Legsilator Sarankan, Dalam Diskusi Komunitas Juga Perlu Libatkan KNPB | Pasific Pos.com

| 20 October, 2019 |

Anggota DPR Papua, Yonas Alfons Nussy didampingi Akademisi Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Marianus Yaung saat memberikan keterangan pers usai mengikuti diskusi komunitas di Hotel Grand Abe, akhir pekan kemarin (Foto Tiara). Anggota DPR Papua, Yonas Alfons Nussy didampingi Akademisi Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Marianus Yaung saat memberikan keterangan pers usai mengikuti diskusi komunitas di Hotel Grand Abe, akhir pekan kemarin (Foto Tiara).

Legsilator Sarankan, Dalam Diskusi Komunitas Juga Perlu Libatkan KNPB

Sosial & Politik Penulis  Senin, 07 Oktober 2019 12:36 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

 

Jayapura : Anggota Komisi I DPR Papua yang membidangi, Pemerintahan, Politik, Hukum dan HAM, Yonas Alfons Nussy menghadiri diskusi komunitas yang digelar Koalisi Masyarakat Sipil Papua untuk Semua (Ko Masi Papua) dalam upaya menghentikan siklus kekerasan dan mencari jalan damai di Tanah Papua, di Hotel Grand Abe, akhir pekan kemarin.

Bahkan, legislator Papua itu sangat mengapresiasi lantaran kegiatan tersebut dapat dilaksanakan dengan lancar dan sukses.

Usai mengikuti diskusi komunitas itu, Yonas Nussy didampingi Akademisi Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Marianus Yaung mengatakan,
diskusi komunitas ini menghadirkan semua komponen, termasuk paguyuban-paguyuban yang ada untuk mewakili komunitas masyarakat sipil yang ada di Kota Jayapura, Papua.

“Ini memberikan referensi bagi kita bahwa kita punya keinginan bagaimana menuju kehidupan masyarakat sipil yang damai di Tanah Papua,” kata Yonas Nussy.

Apalagi, kata Yonas Nussy, dalam diskusi untuk mencari jalan damai di Tanah Papua ini, juga melahirkan rekomendasi dari berbagai elemen masyarakat, organisasi massa, paguyuban dan akademisi, mahasiswa dan lainnya, yang berujung semua agar masyarakat membentuk kehidupan kedamaian dari diri atau komunitas.

Namun ia berharap pertemuan itu, terus berlanjut dan nantinya akan melibatkan pihak pemerintah.

“Ini sesuatu yang luar biasa, selama ini pertemuan seperti ini yang kita tunggu-tunggu untuk dilakukan,” ungkapnya.

Sebab, lanjut Yonas Nussy, yang bisa menyelesaikan persoalan ini, hanya masyarakat yang ada di Bumi Cenderawasih ini.

Untuk itu, ia menyarankan, jika dalam diskusi komunitas berikutnya, perlu juga melibatkan stakeholder yang lain, termasuk yang berseberangan bicara ideologi Papua merdeka.

“Termasuk KNPB, saya rekomendasikan organisasi-organisasi ini dihadirkan. Kita hadir sama-sama, ini dari kita untuk kita.. Bagaimana menciptakan rasa nyaman dan damai untuk kita hadirkan sama-sama. Kita tidak bisa pungkiri, meniadakan organisasi atau komunitas yang ada di Papua, itu tidak bisa, sehingga harusnya mereka dihadirkan juga, " ujar Nussy.

Untuk itu, Yonas Nussy merekomendasikan agar kelompok berseberangan ini selalu dihadirkan dalam diskusi komunitas dalam upaya menuju damai.

“Apapun caranya, kita punya tujuan itu untuk damai. Saya sangat optimis kegiatan - kegiatan ini akan terjadi di kabupaten/kota di Papua dan dimulai dari Kota Jayapura sebagai contoh bagaimana membuat perekatan diantara kita untuk menuju kedamaian yang hakiki,” tandasnya.

Sementara itu, senada dikatakan Akademisi Uncen Jayapura, Marianus Young, jika ia mengapresiasi pertemuan atau diskusi komunitas menuju damai di Tanah Papua.

