Banyak Pejabat Menikmati Buah dari Perjuangan Abraham Atururi | Pasific Pos.com

| 19 January, 2020 |

Banyak Pejabat Menikmati Buah dari Perjuangan Abraham Atururi

Papua Barat Penulis  Selasa, 24 September 2019 20:52 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP - Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan memimpin upacara penyerahan jenazah, mantan Gubernur Papua Barat, almarhum Brigjen Purn Abraham O. Atururi dari pihak keluarga ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat di Lantai 1, Kantor Gubernur Papua Barat, Senin (23/9) pukul 10.00 WIT.

Sebelumnya, mulai pukul 07.00 WIT – pukul 09.00 WIT dilakukan pelepasan jenazah di kediaman almarhum, Valeria, Rendani, kemudian diantarkan ke Kantor Gubernur untuk upacara pelepasan jenazah dari pihak keluarga ke Pemprov.

Setelah prosesi upacara penyerahan jenazah dari pihak keluarga ke Pemprov, jenazah diantarkan ke Gereja Katolik, Imanuel Sanggeng untuk Misa Arwah. Usai Misa Arwah, jenazah diantarkan ke tempat peristirahatan terakhir di Taman Makam Pahlawan (TMP) Sanggeng, Manokwari. Prosesi pemakaman almarhum dilakukan dengan upacara militer.

Pesan dan Kesan

Sebelumnya, Staf Khusus Gubernur Papua Barat Bidang Pemerintahan, G.C. Auparay menyampaikan pesan dan kesan dari Pemprov Papua Barat dalam prosesi upacara penyerahan jenazah dari keluarga ke Pemprov Papua Barat.

Dikatakannya, Bung Karno pernah mengatakan, jangan melupakan sejarah, karena sejarah itu penting untuk diingat. Provinsi Papua Barat, kata dia, lahir dengan banyak problem dan sangat sulit.

“Mengapa Provinsi Irian Jaya Tengah tidak berhasil, sebab Drs. Herman Monim tidak mampu, maka sampai saat iniprovinsi itu tenggelam. Dua provinsi ini lahir dari satu ibu yang sama, yakni Undang-undang Nomor 45 Tahun 1999, karena Bapak Abraham mampu, maka Provinsi ini lahir dan berdiri sampai sekarang,” tandas Auparay.

Lanjut dia, kini sudah banyak pejabat yang duduk, banyak bupati, wakil bupati, dan pejabat lain yang menikmati buah dari perjuangan almarhum. Ia mengatakan, ada 4 orang yang dilantik almarhum di awal pembentukan Provinsi Papua Barat, yakni Nataniel D. Mandacan selaku Kepala Biro Kepegawaian, almarhum, P. Wekaburi sebagai Kepala Biro Keuangan, Drs. Y. Hosyo sebagai Kepala Dinas Penanaman Modal dan Koperasi, dan dirinya selaku Kepala Bappeda, sekaligus merangkap Sekda, Wakil Gubernur Papua Barat, serta merangkap semua dinas yang belum dibentuk untuk Provinsi Papua Barat.

Menurut Auparay, Provinsi ini lahir tanpa ada tempat yang disiapkan, dimana semua pejabat daerah dilarang untuk memberi tempat kepada almarhum melaksanakan aktivitas pemerintahan.

“Istri saya masih hidup. Waktu itu usai ibadahbeliau telpon saya dan kita bertemu. Beliau menunjukkan surat pengangkatan sebagai Gubernur Papua Barat, tetapi saat itu tidak ada tempat untuk melakukan aktivitas pemerintahan,” kenangnya.

Dirinya pun meminta waktu selama 2 hari menyiapkan Kantor Pembangunan Desa untuk berkantor dan menjalankan roda pemerintahan di Provinsi ini. Namun sejak Jumat (20/9), kata Auparay, engkau telah pergi untuk selamanya dan meninggalkan semua sebagai anak buahmu dan meninggalkan semua yang telah kau kerjakan.

“Kamu telah mekarkan Kabupaten Sorong menjadi Kota Sorong sebelum orang lain melakukan pemekaran. Selanjutnya, idealisme mu diikuti almarhum, DR. J.P. Wanane untuk memekarkan Kabupaten Sorong menjadi Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Maybrat, dan Kabupaten Tambrauw. Embrio pemekaran dan gagasan itu berawal dari kauabangku, Abraham O. Atururi. Banyak pembangunan yang telah kau perbuatPembangunan 5 lantai Kantor Gubernur Papua Barat, pembangunan perkantoran Papua Barat, pembangunan kediaman Gubernur, Wakil Gubernurdan Sekda Papua Barat di Susweni,” sebut Auparay.

Bukan itu saja, tambah dia, ada juga pembangunan Situs Pekabaran Injil di Pulau Mansinam, Pabrik Semen di Maruni, pembangunan jalan dari Manokwari-Bintuni, Sorong, Ayamaru, Kebar-Manokwari, pembangunan jalan lingkar Susweni sampai ke Arfai Perkantoran, pembangunan Kantor KONI di Susweni, perubahan plat dari DS menjadi PB, Raja Ampat diakui sebagai destinasi wisata kelas dunia tahun 2015, itu semua berkat perjuangan mu, termasuk lahirnya Majelis Rakyat Papua (MRP) di Papua Barat.

“Jauh hari sebelum Provinsi ini berlangsungdi saat kami membahas lambang Papua Barat, yakni Burung Kasuari, beliau katakan, Auparaynanti kau lihat suatu hari kalau Provinsi ini sudah terbentuk kodam, maka kodam itu akan dinamakan kodam Kasuari,” katanya.

Almarhum juga pernah mengatakan, kalau di ABRI, gubernur adalah panglima TNIsedangkan sekda adalah Kepala Staf Angkatan Darat, kemudian kepala dinas, kepala badan, dan kepala biro adalah komandan satuan tempur, maka jika ada perintah gubernur selaku panglima TNI, maka sekda sebagai Kasad, apalagi perintah itu kepada kepala dinas, kepala badan, dan kepala biro selaku komandan kepala tempurwajib menjalankan perintah itu tanpa ada tawar-menawar.

“Ada beberapa ungkapan yang beliau katakan dan sangat terkenal hingga sekarangkalau bukan sekarangkapan lagi dan kalau bukan kitorangsiapa lagi,” beber Auparay.

Ia mengutarakan, ada juga ungkapan lain yang dikatakan dalam setiap momentum pelantikan pejabat di lingkungan Papua Barat, duduklah di situ dan jadilah pantai di situ.

Artinyapejabat yang dilantik harus belajar menguasai tupoksi di tempat itu agar mampu merencanakan sesuatu dalam tugas untuk menyejahterakan rakyat di provinsi ini,” pungkas Auparay. [FSM-R1

Dibaca 131 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

Trending Topik