Menteri Yohana Rakor Dengan Toga Papua | Pasific Pos.com

| 23 September, 2019 |

Menteri Yohana Rakor Dengan Toga Papua

Headline Penulis  Kamis, 20 Jun 2019 19:12 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

JAYAPURA,-Kasus kekerasan terus terjadi sehingga kita masih perlu berusaha keras untuk secara bersama-sama mengurangi kasus kekerasan. Lebih khusus lagi, kasus terbaru yang sedang ditangani oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak salah satunya adalah kasus kekerasan seksual yang terindikasi dilakukan tokoh agama.

Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi dari 3 tungku (pemerintah, tokoh adat, tokoh agama) dalam menyelesaikan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Demikian disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise dalam sambutan saat membuka kegiatan pertemuan rapat koordinasi tokoh adat dan tokoh agama Jayapura, Kamis 20 Juni 2019.

“Saya lihat di Papua ini sangat unik dan adatnya masih cukup tinggi dan kami sudah melakukan penelitian di beberapa daerah yang menjadi sampel, dan banyak masukan yang kami terima soal penyelesaian kasus-kasus tersebut”katanya.

Kata Yohana, khusus perempuan, ada catatan penting yang menjadi perhatian, yang pertama pembangunan dan pemberdaya gender di Papua belum memberikan kontribusi yang cukup tinggi untuk kualitas perempuan, kedua partisipasi perempuan dari segala bidang masih rendah, ketiga, ekonomi juga masih rendah, akan tetapi menjadi catatan khusus di Kabupaten Jayawijaya Perempuannya cukup aktif, dan pendapatannya lebih tinggi dari pada laki – laki. Memang saya sudah kesana dan melihat langsung bagaimana perempuan disana.  Dan Ke empat  perhatian pemda dinilai masih sangat rendah terhadap isu perempuan, seperti program perempuan,regulasi dan lainnya, padahal dana untuk program perempuan ini cukup tinggi. ”Yang saya tau dana untuk perempuan ini cukup besar,  seperti di salah satu kabupaten di Papua ini ada dananya setahun untuk program perempuan itu sekitar Rp 18 M, akan tetapi sejauh ini programnya belum jelas,” ungkapnya.

Kata Yohana, masih banyak kasus – kasus perempuan ini bertentangan dengan adat, seperti persoalan kasus – kasus yang diselesaikan, ini lebih banyak di selesaikan secara kekeluargaan dan ini sangat bertolak belakang dengan UUD yang dibuat oleh negara ini,

“Diskusi awal bersama beberapa waktu lalu, ada salah seorang pendeta yang juga mengakui kurangnya pemahaman, tokoh adat dan tokoh agama soal UUD positif ini, undang – undang perlindungan anak,UUD kekerasan rumah tangga dan UUD lainnya, mereka juga kesulitan pada saat berhadapan dengan perempuan – perempuan atau yang keluarga yang belum menikah, karena adat belum di selesaikan atau maskawin belum di selesaikan, dan dari pihak perempuan ini menuntut lebih besar, dan pihak laki – laki tidak mampu,” paparnya.

Untuk itu kita harus duduk bersama dan memaparkan UUD positif ini kepada para perempuan, serta tokoh agama, serta toko adat itu tau, agar menenaganinya,dengan baik. Jika di paparkan maka para tokoh agama dan tokoh adat bisa lebih tau, arahnya dan pelaporannya kemana.

“Saya berharap kepada tokoh agama dan tokoh adat agar dapat berkontribusi baik, dalam pemberian pelayanan untuk memajukan,  kaum perempuan dan melindungi anak – anak dari kekerasan, akrena menyelamatkan perempuan dan anak sejak dini merupakan indikator kuat dalam mendukung pembangunan bangsa yang berkelanjuta,” tutupnya

Dibaca 112 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.