Sebuah Kerukunan Yang Terlantar ?

  |  July 23, 2017

Festifal Budaya Lembah Baliem ke 28

Sebuah Kerukunan Yang Terlantar ?

Opini Written by  Jumat, 31 Juli 2015 04:28 No comment
Rate this item
(0 votes)

Ditulis oleh : BENNY JENSENEM

Kerukunan yang terjalin di Tanah Papua antara keluarga muslim dan Kristen sudah ada sejak jaman pemerintah Belanda. Masyarakat di Pulau Doom adalah salah satu saksinya, merupakan tempat tinggal dari saudara-saudara muslim peranakan Suku-Mooi dan Halmahera/Ternate/Tidore bersama orang-orang Papua asal teluk Cendrawasih.
Saya dibesarkan di pulau tersebut, yang merupakan Resident Vogelkop sebelum dipindahkan ke Manokwari pada thn 1955 dan sekarang merupakan salah satu distrik Kota Sorong . Karena tidak ada persekolahan Islam pada masa itu, maka semua anak-anak dari keluarga muslim sekolah di persekolahan Kristen dan mereka juga belajar “Doa Sulung” yang menjadi kewajiban setiap orang Kristen.
 Ketika datang saat Ramadhan dan Lebaran, kami semua ikut meramaikan berbagi suka-cita, makan dari rumah kerumah sebagaimana saat perayaan Natal, apalagi mengakhiri dan memasuki Tahun Baru, sungguh sangat ramai dengan petasan/pageti dan bunga api pada malam hari. Bahkan ada satu perayaan yang namanya “MANDI SAFAR”, kami siram-siraman dan kejar-kejaran di jalan raya, dan semuanya berlangsung alamiah tidak terjadi kesalah pahaman karena semua orang tahu itu prosesi ritual keagamaan, semuanya berlangsung TOLERAN hingga memasuki periode pemerintahan Indonesia.
Kemudian, Ibarat wabah penyakit yang menyerang kehidupan yang damai-makmur, orang papua mulai dihinggapi   sifat-sifat NON DISIPLIN dari penduduk yang baru masuk. Curiga dan apatisme berkembang sejalan dengan gaya Pemerintah memanage orang Papua, penduduk yang tidak akur ditangkap, dibui dan kalau perlu dimusnahkan saja untuk mempersingkat urusan.
Gereja dan Mesjid bukan lagi sebagai tempat beribadah semata, tetapi semakin berubah menjadi tempat perlindungan dan untuk mendapatkan  sedekah dari pejabat kantor Sosial yang membagi sembako lewat rumah ibadah. Sekolah-sekolah Islam didirikan dengan dana bantuan Pemerintah sementara sekolah sekolah Kristen dibiarkan diurus oleh penduduk setempat. Mesjid dibangun dilingkungan yang secara tradisi merupakan tanah adat, tetapi lewat mental Judas, ada kepala suku yang gampang kena bius menyerahkan tanah keluarganya untuk dibangun apa saja. Kodrat dan martabat hancur diujung Pejabat rakus yang bermantelkan menjaga NKRI. Semua yang rukun sesungguhnya sudah sirna, yang ada sekarang ini hanya untuk “pake tahan-tahan saja”.
Terus, sekarang ini masih mau di kenang kembali ? saran saudara saya, katanya : sebaiknya jangan dikenang kembali sebab kita bisa jadi gila. Perubahan yang terjadi ini bukan perubahan alamiah, ini perubahan sistematik sehingga kita tidak akan mampu melakukannya jikalau Tidak dengan sistematik pula.
Tolikara adalah satu kota yang baru dibuka oleh Misionary Amerika dan berkembang di era  1970-an yang semula adalah satu Distrik dari Kabupaten Jayawijaya dan mulai ramai dikunjungi pendatang baru padahal disana tidak ada Pabrik tambang atau perusahaan Kayu raksasa atau pabrik Etomotif dll. Sehingga kata Toleransi antar umat yang dulu itu, saya yakin belum dinikmati 100% di Tolikara. Tetapi saya jadi heran mengapa orang pendatang jadi begitu banyak nampak lewat layar kaca TV.
Ada apa saja disana ya, jawabannya : “ada gula ada semut, ada dana Otsus, pasti ada semut yang berebutan”. Padahal diTahun sebelum Pepera (1969), setiap orang yang akan masuk ke Irian-Barat, diwajibkan mengambil surat perintah jalan/Surat Izin Masuk yang diterbitkan ditandatangani oleh Sekretaris Koordinator Urusan Irian Barat (SEKIB) di Jakarta. Jikalau keputusan pencabutan ketentuan tersebut tidak diterbitkan, maka belum tentu peristiwa Tolikara terjadi, bahkan Toleransi yang baru tumbuh akan semakin bertumbuh diatas tanah yang dinobatkan sebagai Tanah Damai ini.
 Toleransi tidak bisa dipidatokan, tidak bisa diatur jadwalnya, tidak perlu diupacarakan dan tidak perlu ada pernyataan diatas kertas, semua itu BULLSHIT omong-kosong. Toleransi  itu tumbuh dari akar ke batang, cabang  dan daun serta berbuah damai. Toleransi itu dibangun oleh masyarakat dan bukan pemborong pemenang tender. Toleransi itu hasil pacaran yang sejati dan bukan perkawinan karena nafsu harta benda sang pacar. 
Peristiwa Tolikara menggambarkan kebobrokan mental pengurus negeri ini, yang membiarkan orang bebas melakukan apa saja diatas pekarangan orang lain. Dari mana saja orang-orang tersebut, tentu ini adalah orang buangan yang tidak produktif atau yang tergusur dari kota-kota besar di pulau Jawa. Laporan sebuah surat khabar kota ini beberapa waktu lalu, bahwa setiap kapal putih yang masuk pelabuhan Jayapura, paling sedikit menurunkan 500 pendatang baru. Bayangkan dan hitung sendiri, jikalau hal itu telah berlangsung sejak tahun 1986 saat kapal putih mulai beroperasi , sampai dengan sekarang sudah berapa banyak ? Saya mencoba dengan sebuah teory hitungan/matematika sbb :
Keterangan : 1 minggu ada 3 kapal yg masuk , 1 bulan  ada 4 minggu, 1 thn ada 12 bulan, thn. 1986 -2015 = 29 tahun dan rata2 ada 500 pendatang baru di setiap kapal yg baru masuk di pelabuhan Jayapura.
Perhitungan : 3 x 4 x 12 x 29 x 500 = 2.088.000, jika 1% masuk ke Tolikara maka jumlahnya adalah sebanyak 20.880 penduduk baru yang kini berada di lokasi kejadian.
Sadar atau tidak, tetapi ini sebuah teori yang mungkin bisa Salah, tetapi siapa yang berani membuat sebuah survey untuk membantah teori kami yang sederhana ini ? selamat membaca.

(Penulis adalah : Mantan PNS Ditjen Pajak Departemen Keuangan RI)

Read 809 times

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.