Ronny Arnaz Sebut Media dan Telkomsel Memiliki Kesamaan Cerita | Pasific Pos.com

| 19 August, 2019 |

Peserta media gathering Telkomsel 2019 di Bali. Peserta media gathering Telkomsel 2019 di Bali.

Ronny Arnaz Sebut Media dan Telkomsel Memiliki Kesamaan Cerita

Ekonomi & Bisnis Penulis  Senin, 08 April 2019 01:41 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Jayapura – Executive Vice President Telkomsel Area Pamasuka, Ronny Arnaz mengatakan media massa dan Telkomsel memiliki kesamaan cerita, yakni sama-sama menghadapi permasalahan tekhnologi yang tak dapat dihindari.

“Terlebih pada media cetak yang semakin berkurang jumlahnya, “ujar Ronny pada kegiatan Media Gathering di Bali bertajuk Leading Digital Transformation Through Solid Collaboration, 4-6 April 2019.

Beberapa waktu lalu, Telkomsel Area Pamasuka menggelar workshop menghadirkan narasumber Dahlan Dahli yang merupakan Direktur Tirbunnews. Tribunnews, kata Ronny, dinilai berhasil mentransformasi media.

“Kita juga harus berlajar bahwa Telkomsel harus bertransformasi, tidak bisa hanya menyediakan layanan data dan voice, terlebih layanan telepon sudah mulai ditinggalkan. Makanya dari sisi transformasi kita menghadapi masalah yang sama, “imbuh Ronny.
“Lawannya media itu adalah Google. Ketika workshop ada pertanyaan dari Pemimpin Redaksi, Telkomsel ada niat menutup Google atau tidak, pertanyaan ini kami anggap berat, sebab sumber penghasilan Telkomsel berasal dari Youtube yang merupakan milik Google, “tambah Ronny.

Telkomsel, kata Ronny, memprofiling hobi masing-masing pelanggan terhadap konten yang disukai. Dari profiling itu, Telkomsel dapat mengetahui pelanggan yang menyukai konten sepakbola, musik dan game, juga konten lainnya.

Ditambahkan, Telkomsel dapat memindahkan pembaca media satu ke media lainnya, lantaran Telkomsel memiliki kemampuan mengarahkan itu. “Dari situ sebenarnya ada suatu sinergi yang benar-benar kita lakukan, “imbuhnya.

Vice President Sales & Marketing Telkomsel Area Pamasuka, Herry Setiawan mengatakan, tahun 2018 porsi voice dan SMS masih sekitar 55 persen, tetapi tahun 2019 turun drastis hanya sekitar 36 persen, sementara porsi data naik signifikan dari 40 persen menjadi 60 persen.

“Ini keniscayaan, terjadi perpindahan kebiasaan. Kedepan, bagaimana meningkatkan revenue digital untuk mengganti revenue yang hilang dari voice dan SMS, “kata Herry. (Zulkifli)

Dibaca 190 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.