Casis Polri Membesarkan Alat Kelamin, Kabid Dokkes: Dipastikan Tidak Lulus | Pasific Pos.com

| 6 December, 2019 |

Casis Polri Membesarkan Alat Kelamin, Kabid Dokkes: Dipastikan Tidak Lulus

Papua Barat Penulis  Senin, 08 April 2019 17:59 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Sorong, TP – Dalam penerimaan calon siswa (casis) anggota Polri, mereka yang membesarkan alat kelamin atau sering diistilahkan ‘bungkus’ dan setelah menjalani proses pemeriksaan, sudah bisa dipastikan tidak akan lulus.

Sementara keperawanan, tidak lagi menjadi salah satu faktor atau persyaratan mengikuti seleksi calon anggota Polisi Wanita (Polwan), meski wacana ini sempat mencuat ke permukaan dan menuai penolakan. Untuk dinyatakan lolos seleksi kesehatan, ada beberapa hal harus dipenuhi dalam bidang kesehatan.

Kabid Dokkes Polda Papua Barat, AKBP dr. Sariman menjelaskan, dalam penerimaan casis Polri, Biddokkes Polda Papua Barat merupakan sub panitia atau sub sistem yang besar, dimana sistem besarnya diketuai Kapolda Papua Barat dan Kepala Biro SDM sebagai ketua pelaksana.

Ia mengungkapkan, dalam proses seleksi casis Polri, ada beberapa tahapan yang harus dilewati, diantaranya tahapan administrasi, seleksi akademik, dan juga seleksi kesehatan. “Saya yang diberikan tanggung jawab di tes kesehatan,” tandas Sariman yang dikonfirmasi Tabura Pos di salah satu hotel di Kota Sorong, beberapa waktu lalu.

Ditanya tentang kegagalan dari casis dalam proses seleksi kesehatan, Sariman membeberkan, kegagalan itu bisa ditentukan dari aspek fisik dan aspek penunjang. Lanjutnya, dari aspek fisik, kebanyakan juga dari mata, misalkan buta warna atau mata minus.

“Dari tensi. Kalau tensi tinggi lebih dari 140, sudah pasti nggak lulus, karena masih muda, seharusnya tensinya di bawah 140,” tambahnya.

Diutarakannya, dari gigi pun seringkali banyak casis yang gagal. Ia menyebutkan, apabila seorang casis mempunyai gigi ompong meski hanya 1 gigi saja, tetap dinyatakan tidak lulus.

“Gigi yang tidak teratur, itu juga ada kategorinya, ringan sedang, dan berat. Kalau berat, nggak lulus. Kalau gigi yang tidak teratur atau crowded atau tongos, itu juga nggak lulus. Kalau dari gigi, banyak yang menjatuhkan. Gigi tidak teratur, gigi ompong, sakit gigi, dan gigi belakang tumbuhnya melintang, itu juga nggak lulus. Itu baru dari gigi saja,” kata Sariman.

Di samping itu, tambah Kabid Dokkes, dari postur tubuh juga ikut mempengaruhi kelulusan casis Polri. Misalnya, sambung Kabid Dokkes, seseorang yang berkaki X atau O, ada batasan. “Maksimalnya 5 cm. Jadi, kalau diukur masih dalam rentang 5 cm, masih boleh, tetapi melebihi 5 cm, sesuai Perkap dinyatakan tidak memenuhi syarat atau TMS,” papar Sariman.

Ditanya apakah memperbesar alat kelamin juga ikut mempengaruhi kelulusan, ia membenarkannya. “Termasuk, itu di fisik. Dibungkus. Itu kan di Papua banyak anak muda yang sudah itu dan dalam pemeriksaan banyak ditemukan. Itu nggak lulus. Ketentuannya ngomong begitu,” ujar Sariman.

Ia menambahkan, untuk seorang casis Polri yang memiliki tatto atau bekas tatto, sudah dipastikan tidak akan lulus. “Bekas tatto juga tidak lulus. Jadi, yang punya tatto, sekarang mau masuk polisi, pasti nggak lulus, karena aturannya begitu,” katanya.

Bukan itu saja, lanjut Kabid Dokkes, khusus untuk laki-laki apabila ada bekas tindik di telinga, pasti tidak akan lulus, tetapi apabila bekas tindik itu untuk perempuan, masih diluluskan. “Telinga bocor atau gendang telinganya pecah juga tidak lulus,” tegasnya.

Disinggung tentang tes keperawanan terhadap seorang calon Polwan, seperti yang pernah diwacanakan dalam proses seleksi, Kabid Dokkes menandaskan, itu tidak ada. “Kalau tes keperawanan itu nggak ada. Kalau dulu memang, ketentuannya kita tes keperawanan. Kalau nggak perawan, ngak lulus. Kalau sekarang nggak,” tandas Sariman.

Diterangkannya, dalam pemeriksaan fisik, tetap dokter melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan hingga ke alat vital. Pemeriksaan alat vital itu, jelas dia, tujuannya bukan untuk melihat seorang itu perawan atau tidak, tetapi apakah ada penyakit kelamin atau tidak.

“Kalau keputihan atau infeksi, pasti nggak lulus. Itu kalau perempuan ya, lagi infeksi atau hamil, pasti nggak lulus atau ada tumor di daerah situ, pasti nggak lulus. Itu semua yang memeriksa dokter perempuan, tapi bukan melihat perawan atau tidak, cuma mau tidak mau, kalau mau memeriksa di daerah situ kan kelihatan,” pungkas Kabid Dokkes. [HEN-R1]

Dibaca 203 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

INDEX