Wawancara Eksklusif Purnawirawan TNI, Terduga Pelaku Pembunuhan Rima Boro | Pasific Pos.com

| 15 November, 2018 |

Wawancara Eksklusif Purnawirawan TNI, Terduga Pelaku Pembunuhan Rima Boro

Papua Barat Written by  Jumat, 19 Oktober 2018 12:25 0
Rate this item
(0 votes)

Ransiki, TP – DP (58 tahun), pria yang diduga kekasih dan terduga pelaku pembunuhan Rima Boro yang ditemukan tewas di salah satu kontrakan di Lembah Hijau, Transito, Wosi, Manokwari, akhirnya ditangkap anggota Polsek Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel), Kamis (18/10) sekitar pukul 10.26 WIT.

Pria yang merupakan purnawirawan TNI ini diamankan anggota Polsek Ransiki, Bripka Olof Lapondo di salah satu warung makan tanpa perlawanan. Saat itu, DP baru turun dari mobil Toyota Hilux berwarna putih bernopol PB 8244 MB yang dikemudikan Saparudin untuk sarapan sebelum melanjutkan perjalanan ke Teluk Bintuni.

Secara eksklusif kepada Tabura Pos di Polsek Ransiki, setelah diamankan pihak kepolisian, DP menyangkal telah membunuh Rima Boro dan mengaku baru tahu kekasihnya itu tewasnya setelah diamankan anggota Polsek Ransiki.

Ditanya apakah dirinya mempunyai hubungan dengan korban, DP membenarkan dan sudah berlangsung sekitar 5 tahun lamanya. Bahkan, kata DP, mereka sudah merencanakan pernikahan, tetapi rencana itu berubah setelah korban pulang dari Jakarta.

“Saya melihat perilakunya mulai berubah sejak pulang dari Jakarta seminggu yang lalu. Jadi, mulai komunikasi lewat handphone, saya telpon sering nomornya sibuk berjam-jam, WA (WhatsApp) saya diblokir, SMS juga sama,” ungkap DP yang juga mengaku anggota LSM Badan Pemantau Korupsi RI dengan jabatan Kabiro Investigasi Intelijen di Provinsi Papua Barat tersebut.

Lanjut dia, 4 hari lalu, tepatnya Sabtu (13/10), korban sempat meminta doa restu dari dirinya untuk menikah dengan pria lain. “Saya sampaikan bahwa ko bagaimana, kenapa kasih ruang untuk orang lain, sementara saya sudah serius untuk nikah dengan ko. Tapi jawabannya, lebih baik saya mati daripada saya nikah dengan ko yang sudah tua, tidak ada uang, miskin, kepala botak lagi,” cerita DP, menirukan keterangan korban yang berstatus aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat ini.

Dirinya mengaku sangat kecewa atas perkataan korban dan merasa harga dirinya diinjak-injak. “Saya merasa harga diri saya diinjak-injak. Padahal saya ini sudah sampaikan di pendeta, dalam waktu dekat saya akan menikah agar sah di hadapan gereja serta jemaat. Kalau ada masalah, saya selalu mengalah,” tutur DP.

Ditanya tentang perubahan dari diri korban, DP mengaku bukan hanya perilakunya yang berubah, tetapi kunci pintu kontrakan juga sudah diganti sekitar 3 hari lalu.

“Saya pikir ada apa dengan dirinya. Dulu itu saya datang di rumah, selalu cium, tapi sejak pulang dari Jakarta, ini sudah berubah semua. Selama ini saya datang, kami tidak buat apa-apa, karena kami hanya di kamar tamu saja,” tambahnya.

Dicecar tentang tujuan kedatangannya ke kontrakan almarhumah, Rabu (17/10) siang, DP mengaku hanya ingin menyampaikan bahwa hari ini, Jumat (19/10), seorang keponakan korban akan berulang tahun. “Sebelum dia sampai di kontrakannya, saya telpon, karena hari Jumat, keponakannya yang tinggal di Amban akan ulang tahun, tapi jawabannya cuek saja,” ungkapnya.

