Kerusakan Lingkungan di Manokwari sudah Mencemaskan | Pasific Pos.com

| 19 August, 2019 |

Kerusakan Lingkungan di Manokwari sudah Mencemaskan

Papua Barat Penulis  Minggu, 14 April 2019 21:42 0
Beri rating artikel ini
(1 Voting)

Manokwari, TP – Ketersediaan dan akses air di Kabupaten Manokwari tidak menjadi kecemasan bagi Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua Barat. Namun, yang menjadi kecemasan BWS adalah masalah kerusakan lingkungan di Kabupaten Manokwari yang berdampak pada terjadinya banjir.

Kepada wartawan usai acara penanaman pohon dalam rangka Hari Air Dunia ke-XXVII di Pulau Mansinam, Jumat (12/4), Kepala BWS Papua Barat, Alexander Leda mengatakan, dari sisi ketersediaan air di Manokwari cukup, hanya akses air ke masyarakat yang butuh proses.

“Yang lebih mencemaskan adalah kalau hujan satu-dua hari bisa terjadi banjir di sungai. Terakhir di Distrik Masni hingga ada jembatan yang putus. Ini karena kerusakan lingkungan sebenarnya,” ujar Leda.

Menurutnya, masalah ketersediaan dan akses air bisa disediakan oleh pemerintah daerah walaupun memerlukan waktu dan harus dilakukan secara bertahap. “Tapi lebih dicemaskan adalah kerusakan lingkungan. Kemarin di Sentani ada banjir dan longsor, atau banjir bandang. Kita berharap di Kabupaten Manokwari jangan terjadi seperti itu,” katanya lagi.

Dia menjelaskan bahwa jika terjadi banjir, maka ada indikasi kerusakan lingkungan di hulu daerah aliran sungai (DAS). Mengenai kerusakan lingkungan ini, menurut dia, yang perlu diwaspadai adalah penambangan-penambangan ilegal di hulu sungai.

“Seperti di Sungai Wariori, daerah itu di hulunya ada indikasi ada penambang yang harus ditertibkan supaya ketika banjir yang keluar itu hanya air, tidak bercampur lumpur dan sedimen lain, yang kemudian dikenal dengan banjir bandang. Itu daya rusakya lebih besar dibanding banjir yang hanya air saja,” sebutnya.

Untuk mengatasi DAS yang rusak, menurut Leda, tupoksi BWS tidak bersentuhan langsung dengan konservasi lahan. Namun, setiap tahun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengagendakan kegiatan kemitraan penyelamatan air. Selain itu, melakukan penghijauan bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terutama di daerah hilir yang sudah dibangun infrastruktur sumber daya air seperti bendungan dan embung.

“Itu yang di hulunya setiap tahun selalu ada kegiatan penanaman pohon dan edukasi yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan,” ungkapnya.

Saat ini pun, lanjutnya, Kementerian PUPR menggiatkan kegiatan tertib terhadap sampah plastik. Sebab, saat ini laut dan sungai seolah telah menjadi tempat pembuangan sampah.

“Untuk itu, perlu edukasi kepada masyarakat, literasi, dan sosialisasi dari semua orang. Sesungguhnya, kebersihan itu dimulai dari diri sendiri,” tukasnya.

Asisten II Setda Kabupaten Manokwari, Harjanto Ombesapu pun mengakui, saat ini meski hanya terjadi hujan sekitar 30 menit saja atau satu jam saja sudah terjadi banjir di Manokwari. Padahal, dulu tidak seperti itu.

“Ini karena kita semua tidak menjaga lingkungan, sehingga diharapkan kepada semua untuk menjaga lingkungan, terutama menjaga kebersihan lingkungan supaya ke depan jangan sampai terjadi banjir. Marilah kita sama-sama menjaga lingkungan dengan menaman pohon di lingkungan masing-masing,” ajak Ombesapu. (BNB-R3)

Dibaca 203 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.