Polisi akan Investigasi Unjuk Rasa Anarkhis | Pasific Pos.com

| 19 September, 2019 |

Polisi akan Investigasi Unjuk Rasa Anarkhis

Papua Barat Penulis  Kamis, 22 Agustus 2019 14:46 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Kapolda Papua Barat, Brigjen Pol. Herry R. Nahak menegaskan, pihak kepolisian akan menindak tegas insiden pelaku pengrusakan, penjarahan, pembakaran, dan aksi anarkhis dalam aksi unjuk rasa ribuan warga di Kabupaten Manokwari, Senin (19/8).

Menurut Nahak, berdasarkan kesepakatan hasil rapat yang dilakukan bersama Pemprov Papua Barat, Pangdam XVIII Kasuari, Kabinda, dan forkopimda, pihak kepolisian tetap akan mengusut dan menginvestigasi mereka yang terlibat aksi anarkhis.

Ditanya tentang insiden pembakaran bendera Merah Putih dan pembentangan bendera Bintang Kejora dalam aksi tersebut, Nahak mengaku belum mendapatkan laporannya.

Lanjut dia, jika kondisi sudah tenang, pihaknya akan segera melakukan investigasi, karena aksi ini sebelumnya merupakan ajakan untuk berdemonstrasi, tetapi ketika aksi, ternyata keluar jalur dan berubah menjadi anarkhis, sehingga akan dilakukan penindakan hukum.

Ia menjelaskan, dalam aksi anarkhis ini, tidak ada korban jiwa, sedangkan kerugian materil masih dilakukan pendataan. “Justru anggota kita yang kena lempar. Karo Ops dilempar, beberapa anggota kita juga dilempar, tapi syukur, kondisinya semua baik. Kerugian, kita sementara data, tapi yang paling parah, Kantor DPR Papua Barat,” kata Nahak kepada para wartawan di Aston Niu Hotel Manokwari, kemarin.

Pasca-insiden kerusuhan tersebut, sebanyak 4 SST gabungan personil TNI-Polri didatangkan dari Maluku, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara ke Manokwari dan Sorong. Kedatangan personil gabungan untuk bantuan kendali operasi (BKO) ini untuk meminimalisir dan mengamankan aksi seperti yang terjadi Senin (19/8).

Namun, Kapolda menegaskan, situasi dan kondisi sekarang sudah aman dan kondusif. Lanjut dia, penempatan dan penyebaran personil BKO di Papua Barat, khususnya di Manokwari dan Sorong, hanya untuk mengantisipasi aksi serupa.

Di wilayah Sorong, tambah Nahak, hingga saat ini masih terdapat aksi serupa, meski tidak separah aksi sebelumnya. Namun, kata dia, hal itu perlu dilakukan sebagai upaya antisipasi agar tidak memancing warga lain.

Kapolda mengaku belum bisa memastikan apakah aksi ini murni respon warga atas tindakan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang.

Sebab, ungkap Nahak, proses investigasi sedang berlangsung. Dia mengatakan, pihaknya sudah mengantongi kelompok-kelompok yang diduga ada kepentingan di dalamnya.

“Sudah ada di catatan kami. Pangdam juga begitu, tapi kami harus dalami, jangan sampai ada kesalahan dalam penyampaian dan penindakan yang dilakukan nanti,” tukasnya.

Sementara itu, Bupati Manokwari, Demas P. Mandacan menambahkan, situasi dan kondisi di Manokwari, dipastikan sudah aman dan segala aktivitas sudah berjalan normal.

Insiden yang mengakibatkan kerusakan fasilitas publik yang terlanjur dirusak warga, Mandacan mengaku akan dianggarkan. Ia mengaku tidak mengetahui penyebab dari insiden tersebut.

“Kalau soal pengalihan isu politik, saya tidak tahu. Yang jelas, saat ini situasi mulai aman dan kondusif, sudah bisa kembali normal, tetapi kalau swasta, saya tidak tahu,” tandas Bupati.

Sedangkan Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan mengatakan, persoalan ini akan dilakukan dengan pendekatan kekeluargaan agar situasi dan kondisi di Papua Barat segera kondusif, aman, dan damai.

Lanjut dia, peristiwa yang terjadi hanya persoalan korelasi dan seharusnya tidak dilakukan aksi yang merusak suasana menjadi tidak aman.

“Manokwari Kota Injil, kota religious, kota peradaban, harusnya sikap kita dan tingkah laku kita menunjukkan sikap peradaban itu. Manokwari ini rumah kita yang harus dijaga. Ini hanya korelasi yang tidak berjalan. Kota harus selesaikan secara baik-baik,” pungkas Mandacan. [AND-R1] 

Dibaca 123 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.