Banyak Nilai Moralitas Dibalik Hari Bhakti TNI-AU | Pasific Pos.com

| 23 August, 2019 |

Upacara Hari Bhakti TNI AU ke-72 yang dilaksankan di Mako Lanud Silas Papare, Senin (29/7) pagi. Upacara Hari Bhakti TNI AU ke-72 yang dilaksankan di Mako Lanud Silas Papare, Senin (29/7) pagi.

Banyak Nilai Moralitas Dibalik Hari Bhakti TNI-AU

Kabupaten Jayapura Penulis  Senin, 29 Juli 2019 20:38 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

SENTANI – Kepala Staf Tentara Nasional Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI. Yuyu Sutisna berpesan kepada seluru prajurit TNI-AU agar tidak menjadikan peringatan Hari Bhakti TNI-AU ke 72 tahun 2019 secara seremonial belaka.

Menurutnya, dibalik peringatan Hari Bhakti TNI-AU, terdapat banyak sekali pesan moral yang harus dipahami oleh setiap prajurit dan disampaikan kepada masyarakat umum bahwa TNI-AU juga turut berperan penting dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

“Upacara ini adalah puncak dari seluruh rangkaian Hari Bhakti TNI Angkatan Udara tahun 2019 yang berthemakan ‘Bhakti Pahlawan Udara Menjadi Tonggak Sejarah Bagi Generasi Penerus Untuk Membangun Kejayaan Angkatan Udara’. Thema ini sengaja dipilih agar persitiwa heroik yang diperingati setiap tanggal 209 Juli ini tidak sekedar menjadi nostalgia semata, namun terus menjadi kompas moral bagi generasi penerus untuk memberikan pengabdian terbaik TNI AU,” kata Kasau dalam sambutannya yang di bacakan Danlanud Silas Papare, Marsma TNI Ir. Tribowo Budi Santoso dalam upacara Hari Bhakti TNI AU ke-72 yang dilaksankan di Mako Lanud Silas Papare, Senin (29/7) pagi.

Dikatakan, sejarah Hari Bhakti TNI AU adalah sejarah paling fundamental dan rasional ketika bangsa Indonesia bertanya kenapa bangsa harus bersusahpaya untuk membangung kejayaan TNI AU.

“Para sesepuh, hadirin dan peserta upacara yang saya banggakan, hari berkabung AURI yang sejak tahun 1962 kita peringati sebagai hari Bhakti TNI AU adalah rangkaian peristiwa ketika, ketiga pesawat TNI AU mengudara di landasan pacu Lanud Adisucipto Maguwo dan menyerang garis pertahanan belanda di tiga kota yaitu, Semarang, Salatiga dan dan Ambarawa dan berhasil memenangkan pertempuran tersebut” katanya.

Lanjut Tri Bowo, ketiga Pesawat tersebut diawakii oleh Kanit Penerbang Mulyono dan juru tembak Nurahman, Kanit Penerbang Sutarjo Sigit dan Juru tembak Sutarjo dan Kanit Penerbang Suharnoko Harbani dengan juru tembak Kaput.

Serangan ini menjadi monumental karena menjadi operasi serangan udara pertama dalam sejarah TNI AU. Serangan ini menjadi bukti jiwa patriotisme, Cinta tanah air dan sikap anti kolonialisme dari seluruh personil AU atas agresi militer Belanda yang pertama.

Iapun kembali mengisahkan, beberapa jam pasca serangan tersebut, Belanda ternyata melancarkan serangan balasan dengan mengirim dua pesawat P40-VTHock untuk menembak jatuh pesawat Dacota CLA yang sedang membawa bantuan kemanusiaan dari Palang Merah Malaya.

“8 orang gugur termasuk 3 putra terbaik TNI AU yaitu Komodor Udara Prof.Dr, Abdurahman Saleh, Komodor Udara Agustinus Ajisucipto dan Opsir Udara Adi Sumarno Wiryokusumo. Serangan ke tiga kota dan gugurnya para pahlawan udara adalah sebuah kemenangan sekaligus kehilangan besar bagi TNI AU” ungkapnya.

Oleh sebab itu, kedua persitiwa tersebut selalu diperingati karena banyak nilai moralitas yang wajib diketahui dan diteladani oleh generasi penerus TNI AU.

“Para pahlawan sudah menacapkan sejarah besar bagi bangsa ini, maka tugas generasi penerus adalah untuk merawat dan mengembangkan moralitas tersebut dalam pengambdian ke masa depan” tandas Tri Bowo diakhir sambutan.

Dibaca 65 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.