Jaga Toleransi Beragama, Wabup Jayapura: Terima Kasih Warga Takwa Bangun | Pasific Pos.com

| 21 August, 2019 |

Wabup Jayapura, Giri Wijayantoro saat memberikan sambutan pafa acara Safari Ramadhan di Kampung Takwa Bangun SP 5, Distrik Yapsi, Senin (27/5) sore. Wabup Jayapura, Giri Wijayantoro saat memberikan sambutan pafa acara Safari Ramadhan di Kampung Takwa Bangun SP 5, Distrik Yapsi, Senin (27/5) sore.

Jaga Toleransi Beragama, Wabup Jayapura: Terima Kasih Warga Takwa Bangun

Kabupaten Jayapura Penulis  Selasa, 28 Mei 2019 20:57 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

SENTANI – Wakil Bupati Jayapura, Giri Wijayantoro menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada seluruh masyarakat Kampung Takwa Bangun SP 5, Distrik Yapsi yang sudah bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk menjaga toleransi antar umat beragama yang ada di kampung tersebut.

Hal ini disampaikannya saat memberikan sambutan di acara Safari Ramadhan yang dilaksanakan di kampung Takwa Bangun SP 5, Distrik Yapsi, Senin (27/5) sore.

“Saya ucapkan terima kasih, kalau toleransi beragama saya yakin dan saya tidak ragu sama sekali dengan warga yang ada di SP 5 ini. Karena semua warga yang ada disini bisa bersatu dan tidak mempersoalkan perbedaan agama, suku, ras dan golongan disini” ucap Giri dalam sambutannya.

Giri meyakini, jika seluruh kampung dan distrik yang ada di Kabupaten Jayapura bisa mencontohi apa yang telah dilakukan oleh seluruh masyarakat SP 5 maka Kabupaten Jayapura pasti bisa aman damai dan bersatu dalam pembangunan yang sedang digalakan saat ini.

Dikatakan, meski SP 5 seperti jalan buntu, namun dirinya juga sangat yakin bahwa masyarakat yang ada di SP 5 adalah masyarakat yang memiliki keinginan kuat untuk merubah dirinya masing-masing.

“SP 5 ini seperti jalan buntu, tetapi bukan berarti harapan tidak ada. Harapan itu harus kita bangunkan kembali, kita harus semangat karena kesejahteraan itu intinya dari diri kita masing-masing” paparnya.

Selain itu, Giri menyebutkan bahwa Pemerintah Kabupaten Jayapura siap untuk memfasilitasi masyarakat yang ada di SP 5 untuk meningkatkan taraf  hidup sehingga bisa maju, adil, dan makmur.

Diungkapkan bahwa masyarakat SP 5 sendiri sudah memiliki modal untuk membangun kampungnya. Modal itu adalah kebersamaan.

“Hanya tinggal bagaimana kita menjaga hal yang positif dan membuang hal yang negative. Dan selain  itu kebersamaan ini juga bisa digunakan agar masyarakat bisa lebih produktif lagi, saya yakin kalau kita paham ini SP 5 pasti akan mengejar ketertinggalannya di banding SP yang lain” tandas Giri.

Karena menurutnya, khusus di Distrik Yapsi untuk kerukunan semua harus belajar dari SP 5. “Tapi saya yakin bahwa kerja keras dari tokoh-tokoh adat dan tokoh agama yang ada disini telah mengkampayekan apa itu agama sehingga masyarakat disini bisa hidup rukun dan tentram, karena A artinya tidak dan Gama artinya kacau jadi kalau di gabung itu artinya adalah Tidak Kacau” tambahnya.

Wabup Giri yang juga Ketua DPD Partai Nasdem Kabupaten Jayapura ini mengatakan bahwa semua masyarakat perlu bergama agar dapat memanage rohani untuk bertindak kepada hal-hal yang lebih baik dan bijak sana.

“Kalau rohani ini sudah meninggalkan rohani maka tubuh kita ini hanya disebut sebagai jasad saja. Jadi dalam hidup kita ini rohani dan jasmani perlu kita kompakan dan seleraskan agar tidak berbuat hal-hal yang bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agama” tuturnya.

Giri juga berpesan kepada masyarakat agar Agama tidak boleh dibawa untuk kemarahan. Karena agama untuk damai bukan untuk membuat pertikaian ataupun pertumpahan darah.

“Jadi agama tidak perlu dipakai untuk marah, seperti yang kita lihat di TV. Agama untuk damai saya minta untuk tidak disalahgunakan untuk alat politik dan untuk membenci” seruhnya.

“Kalau kita benci si A, si B dan si C, akan lebih baik jangan sampai terjadi pertikaian, akan lebih baik kalau kita benci orang, nama orang itu kita tulis di atas pasir dan tumpahkan semua emosi saat menulis nama orang itu sehingga keesokan hari kebencian itu itu sudah hilang, dan nama yang kita tulis itupun akan hilang disapu hujan ataupun ombak sehingga kita bisa kembali berdamai seperti sebelumnya. Atau lebih baik lagi menulis di atas air dan udara sehingga tidak berbekas juga kebencian kita terhadap seseorang” tutup Giri Wijayantoro.

Dibaca 104 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.