Daud Pulung Terima Vonis 20 Tahun Pidana Penjara | Pasific Pos.com

| 22 July, 2019 |

Daud Pulung Terima Vonis 20 Tahun Pidana Penjara

Papua Barat Penulis  Kamis, 11 Juli 2019 14:08 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Daud Pulung (58 tahun), terdakwa kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap korban, Rima Boro (34 tahun), akhirnya divonis 20 tahun pidana penjara dikurangi masa penahanan.

Putusan disampaikan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Manokwari yang diketuai, Behinds J. Tulak, SH, MH dan dihadiri jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Manokwari, Aminah Mustafa, SH dan penasehat hukum terdakwa, Ruben Sabami, SH, Rabu (10/7).

Majelis hakim juga menyatakan barang bukti 1 ikat pinggang, 1 rok kain berwarna hitam, 1 kemeja kain berwarna putih, 1 BH berwarna hitam, 1 celana dalam berwarna putih, 1 kacamata hitam, 1 handphone Samsung dan ID Card atas nama Rima Boro, dikembalikan ke keluarga korban.

Sementara itu, 1 parang panjang dan sarung berwarna coklat, dirampas negara untuk dimusnahkan.

Menurut majelis hakim, berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan dikaitkan dengan keterangan para saksi dan barang bukti yang ditunjukkan dalam persidangan, terdakwa telah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana terhadap korban, Rima Boro di rumah kontrakan korban di Jl. Lembah Hijau, Gang Kemayu, Manokwari, Rabu (17/10/2018).

Kejadian itu berawal ketika terdakwa mendengar bahwa rencana pernikahannya dengan Rima Boro, dibatalkan sepihak dari keluarga korban. Kemudian, Selasa (16/10/2018), terdakwa menemui Daniel Kende dan memintanya memberitahukan ke orang tua Rima Boro, bahwa terdakwa akan menikahi korban, tetapi permintaan itu ditolak, sehingga terdakwa yang kecewa, menyampaikan ancaman terhadap Rima Boro di hadapan Daniel Kende dengan mengatakan ‘saya akan ambil langkah’.

Rabu (17/10/2018) sekitar pukul 05.39 WIT, terdakwa mengirimkan SMS bernada mengancam terhadap Shanti Agusmina dengan mengatakan ‘Mt pg sayangku, ankku yg cantik, ini pernyataan saya, om Daud tolong ksh tau semua kel maupun tante Rima kl msh mau tolak sy bhw sy akan tunggu smpe akir hidupku kl sy duluan mati sy tunggu dlm liang kuburan demikian pun sebaliknya, knp sys d siap bgni tiba2 berubah pikiran harta benda tdk di bw k liang kuburan jd stop sd bikin2 masalah ini, om pux saran mksh anaku JBU’.

Selanjutnya, terdakwa bertemu Ruben Rupang di Terapi Pijat Bumi Marina dan menceritakan kekecewaannya dan menyampaikan jika pernikahan mereka batal, maka terdakwa akan membunuhnya.

Di hari yang sama, terdakwa juga menemui Yulinda Huwae (tetangga korban) dan menanyakan tentang keberadaan Rima Boro, tetapi karena Yulinda Huwae mengaku belum bertemu korban, sehingga terdakwa memutuskan pulang ke rumahnya di Maripi.

Daud Pulung pun mengambil sebilah parang yang diselipkan di pinggang kiri, lalu kembali ke rumah korban dan menunggunya pulang di depan rumah kontrakan.

Beberapa menit kemudian, terdakwa melihat Rima Boro pulang, lalu terdakwa menyambutnya dengan kata-kata ‘Selamat sore say’ tetapi korban memalingkan wajahnya dari terdakwa sambil meludahinya sebanyak 1 kali dengan berkata ‘Saya tidak sudi menikah dengan kau, sudah tua jelek, pensiun, gaji kecil, miskin lagi’ sambil membuka pintu rumahnya dan meletakkan laptop dan tas di kursi.

Saat itu, terdakwa masih berdiri di depan pintu dan berusaha membujuk korban supaya mereka bisa berbicara secara baik. Namun, Rima Boro justru mengambil laptopnya dan melempari terdakwa, kemudian berusaha menutup pintu, tetapi karena pintu ditahan terdakwa dari luar, sehingga terjadi percekcokan.

Di saat percekcokan itu, Rima Boro berusaha menggigit tangan terdakwa yang memegang pintu, tetapi secara spontan terdakwa mencabut parang dari sarungnya dan mengarahkan bagian tajam parang ke leher Rima Boro sambil ditekan dan ditarik dengan sekuat tenaga. Akibatnya, darah terpancar keluar dari leher korban, sehingga korban terjatuh ke lantai.

Terdakwa yang panik, lalu berjalan mundur sambil menutup pintu, lalu memasukkan parang ke dalam sarung dan pergi meninggalkan rumah korban dengan mengendara sepeda motornya.

Setibanya di rumah, terdakwa masuk ke kamar, membuka jaket, kemudian menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan parangnya. Keesokan harinya, terdakwa berniat melarikan diri ke Teluk Bintuni, tetapi ditangkap terlebih dahulu di Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel).

Majelis hakim mengungkapkan, berdasarkan surat keterangan kematian Nomor: 474.4/77/2018 tertanggal 22 Oktober 2018 yang dikeluarkan RSUD Manokwari, menerangkan, Rima Boro meninggal disebabkan trauma benda tajam di leher.

Sementara dari hasil visum et repertum dengan Nomor: 353/108/2018 tertanggal 22 Oktober 2018 yang dikeluarkan RSUD Manokwari, menerangkan, Rima Boro mengalami memar atau lebam di hidung, patah batang hidung dan tulang pipi kiri, luka leher terbuka sepanjang 9 cm, luka teraba dasar tenggorokan sepanjang 4 cm dan 0,5 cm, bekas luka di punggung belakang, dan jenazah kaku.

Berdasarkan uraian-uraian itu, majelis hakim menyatakan bahwa terdakwa, Daud Pulung sudah terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana dengan sengaja dan terencana merampas nyawa orang lain sebagaimana diatur dan diancam Pasal 340 KUHP.

Setelah mendengar putusan majelis hakim, terdakwa melalui penasehat hukumnya, Ruben Sabami menyatakan menerima putusan majelis hakim. Hal senada diungkapkan JPU Kejari Manokwari yang juga menerima putusan tersebut.

Selanjutnya, majelis hakim menutup persidangan, sedangkan terdakwa dikembalikan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Manokwari untuk menjalani hukuman. [BOM-R1]

Dibaca 49 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.