Hengky Jokhu Jadi Pemateri di Kegiatan Bursa Inovasi Desa PID | Pasific Pos.com

| 10 December, 2019 |

Fasilitator Pengembangan Inovasi Desa yang juga Ketua LSM Papua Bangkit, Ir Hengky Jokhu saat memberikan materi pada acara bursa inovasi desa. Fasilitator Pengembangan Inovasi Desa yang juga Ketua LSM Papua Bangkit, Ir Hengky Jokhu saat memberikan materi pada acara bursa inovasi desa.

Hengky Jokhu Jadi Pemateri di Kegiatan Bursa Inovasi Desa PID

Kabupaten Jayapura Penulis  Rabu, 13 November 2019 20:44 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

SENTANI- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura menggelar kegiatan Bursa Inovasi Desa (BID) Program Inovasi Desa (PID) 2019, di GSG Megantara AURI, Lanud Silas Papare, Kemiri Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa (12/11) siang.

Kegiatan itu dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh salah satu pemateri yaitu, Ketua LSM Papua Bangkit, Ir. Hengky Jokhu.

Ir. Hengky Jokhu berharap dari kegiatan ini dapat merangsang seluruh kampung agar bisa berinovasi, berimprovisasi dan berkreativitas membangun kampung, sehingga kampung (yang seringkali orang katakan Papua yang kaya ini) sepanjang hidupnya tidak bergantung kepada dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun dana Otonomi Khusus (Otsus).

“Akan tetapi, harus melihat peluang dan potensi yang ada di kampungnya, kemudian dengan inovasi-inovasi tersebut dapat mengembangkan potensi itu menjadi sebuah manfaat di kampungnya yang memberikan keuntungan secara ekonomi dalam membangun kampung ke masa depan yang lebih baik. Itulah tujuan dari kegiatan Bursa Inovasi Desa atau Program Inovasi Desa 2019 ini,” katanya.

Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Jayapura Giri Wijayantoro itu, juga dihadiri Kepala DPMPK Kabupaten Jayapura yang juga Selaku Koordinator Tim Inovasi Kabupaten (TIK) Elisa Yarusabra, Sekretaris Tim Inovasi Kabupaten Bernard Urbinas, sejumlah Kepala OPD di lingkup Pemkab Jayapura, Kepala Distrik dan Kepala Kampung serta aparat kampung lainnya.

Searah dengan kebijakan pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) RI, kata Hengky Jokhu, setiap kampung atau desa itu minimal harus memiliki satu produk unggulan. Yakni, One Village, One Product (OVOP).

“Untuk Kabupaten Jayapura menuju 2020, harus ada semacam sebuah ikon atau satu desa (kampung) itu harus memiliki satu produk unggulan. Kalau suatu desa atau kampung itu tidak ada produk unggulannya, apa hasilnya atau jadinya, maka sumberdaya manusia yang tercipta tidak akan memberikan nilai tambah bagi daerahnya, bagi kampungnya atau desanya,” katanya.

Contohnya di Papua, mengapa orang berlomba-lomba menjadi pegawai negeri, berlomba menjadi anggota DPR, anggota MRP, kemudian berlomba menjadi kepala daerah seperti walikota maupun bupati.

“Karena miskin inovasi, itu bahasa sederhananya seperti begitu. Terus populasi penduduk di Papua itu berapa sih, kan tidak sampai tiga juta. Lalu kenapa orang berlomba hanya mau merebut menjadi pegawai negeri, menjadi anggota DPR, kemudian tidak ada (lolos) maka mereka palang kantor pemerintah atau kantor DPR-nya yang menuntut harus ada orang asli. Padahal di satu sisi kita bilang, bahwa Papua ini kaya. Nah, kalau kaya potensinya lalu tidak bisa di kembangkan, mau hasilkan apa,” imbuhnya.

“Jadi, inovasi itu penting sekali untuk meminimalisasi semangat generasi atau angkatan kerja yang setiap hari berpikir untuk menjadi pegawai negeri, yang setiap hari berpikir menjadi anggota DPR maupun anggota MRP, yang setiap hari berpikir menjadi bupati atau walikota,” lanjut Hengky.

Kalau semua anak-anak kampung atau semua orang berpendidikan yang ada di kampung itu memiliki perkebunan atau peternakan sendiri, seperti memiliki peternakan ayam sendiri, budidaya ikannya sendiri, memiliki kebun vanili atau Kakao, sehingga mereka tidak punya waktu untuk berpikir menjadi pegawai negeri atau anggota DPR lagi.

“Maka waktu mereka akan habis tersita untuk urus usaha-usaha seperti usaha pertanian maupun perkebunan. Demikian halnya di daerah-daerah urban atau wilayah perkotaan, misalnya orang jual pasir atau jual batu, kalau dengan BUMKam mereka membuat usaha atau menjual pecah batu, maka jelas keuntungannya besar, apalagi teknologinya murah, bahkan bisa juga di kelola oleh anak yang tidak pernah injak sekolah atau mengenyam bangku pendidikan,” bebernya.

Kendala utamanya, menurut Hengky, masyarakat Papua miskin inovasi, miskin kreativitas, kemudian juga miskin untuk bersaing.

“Jadi sudah malas bersaing, ditambah lagi miskin kreativitas. Pada akhirnya semuanya berharap menjadi pegawai negeri. Karena dengan menjadi pegawai negeri, ya ujung-ujungnya pemerintah yang pelihara atau biayai. Maka itu, kami dari tim fasilitator mendorong agar setiap kampung itu, mempunyai generasi yang telah berpendidikan itu kembali ke kampung untuk membangun kampung,” tuturnya.

Semua inovasi ini dapat berjalan, apabila pemerintah daerahnya bersama legislatornya memiliki keseragaman berpikir untuk memajukan desa atau kampung.

“Kalau tidak ada keseragaman berpikir, maka semua inovasi ini tidak akan pernah berjalan,”singkat Hengky mengakhiri materinya.

Dibaca 48 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.