Bukan itu saja, DP mengatakan sempat menanyakan alasan korban membuka ruang untuk pria lain, tetapi korban menjawab, mendingan mati saja daripada harus menikah dengan DP.

“Dia bilang mendingan saya mati daripada harus nikah dengan ko yang sudah tua dan kepala botak ini. Saya rasa harga diri saya semakin diinjak-injak. Saya laki-laki pak,” tukasnya.

Dicecar apakah dirinya yang telah membunuh korban, DP mengaku baru mengetahui jika korban sudah meninggal dunia setelah didatangi polisi. “Saya baru tahu bahwa dia meninggal ketika saya didatangi anggota Polsek tadi,” kata DP.

Disinggung tentang tujuannya ke Kabupaten Teluk Bintuni, DP yang juga pernah pengamanan di salah satu perusahaan di Teluk Bintuni itu, mengatakan, dirinya ke Teluk Bintuni untuk menagih utang untuk persiapannya menikah nanti.

Dari pantauan Tabura Pos, setelah diamankan di Polsek Ransiki, selanjutnya tim penyidik dari Polsek Manokwari Kota naik ke Ransiki untuk menjemput terduga pelaku untuk dibawa ke Manokwari, sekitar pukul 13.55 WIT.

Sebelumnya, warga di sekitar Lembah Hijau, Transito, Wosi digegerkan dengan penemuan mayat seorang perempuan yang tewas bersimbah darah, Kamis (18/10) sekitar pukul 07.45 WIT. Di tubuh korban ditemukan luka bacok di leher sepanjang 9 cm dengan kedalaman 4 cm.

Kapolres Manokwari, AKBP Adam Erwindi mengungkapkan, pada pukul 09.30 WIT, setelah menerima laporan, anggota Polsek Manokwari Kota  langsung menuju tempat kejadian perkara (TKP).

Berdasarkan hasil identifikasi, korban diketahui bernama Rima Boro (34 tahun), seorang ASN yang beralamat di Jl. Merapi, Fanindi ST. Dalam kasus ini, Erwindi menambahkan, pihaknya sudah memeriksa sejumlah saksi, diantaranya SA (22 tahun) dan AN (30 tahun).

Lanjut Kapolres, setelah melakukan olah TKP dan memeriksa sejumlah saksi, ditemukan seseorang yang dicurigai. Atas dasar kecurigaan itu, pihaknya melakukan penggeledahan di rumah orang tersebut.

Dalam penggeledahan yang dipimpin Kapolsek Manokwari Kota dan Kanit Reskrim, pihaknya menemukan baju dengan bekas bercak darah dan pisau yang juga terdapat noda darah yang masih segar.

“Karena penemuan tersebut, sehingga dilakukan pencarian terhadap pemilik baju dan pisau yang diduga tersangka pembunuhan. Sayangnya, setelah dilakukan pencarian, beredar kabar pelaku telah melarikan diri ke arah Ransiki,” terang Kapolres.

Untuk mengantisipasi pelaku keluar dari wilayah hukum Polres Manokwari, pihak kepolisian melakukan razia di jalan-jalan. Kapolsek Ransiki dan anggotanya melakukan razia angkutan umum dari Manokwari menuju Teluk Bintuni.

Diungkapkan Kapolsek, pelaku dibekuk anggota Polsek Ransiki setelah mencocokkan foto yang dikirim anggota Polsek Manokwari Kota. Berdasarkan hasil identifikasi, pelaku diketahui berinisial DP, seorang purnawirawan yang tinggal di Jl. Merapi, Fanindi, Manokwari.

“Berdasarkan hasil interogasi, motif pembunuhan karena pelaku cemburu, korban telah menjalin hubungan asmara dengan lelaki lain, sementara pelaku dan korban sudah menjalin hubungan selama 5 tahun,” tambah Erwindi.

Disebutkan Kapolres, terduga pelaku juga mengaku dirinya sakit hati, karena korban menghinanya dengan nada serta ucapan kasar, seperti sudah tua, jelek, botak, miskin, pensiunan, dan gaji kecil. [CR35/CR45-R1]

Read 202 times

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

INDEX