Pedagang yang Berjualan di Sepanjang Jalan Borobudur akan Dipindahkan | Pasific Pos.com

| 22 July, 2019 |

Pedagang yang Berjualan di Sepanjang Jalan Borobudur akan Dipindahkan

Papua Barat Penulis  Kamis, 11 Juli 2019 14:03 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Pedagang-pedagang yang selama ini berjualan di sepanjang jalan di kawasan Borobudur Kelurahan Padarni pada sore hingga malam hari dinilai telah menimbulkan kemacetan. Oleh karena itu, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Dinas Perindagkop dan UKM) Kabupaten Manokwari akan memindahkan pedagang-pedagang itu.

Kepala Dinas Perindagkop dan UKM Kabupaten Manokwari, Rosita Watofa, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak Kelurahan Padarni untuk mendata para pedagang tersebut.

Sesuai arahan bupati, kata dia, jika para pedagang tersebut sudah memiliki tempat berjualan di Pasar Wosi atau Pasar Sanggeng, maka harus berjualan di sana. Tidak boleh lagi berjualan di Pasar Borobudur.

“Tinggal dia pilih, kalau tidak mau di sana, maka dia tidak boleh ada Wosi atau Sanggeng,” tegasnya kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (10/7).

“Mereka juga harus bikin pernyataan kalau di Wosi, maka di Wosi saja. Kalau di Sanggeng, maka di Sanggeng saja. Atau Borobudur, maka di Borobudur saja. Sudah terlalu bikin macet di situ karena sebagian juga dari Wosi, sebagian dari Sanggeng,” tambahnya.

Pihaknya, kata dia, akan menata pasar tersebut, terutama penjual sayur dan ubi. Sedangkan untuk penjual ikan masih akan diikoordinasikan dengan Dinas Perhubungan, Kelautan, dan Perikanan (Dinas PKP) Kabupaten Manokwari. “Karena dia kan penghasil air limbah yang kurang bagus. Kasihan kalau di ujung kita lihat airnya datang dan menggenangi pedagang buah dan sayur. Sekarang yang turun ke sana, ada rehab yang lama di sini, Pasar Borobudur yang rencana digunakan oleh mereka ini. Tapi mungkin terlalu ke dalam,” sebutnya.

Sekali lagi Watofa menegaskan bahwa para pedagang yang berjualan di jalanan di Pasar Borobudur harus pindah supaya daerah itu menjadi tertib. Sebab, selama ini ketika pasar itu beroperasi pada sore hingga malam hari menimbulkan kemacetan.

“Kita akan sampaikan, bagaimana orang mau datang belanja kamu punya barang-barang kalau tempatnya kamu taruh begitu. Orang kalau beli ubi dan keladi masih baik karena ada kulit, tapi kalau sayur-sayur kan dong pikir, ini debu. Bumbu-bumbu apalagi,” imbuhnya.

Pihaknya, lanjut Watofa juga akan berkomunikasi dengan pihak gereja yang saat ini menggunakan salah satu lokasi di daerah itu. Sebab, tempat tersebut akan dimanfaatkan untuk pendagang sayur dan los untuk Bulog.

“Kita komunikasi dengan pihak gereja yang pakai itu. Karena tempat itu yang kita bongkar itu tempat cukup untuk menampung pedagang sayur dan beberapa los untuk Bulog, untuk bisa kendalikan harga pasar,” tukasnya. (BNB-R3)

Dibaca 31 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.