HIPMI: Konglomerat Indonesia Masih Didominasi Wajah Lama | Pasific Pos.com

| 20 October, 2019 |

Bahlil Lahadalia bersama Presiden Joko Widodo seusai membuka Munas HIPMI XVI di Hotel Sultan Jakarta, Senin (16/9/2019). Bahlil Lahadalia bersama Presiden Joko Widodo seusai membuka Munas HIPMI XVI di Hotel Sultan Jakarta, Senin (16/9/2019).

HIPMI: Konglomerat Indonesia Masih Didominasi Wajah Lama

Ekonomi & Bisnis Penulis  Rabu, 18 September 2019 00:51 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Jakarta – Ketua Umum BPP HIPMI, Bahlil Lahadalia mengatakan, dalam era reformasi tahun 1998 melahirkan dua keputusan yaitu politik dan ekonomi. Kendati kepala daerah dan kepala negara telah berganti beberapa kali, namun konglomerat di Indonesia belum berubah, masih itu-itu saja.

“Menurut pengalaman kami bahwa tidak ada konglomerat di Indonesia yang jadi tanpa campur tangan pemerintah selalu ada affirmative. Tapi intervensi yang betul-betul mempunyai landasan aturan, “ujar Bahlil.

“Dalam pendekatan tersebut kami menyampaikan bahwa di daerah punya sumber daya alam, perikanan yang besar, hutan yang luas, punya kebun yang banyak tinggal bagaimana ada affirmative dan ada pembiayaan untuk mereka. Kalau ini dilakukan maka Insyaallah bisa terjadi, “sambung Bahlil.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan tiga tahun lalu pihaknya meminta kepada Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) untuk memasukkan 20 nama pengusaha, namun hingga kini nama-nama tersebut belum diterimanya.

“Saya tidak tahu mengapa nama-nama tersebut belum dimasukkan, tapi memang perlu muncul konglomerat baru di negara kita dan peluang itu sangat besar. Memang pemerintah perlu turun tangan memberikan jalan yang ada kepada mereka, “kata Jokowi.

Dikatakan, pemerintah akan terus memperkokoh kelembagaan kabinet yang mengurus investasi. Indonesia tidak menginginkan investasi global yang hanya mengeksploitasi bangsa Indonesia.
“Kita tidak harapkan seperti itu. Pemerintah akan terus memperkokoh kebijakan di bidang perindustrian yang menfasilitasi dengan cepat tumbuhnya suply change dari investasi global, kita akan mempercepat industrilisasi nasional dengan cara-cara ini, “jelasnya.

“Hilirisasi sangat penting saat ini, pemerintah akan memperkokoh kelembagaan dan kebijakan perdagangan yang bukan saja piawai membuka pasar global, tetapi juga melindungi pengusaha nasional dari kompetisi dunia yang tidak fair. Pengusaha kita tidak boleh mati sia-sia akibat persaingan yang tidak adil. Agar semua ini berhasil bukan hanya pemerintah yang bekerja keras, mindset pengusaha muda juga harus berubah total, pengusaha muda kita jangan hanya menjadi pengusaha bergantung pada proyek APBN maupun proyek APBD, itu memang perlu, tetapi bidang-bidang di luar itu juga dimasuki agar tidak dimasuki oleh pengusaha dari luar yang masuk ke Indonesia, “kata Jokowi. (Zulkifli)

Dibaca 108 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.