GERCIN Papua Angkat Bicara Terkait Tuntutan Pembebasan Pelaku Makar | Pasific Pos.com

| 15 November, 2018 |

Ketua DPD Gercin Papua, Albert Ali Kabiay (kedua dari kiri) Ketua DPD Gercin Papua, Albert Ali Kabiay (kedua dari kiri)

GERCIN Papua Angkat Bicara Terkait Tuntutan Pembebasan Pelaku Makar

Sosial & Politik Written by  Kamis, 27 September 2018 20:40 1
Rate this item
(0 votes)

JAYAPURA,- Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Rakyat Cinta NKRI (DPD Gercin) Provinsi Papua angkat bicara terkait aksi Puluhan mahasiswa yang menyatakan dirinya sebagai Masyarakat Solidaritas Rakyat Papua (MSRP) yang mendatangi DPR Papua guna menyampaikan aspirasi untuk meminta dan menuntut Pihak kepolisian segera membebaska Simon Carol Magal.

Menurut Ketua DPD Gercin Papua, Albert Ali Kabiay aksi yang dilakukan sekelompok mahasiswa yang menyatakan dirinya sebagai Masyarakat Solidaritas Rakyat Papua (MSRP) merupakan aksi yang salah, mengingat apa yang dilakukan oleh Simon Carol Magal adalah salah serta melanggar hukum sehingga apa yang dilakukan pihak kepolisian merupakan langkah yang tepat.

 

baca, Puluhan Mahasiswa Tuntut Bebaskan Simon Carol Magai


Namun menurut Albert apabila yang bersangkutan tidak bersalah maka pihak kepolisian tau apa yang dilakukan, tidak mungkin bersangkutan ditangkap kalau tidak bersalah dan biarlah pihak kepolisian melakukan pekerjaan mereka yang telah ditentukan oleh undang-undang.


"Menyangkut tertangkapnya Simon Magal kalau yang bersangkutan bersalah maka harus di proses hukum sesuai undang-undang yang berlaku, namun sebaliknya kalau tidak terbukti maka yang bersangkutan harus dilepaskan," ungkapnya saat ditemui di salah satu cafe, Kamis (27/9) sore.


Dirinya pun mengharapkan apabila kelpom ataupun keluarga ingin mendukung yang bersangkutan kiranya dapat menempuh jalur hukum yang ada.


"Kalaupun ada yang merasa keberatan dengan proses hukum yang dilakukan oleh aparat kepolisian silahkan menempuh jalur hukum dan jangan ada intervensi melalui lembaga-lembaga negara yang ada di NKRI sehingga tidak menimbulkan perpecahan dan memperkeruh proses penyidikan yang dilakukan oleh aparat kepolisian dalam. Hal ini Polda Papua,"tuturnya.


Dirinya pun mengharapkan agar proses hukum terhadap yang bersangkutan dapat diserahkan kepada aparat penegakan hukum, karena polisi tidak mungkin menangkap dan memproses jikalau tidak cukup unsur dan bukti, karena kehadiran polisi sudah jelas sebagai pengayom masyarakat dan memberikan perlindungan kepada masyarakat.


" Kami minta untuk masyarakat tidak usah terprovokasi dengan berita atau informasi tidak benar yang beredar ditengah-tengah masyarakat sehingga tidak mengganggu proses penyidikan serta jangan menyalahkan pihak kepolisian dalam proses Simon Calor Magal," terangnya.

 

Sementara itu perlu diketahui puluhan mahasiswa yang menyatakan dirinya sebagai Masyarakat Solidaritas Rakyat Papua (MSRP) untuk Simon Carol Magal, mendatangi kantor DPR Papua guna menyampaikan aspirasinya dan menuntut agar segera membebaska Simon Carol Magal untuk dibebaskan dari penjara.


Kehadiran puluhan Mahasiswa itu, diiterimah oleh Anggota Komisi I DPR Papua bidang Pemerintahan, Politik, Hukum dan HAM, Laurenzius Kadepa bersama beberapa rekannya dari jalur pengangkatan 14 kursi masing-masing Yonas Alfons Nussy, Fery Omaleng dan Jhon Willi.


Menurut pendemonstarsi, penangkapan terhadap Simon pada tanggal 1 September 2018 oleh tim khusus Polda Papua tanpa didahului dengan sura pemanggilan,dan juga pasal-pasal yang ditudukan kepada Simon Magal sesunguhnya sangat bertolak belakang dengan fakta dilapangan dengan pribadi seorang Simon Magal.


Dengan alasan itulah, sehingga mereka menuntut segera membebaska Simon Carol Magal untuk dibebaskan dari penjara.


Dalam pernyataan sikapnya yang disampaikan oleh Koordinator lapangan Eligeise Kenawakme kepada DPR Papua, bahwa kami menagaskan dan meminta kepada Kepala Kepolisian RI melalui kepala Kepolisian Polda Papua untuk membebasakan Simon Magal dari segala tuduhan supaya dia dapat melanjutkan Sastra 2, dan dia dapat berkumpul kembali bersama keluarganya.


Padahal lanjutnya, Presiden Indonesia sesuai janji-janjinya selama ini bagi Papua untuk membuka ruang demokrasi,kebebasan hak asasi manusia dan megijinkan para Jurnalis asing,pekerja kemanuasian,akademisi dan pelapor khusus HAM PBB untuk berkunjung ke Wets Papua.


Usai menerimah pernytaan sikap dari para pendemo itu, Laurenzius Kadepa dihadapan puluhan pendemo mengatakan, terkait dengan aspirasi yang kami sudah terimah dan tahapan pertama kami sudah lakukan yaitu menghubungi Kapolda Papua terkait penangkapan tersebut.


"Jadi kami DPR Papua tidak tinggal diam, dan aspirasi ini akan kami kawal terus hingga Simon dapat dibebaskan," ujar Kadepa.


Namun kata Laurenzius Kadrepa, untuk tahapan kedua nantinya, dimana dalam pernyataan tadi tentang
tuntutan pembebasan saudara Simon Magal.


"Itu juga kami akan upayakan dan secepatnya kami akan menghubungi Kapolda, " pungkasnya.

Read 161 times

1 comment

  • Comment Link Johan 27/ 09/ 2018 posted by Johan

    Dasarrr tunggu uang k apa? Jeee malu k? Gerakan micin.

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.