Ungguli 20 Peserta, Lukas Barayap Raih Kalpataru Perintis Lingkungan | Pasific Pos.com

| 17 November, 2019 |

Ungguli 20 Peserta, Lukas Barayap Raih Kalpataru Perintis Lingkungan

Papua Barat Penulis  Senin, 15 Juli 2019 03:11 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Lukas Barayap mengungguli 20 peserta lain dalam kategori Perintis Lingkungan untuk meraih penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup, Kalpataru.

Kalpataru diserahkan Wakil Presiden, Jusuf Kalla terhadap Barayap dan peraih dari ketagori lain dalam acara yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (11/7).Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Manokwari, Yonadab Sraun mengatakan, Barayap berhasil menyisihkan 20 pesaing untuk menerima penghargaan. Penghargaan diberikan terhadap individu atau kelompok masyarakat yang berjasa dalam bidang lingkungan hidup.

Menurutnya, DLH mengusulkan Lukas Barayap untuk menerima penghargaan setelah serangkaian penilaian dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pada April lalu, tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bertemu Lukas Barayap di Kampung Bakaro untuk melakukan penilaian.

“Dari penilaian itu, Lukas Barayap akhirnya menerima penghargaan. Penerimaan penghargaan itu tidak disangka-sangka. Dia menerima penghargaan itu untuk kategori Perintis Lingkungan,” jelas Sraun sebelum menerima Kalpataru dari Asisten III Sekda Kabupaten Manokwari di Kampung Bakaro, Sabtu (13/7).

Dijelaskannya, Kalpataru diberikan bukan hanya untuk kategori Perintis Lingkungan, ada juga kategori Pengabdi Lingkungan, Penyelamat Lingkungan, dan Pembina Lingkungan.

Oleh sebab itu, kata Sraun, jika ada warga yang melakukan kegiatan terkait lingkungan hidup dalam ketagori lain, disampaikan ke Dinas Lingkungan Hidup untuk dinilai. Jika layak, lanjut dia, akan diusulkan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dikatakannya, Lukas Barayap telah mengangkat nama baik Kabupaten Manokwari, Papua Barat, dan tanah Papua, dimana selama ini banyak orang melihatnya dengan sebelah mata, tetapi dengan penerimaan penghargaan ini, maka semua orang akan membuka mata.

Oleh karena itu, dia meminta kepada Pemkab Manokwari dan Pemprov Papua Barat memberikan perhatian kepada Lukas Barayap. “Saya mau bawa beliau ketemu Pak Bupati dan Pak Gubernur. Dia punya rumah sudah mau roboh, kita mau tuntut orang untuk pemeliharaan lingkungan, apa yang kita berikan untuk beliau. Apa dia jaga-jaga lingkungan begitu, terus kita tutup mata,” ujarnya.

Setelah penyerahan ini, lanjut dia, Kalpataru akan disimpan oleh Dinas Lingkungan Hidup, kemudian akan diserahkan ke DLH ke Gubernur. Nantinya, sambung Sraun, akan dilakukan acara untuk diserahkan oleh Gubernur ke Bupati, dan dilanjutkan dari Bupati ke Lukas Barayap.

Kepala Kampung Bakaro, Agus Meidodga mengucapkan terima kasih terhadap masyarakat Bakaro dan Lukas Barayap untuk merawat lingkungan, khususnya laut di Bakaro. Dengan penghargaan itu, lingkungan di Bakaro harus dijaga secara baik.

Sedangkan Lukas Barayap menegaskan, penghargaan itu bisa mengangkat nama Kampung Bakaro. Kampung Bakaro, kata dia, tidak hanya dikenal di Manokwari, tapi juga ditingkat nasional dan internasional melalui pemberitaan media massa.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang pertama, kedua kepada pemerintah provinsi, kabupaten Manokwari, pemerintah Kampung Bakaro, pemerintah Distrik Manokwari Timur. Sebab hal ini bukan untuk Kabupaten Manokwari saja, tapi untuk Provinsi Papua Barat dan Papua. Saya mewakili itu,” ungkapnya.

Lukas Barayap dikenal lantaran memiliki kemampuan unik, bisa memanggil segala jenis ikan. Namun, bukan hanya memanggil ikan, sehingga bisa meraih Kapaltaru, tetapi sudah banyak kegiatan yang dilakukan bersama warga di Kampung Bakaro.

