Tim DVI Polda Papua Identifikasi Dua Korban Pesawat Twin Otter | Pasific Pos.com

| 18 January, 2020 |

Tim DVI Polda Papua didampingi Kapolres Mimika menggelar konferensi pers Tim DVI Polda Papua didampingi Kapolres Mimika menggelar konferensi pers

Tim DVI Polda Papua Identifikasi Dua Korban Pesawat Twin Otter

Lintas Daerah Penulis  Kamis, 26 September 2019 21:00 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Timika, Tim Disaster Victim Identifacation (DVI) dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Papua, Rabu (25/9) berhasil mengidentifikasi dua korban kecelakaan pesawat Twin Otter DHC 6-400 dengan nomor registrasi PK-CDC setelah melakukan identifikasi bagian tubuh kurang lebih 6 jam di RSUD Mimika yang dipimpin langsung oleh Kombes Pol. drg. Agustinus Mulyanto Hardi.

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabid Dokkes) Polda Papua Kombes Pol. drg. Agustinus Mulyanto Hardi T yang juga selaku Ketua Tim DVI mengatakan, sebanyak 3 bagian tubuh yang telah diidentifikasi merupakan Bharada Hadi Utomo dan Pilot Yudra setelah mencocokan data pembanding dengan potongan tubuh yang ada.

Yang mana bagian tubuh yang berada di kantong jenazah 0003 dan 0004 diidentifikasi merupakan Bharada Hadi Utomo yang merupakan anggota resimen dua pelopor Polri, sedangkan bagian tubuh yang berada di kantong jenazah 0005 teridentifkasi sebagai Dasep Sobirin yang merupakan pilot pesawat Twin Otter.

"Jadi dari empat kantong jenazah itu berisi enam body parts (bagian tubuh). Dari enam body parts itu,body parts nomor 0003 dan 0004 terindentifikasi korban Bharada Hadi Utomo salah satu . Kemudian body parts nomor 0005 terindentifikasi Dasep Sobirin sebagai pilot pesawat tersebut," kata Katim DVI Polda Papua, Kombes Pol. drg. Agustinus Mulyanto Hardi T saat menggelar konferensi pers di Sentra Pelayanan Polres Mimika, Kamis (26/9).

Ia menjelaskan, indentifikasi almarhum Bharada Hadi Utomo melalui dua pemeriksaan baik gigi yang merupakan alat bukti identifikasi primer yang diperkuat dengan bukti sidik jari, sehingga dua alat tersebut telah cukup untuk mengidentifikasi bagian tubuh tersebut. Sedangkan identifikasi almarhum Dasep Sobirin diperoleh dari sidik jari dan sebuah cincin yang digunakannya.

"Jadi dua identifikasi primer dan dua identifikasi sekunder. Kemudian terindentifikasinya korban Dasep Sobirin diperoleh dari sidik jari dan properti yang sangat kuat adalah cincin nikah," jelasnya.

Ia juga menambahkan, setelah teridentifikasi dua korban. saat ini pihaknya masih melakukan identifikasi terhadap 3 bagian tubuh lainnya yang diduga merupakan Co pilot Yudra dan enginer Ujang, proses identifikasi tersebut diperlukan waktu satu minggu kedepan untuk mencocokan DNA dari keluarga sebagai data pembanding.

"Ini butuhkan waktu satu minggu, pagi ini juga kita coba telusuri dari golongan darah dan memang golongan darah bukan alat identifikasi. Namun dengan jumlah korban yang sifatnya disaster itu bisa membantu, tapi tidak siknifikan,tapi bisa mengarah," tambahnya.

Sementara itu Manager Operation PT Carpediem Aviasi Mandiri ,Roy Yulius Rumuat, setelah dua jenazah telau teridentifikasi selanjutnya di terbangkan ke kampung halaman masing-masing didampingi pihak maskapai.

Sedangkan, pihaknya juga tengah berupaya membantu pihak DVI Polda Papua untuk mengidentifikasi dua korban lainnya.

"Bharada Hadi Utomo sudah diberangkatkan ke Semarang untuk dilanjutkan ke rumah duka di daerah Pati dengan didampingi maskapai, begitu juga dengan Dasep Sobirin diterbangkan ke Jakarta menggunakan pesawat garuda GA 653 selanjutnya diantar ke rumah duka di Bekasi," ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan, akan membantu pihak Sat dan KNKT untuk melakukan pencari kotak hitam untuk bisa memastikan penyebab terjadinya kecelakaan.

"Kami juga tetap membantu tim KNKT untuk lakukan pencarian kotak hitam di lokasi kejadian," ungkapnya.

Pesawat nahas tersebut diproduksi sjak tahun 2016 lalu dan telah beroperasi di Papua sejak bulan oktober tahun 2018 lalu dengan melayani penumpang dan cargo.

"Pesawat ini diproduksi dari tahun 2016 bulan Desember. Kalau untuk maskapai kami ini melayani untuk penumpang dan cargo ,dan untuk ijin operasinya atau yang disebut AOC nya 135, jadi bisa untuk carter dan juga bisa untuk penumpang serta barang,"ungkapnya.(Ricky)

Dibaca 99 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.