Kemiskinan Papua Mengalami Penurunan 0,31 persen | Pasific Pos.com

| 19 April, 2019 |

Kemiskinan Papua Mengalami Penurunan 0,31 persen

Info Papua Penulis  Selasa, 15 Januari 2019 19:46 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

JAYAPURA,- Tingkat Kemiskinan Provinsi Papua selama enam bulan terakhir mengalami penurunan sebesar 0,31 Persen poin yaitu dari dari 27,74 pada Maret 2018 menjadi 27,43 persen pada September 2018.

Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik Provinsi Papua, Bagas Susilo saat menyampaikan reales BPS Papua, Selasa (15/1/2019) mengungkapkan, Selama 19 tahun terakhir (1999-2018) kondisi kesejahteraan masyarakat Papua kian membaik, tercatat persentase penududuk miskin pada periode tersebut menurun secara signitifikan sebesar 27,32 persen poin yaitu dari 54,75 persen pada Maret 1999 menjadi 27,43 pada September 2018.

"Pada lima tahun pertama Otsus Papua berjalan (2001-2005) persentase penduduk miskin menurun sebesar 0,97 persen yaitu dari 41,83 persen. Sedangkan pada lima tahun kedua pelaksanaan Otsus (2006-2010) presentase penduduk miskin menurun sebesar 4,72 persen," jelasnya.

Penurunan presentase penduduk miskin terbesar terjadi pada periode Maret 2010 - 'Maret 2011 dimana terdapqt 4,82 persen penduduk yang pada tahun 2010 penghaailannya dibawa garis kemiskinan kini tergeser di atas garis kemiskinan sehkngga menjadi tidak miskin.

Sementara penduduk miskin di Provinsi Papua terkosentrasi di daerah pedesaan, dimana pada September 2017 terdapqt 36,75 persen penduduk miskin tinggal di perdesaan. sedangkan di perkotaan hanya sebesar 4,01 persen.

"Jika dibandingkan dengan kondisi periode sebelumnya. (Maret 2018) terdapqt kenaikan presentase penduduk miskin di daerah perdesaan sebesar 0,02 persen poin. Untuk daerah perkotaan persentase penduduk miskjn mengalami penurunan sebesar 0,50 persen poin.

Lanjutnya, pegunungan hampir pasti menjadi kantong kemiskinan tertinggi di Bumi Cenderawasih seperti Lanny Jaya, Intan Jaya, Deiyai, Tolikara, Yalimo, Nduga, Yahukimo dan lain sebagainya

"Setelah Lanny Jaya, tempat kedua diduduki Intan Jaya dan ketiga adalah Deiyai, hal ini berdasarkan data kemiskinan pada Maret 2018," katanya.

Menurut Bagas, meskipun wilayah pegunungan hampir pasti menjadi kantong kemiskinan, namun bukan berarti wilayah pesisir tidak, ada beberapa kabupaten tertentu yang juga terindikasi seperti Asmat, Boven Digoel dan lain sebagainya

"Indikator kemiskinan ini dipengaruhi oleh komoditi makanan, di mana perannya dalam Garis Kemiskinan (GK) jauh lebih besar dibandingkan dibandingkan peranan komoditi bukan makanan yakni perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan," ujarnya.
Dia menjelaskan untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep pembangunan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach), di mana dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.

Dibaca 128 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.