“Saya berharap ini menjadi pesan yang kuat untuk pemerintah pusat dan juga buat para aktor konflik di Papua yang mencoba menggiring konflik horizontal. Ini pesan buat mereka bahwa tidak akan terjadi konflik horizontal di atas Tanah Papua,” tandas Marianus Young.

Melalui diskusi itu, tegas Marianus Young, tidak akan memberikan ruang bagi aktor konflik di Papua untuk mengambil kesempatan dalam gejolak politik di Papua saat ini.

“Diskusi solusi damai di Tanah Papua yang digagas Sa Masi Papua itu, sebagai simbol bahwa kami masih bisa menyelesaikan persoalan di atas tanah kami sendiri, dengan berdasarkan kearifan - kearifan lokal yang dimiliki orang Papua maupun yang saudara non Papua miliki. Kami coba untuk mencari titik temu,” tuturnya.

Menurutnya, jika pikiran dan ide tentang perdamaian yang belum bertemu itu akan selalu menghasilkan konflik, tapi ide dan pikiran kearifan-kearifan lokal di masing-masing paguyuban atau wilayah, itu memiliki kearifan lokal dan penyelesaian konflik, sehingga itu bisa dipertemukan itu, untuk menjaga dan merawat perdamaian di atas tanah ini.

Untuk itu, pihaknya akan mendorong ke depan agar forum koalisi masyarakat sipil ini menjadi Early Warning System berbasis komunitas.

“Sebab, kami sadari bahwa kerusuhan yang terjadi di Kota Jayapura, Timika dan Wamena serta daerah lain, itu karena diduga lemahnya intelijen negara. Kami mencoba membantu negara dalam memperkuat intelijen, dengan menjadikan forum ini menjadi tempat kami untuk cepat mendeteksi isu-isu yang berpotensi menjadikan konflik horizontal di antara kita, sehingga disiapkan strateginya menyelesaikan konflik itu. Jadi yang bisa diselesaikan komunitas masyarakat sipil ya itu bisa ditangani, tapi jika penyelesaian melalui penegakan hukum, ya itu domainnya penegak hukum,” jelasnya.

Selain itu kata Marianus Yaung, jika forum diskusi masyarakat sipil itu merupakan bentuk bagaimana orang Papua bangkit untuk menyelesaikan masalah sendiri, tanpa perlu campur tangan Jakarta, tanpa perlu campur tangan pemerintah pusat, bahkan campur tangan asing pun bisa menyelesaikan masalah itu.

“Forum yang terbentuk hari ini, itu pesan yang kuat kepada Jakarta bahwa kami orang Papua bisa,” tandasnya.

Namun Marianus Yaung sependapat, jika dalam pertemuan ke depan melibatkan mereka yang berseberangan, karena forum itu akan terus berkembang untuk menjangkau para pihak yang selama ini berseberangan dengan pemerintah, bahkan termasuk kelompok pergerakan perjuangan, untuk diakomodir dalam forum ini.

“Biarlah forum ini menjadi kendaraan sebuah perdamaian. Jadi, jangan alergi dengan kelompok yang berseberangan. Kami di Papua punya kearifan lokal yakni kekeluargaan. Jadi kami juga punya cara untuk menyelesaikan konflik kami,” ujarnya.

Apalagi kata Marianus, masalah bunuh membunuh di Papua itu, pernah terjadi sebelum Injil masuk Papua, tapi mereka bisa menyelesaikan konflik itu dengan kearifan-kearifan lokal yang dimiliki.

Sehingga sambungnya, kearifan lokal itu harus dihidupkan kembali karena sangat relevan, termasuk mempertemukan kearifan lokal yang dimiliki paguyuban nusantara yang ada di Papua, untuk merumuskan langkah-langkah kongkrit dalam mencegah terjadinya konflik horizontal di Papua, sekaligus merawat jalan kedamaian yang dirintis bersama di atas Tanah Papua.

“Saya pikir ukuran Papua damai itu dimulai dari Kota Jayapura, karena sesuatu yang positif akan menjalar dan kami akan sebarkan pesan perdamaian ke Papua melalui Kota ini, melalui forum ini,” tekannya. (TIARA)

Dibaca 35 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX