengkapi GPS, dan ini menjadi tanggung jawab franco," ungkapnya. (Ricky).

Dibaca 90 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.