Barayap mengatakan, Kalpataru yang diterimanya dari Wakil Presiden, Jusuf Kalla adalah buah dari kerja kerasnya sejak 1995. “Selama ini bekerja saja tanpa mengharapkan imbalan dari siapa pun, tapi inilah yang bisa diperoleh,” ungkapnya kepada para wartawan di Kampung Bakaro, Sabtu (13/7).

Dia mengaku bersama masyarakat setempat berupaya membatasi hal-hal yang tidak diinginkan, yakni membatasi penangkapan ikan memakai bahan peledak dan potassium. Tanpa memakai bahan peledak, lanjut dia, kawasan laut di Bakaro akan aman.

“Kami juga pikir generasi mendatang akan sulit mendapat ikan, sehingga bisa berbuat banyak untuk menjaga lingkungan laut di Bakaro,” tambahnya.

Ditambahkannya, banyak terumbu karang rusak dan hancur akibat penangkapan ikan memakai bahan peledak, sehingga dengan berbagai cara, pihaknya berupaya menanam terumbu karang menggantikan terumbu karang yang rusak.

Sebelum menerima penghargaan itu, Barayap mengaku, Kampung Bakaro juga dikenal sebagai kampung wisata bahari, sehingga jalan di kampungnya harus mendapatkan perhatian dari pemerintah.

“Di mana saja yang sudah berbuat tapi belum diangkat, silakan diangkat supaya Kementerian Lingkungan, Kementerian Pariwisata, dan instansi lain bisa menopang itu agar lingkungan aman, nyaman, sehingga bisa menghasilkan buah yang baik,” tuturnya.

Menurutnya, jika lingkungan dijaga akan ada berkat untuk masyarakat. Misalnya di laut, jika dijaga akan ada berkat untuk nelayan, yakni memperoleh hasil tangkapan yang baik. “Kalau di darat, jika dijaga akan memperoleh udara yang bagus, bahkan tidak terjadi erosi yang mengancam masyarakat dan lingkungan,” imbuhnya.

Ia membeberkan, di Kampung Bakaro, sebelumnya banyak sampah plastik, sehingga dirinya mendorong masyarakat untuk mengangkat dan mengumpulkan sampah plastik dari pesisir pantai. Setelah dikumpulkan, ada pihak yang datang mengangkut sampah plastik untuk didaur ulang. Namun, harganya cuma Rp. 2.000, sehingga ditolak warga.

Dirinya tidak putus asa dan terus mengajak masyarakat, walau hanya Rp. 2.000, tetapi jika dikumpulkan terus menerus, akan menjadi banyak. “Akhirnya di lingkungan kami ini plastik-plastik ini kurang,” tambahnya.

Ditanya tentang penangkapan ikan di sekitar laut Bakaro yang diduga dilakukan warga dari luar, ia meminta Satpolair, TNI-AL bisa memberi kewenangan terhadap masyarakat Bakaro untuk mengawasinya.

Di samping itu, ia menambahkan, ada kontrol dari Satpolair melalui kegiatan patroli, karena itu tidak hanya di Bakaro, tetapi juga di daerah Aipiri, Pulau Kaki, dan daerah lain.

“Jika bisa diatasi, saya yakin terumbu karang akan aman dan menghasilkan hal baik, terutama menjadi tempat berlindungnya ikan, sehingga memudahkan nelayan dan generasi mendatang,” tandasnya.

Disinggung tentang rencana Kepala DLH Kabupaten Manokwari yang akan mengusulkan ke Pemkab Manokwari dan Pemprov Papua Barat untuk merenovasi rumahnya, Barayap mengatakan, itu lantaran Kepala DLH sudah melihat kondisi rumahnya.

“Itulah sebabnya dia mohon kepada bupati dan gubernur untuk memperbaiki rumah setelah dirinya mengangkat nama kabupatan dan provinsi di tingkat nasional, bahkan mancanegara,” tambahnya.

Pada kesempatan itu, ia berharap generasi muda menjaga terumbu karang dan mengangkat plastik, baik di rumah sendiri atau di pantai supaya menjadi contoh terhadap orang lain. [BNB-R1] 

Dibaca 130 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX