Pacu Pertumbuhan Ekonomi, Wantannas Buka Industri Kopi Di Papua | Pasific Pos.com

| 18 October, 2018 |

Pacu Pertumbuhan Ekonomi, Wantannas Buka Industri Kopi Di Papua

Ekonomi & Bisnis Penulis  Senin, 24 September 2018 17:46 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

JAYAPURA,- Pemerintah Provinsi Papua mendorong pengembangan sagu dan kopi, untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

Gubernur Papua, Lukas Enembe,S.IP.MH, mengatakan, pengembangan sagu dan kopi memiliki potensi yang cukup besar.


“untuk mengembangkan sagu dan kopi di Papua membutuhkan tenaga pemikir. Sehingga kopi dan sagu ini dapat mensejahterahkan masyarakat Papua, sebab sagu merupakan kebutuhan pokok masyarakat Papua. Selain itu kopi Papua luar biasa potensial terutama di wilayah gunung. namun yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana cara pengembannya dengan baik,”ujar Gubernur kepada wartawan usai melakukan pertemuan dengan Dewan Ketahanan Nasional, Senin, 24 September 2018.


Untuk mewujudkan pengembangan sagu dan kopi di Papua, kata Lukas Enembe, perlu didukung kualitas sumber daya manusia yang memadai.


“sumber daya manusia Papua kita memang rendah, kita tidak mampu mengelolah, kita masih membutuhkan orang-orang yang mempuntai keahlian,” katanya.


Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, Mayjen TNI Doni Monardo mengatakan pihaknya berencana akan membuka industri kopi di Papua dan Papua Barat.


"Untuk rencana ini pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, perlu kerjasama dengan seluruh komponen, sehingga kedepan program ini bisa menjadi unggulan buat Papua," katanya.


Menurut ia, salah satu kopi Papua jenis Tipiki menjadi termahal di Indonesia, yang mana dijual seharga Rp 5.3 juta per kilo. "Kopi jenis ini berasalah dari Tiom, Kabupaten Lanny Jaya, Papua.


Kopi yang berasal dari Tiom, Kabupaten Lanny Jaya Papua salah satu jenis kopi yang termahal di Indonesia, dengan jenis Tipika. Rp5,3 juta per kilo.


"Muda-mudahan adanya kerjasama dengan pemerintah provinsi, kabupaten, kota, kepala suku, ondoafi dan pihak lainnya di Papua, produksi Indonesia makin banyak karena lahan di Papua memungkinkan untuk dikembangkan," ujarnya.


Ia katakan, sisa-sisa kopi sepeninggalan Hindia-Belanda di wilayah Pegunungan Tengah Papua masih sangat banyak. Untuk itu perlu dikelola dikembangkan lebih baik lagi. "Semoga program ini bisa berjalan dengan baik," sambungnya.

Dibaca 53 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.