Bupati Lepas 14 Perahu Tradisional Suku Sentani ke Danau Sentani | Pasific Pos.com

| 17 February, 2019 |

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw saat melepas secara simbolis 14 perahu tradisional Suku Sentani ke Danau Sentani. Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw saat melepas secara simbolis 14 perahu tradisional Suku Sentani ke Danau Sentani.

Bupati Lepas 14 Perahu Tradisional Suku Sentani ke Danau Sentani

Kabupaten Jayapura Penulis  Senin, 11 Februari 2019 22:15 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

SENTANI - Dalam rangka memperkuat jati diri dan juga identitas budaya asli Suku Sentani, Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E, M.Si secara simbolis melepas sebanyak 14 perahu tradisional ke Danau Sentani, di Kampung Ifale, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Senin (11/02/19) sore.

"Perahu tradisonal atau perahu asli yang di gunakan oleh orang Sentani untuk beraktivitas di danau bukan saja sebagai sarana trasnportrasi. Tetapi sebenarnya mengandung nilai filosofis yang tinggi dalam menceritakan kehidupan dan budaya setempat," ujar Bupati Jayapura Mathius Awoitauw, S.E, M.Si, dalam sambutannya pada pelepasan 14 perahu tradisional ke Danau Sentani, Senin (11/2/19) sore.

Dikatakan, hari ini (kemarin) dirinya berdiri sebagai pejabat begitupun dengan Sekda Kabupaten Jayapura yang baru dilantik, sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) adalah anak-anak Sentani yang tidak bisa dipisahkan dari aktivitas dan juga nilai-nilai budaya dari sebuah perahu tradisional

Dan pelepasan perahu yang dilakukan dirinya itu menjadi sebuah motivasi bagi anak-anak Sentani, untuk kedepan tidak melupakan identitas dan jati diri sebagai orang yang memiliki budaya.

Dirinya menambahkan, perahu tradisional di Danau Sentani telah menolong dan melahirkan sejumlah orang-orang hebat yang kini menduduki jabatan-jabatan di lembaga baik di Eksekutif maupun di Legislatif.

Menurutnya, perkembangan zaman yang begitu pesat berpotensi menggeserkan nilai-nilai budaya bersama aksesorisnya. Sebab itu, pelestariannya harus dilakukan dari sekarang lewat kebijakan-kebijakan pembangunan kampung berbasis kearifan lokal.

Dimana, semasa kecil dan disaat menempuh pendidikan lanjutan tingkat SMP hingga SMA, bagi sebagian anak kampung perahu satu-satunya sarana transportasi yang bisa digunakan untuk melewati danau. Diantara anak-anak tersebut, kin banyak yang telah menjadi pejabat.

“Perahu tidak hanya digunakan sebagai sarana transportasi bagi anak sekolah, tetapi perahu juga digunakan oleh orang tua untuk mencari ikan, yang selanjutnya akan di jual guna mendapat uang, kelak digunakan sebagai biaya pendidikan bagi anak-anaknya,” tegasnya.

Untuk itu, dirinya memberikan apresiasi dan juga ucapkan terima kasih kepada Pemerintah Tingkat Kampung Ifale, yang telah memprogramkan pengadaan perahu tradisional sebagai wujud pelestarian nilai-nilai kearifan lokal.

Mathius Awoitauw mengharapkan, pengadaan perahu tradisional seperti di Ifale dapat dilakukan oleh kampung-kampung lain di Danau Sentani supaya penghormatan terhadap budaya setempat dapat dilesatarikan.

"Kita sedang berbicara untuk mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal. Sehingga pengadaan perahu tradisional menjadi suatu langkah nyata dalam menjaga nilai kearifan lokal tersebut," paparnya.

Sebab itu, Bupatu Mathius yang juga sebagai salah satu anak Danau yang pernah merasa danau di danau mengajak semua pihak terutama masyarakat kampung lewat pemerintah dapat mengembalikan atau meningkatkan nilai-nilai budaya dan aksesoris budaya yang kian punah.

Dibaca 31 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.