BEI Edukasi Mahasiswa Unipa Tentang Pasar Modal | Pasific Pos.com

| 18 October, 2018 |

BEI Edukasi Mahasiswa Unipa Tentang Pasar Modal

Papua Barat Penulis  Senin, 24 September 2018 14:39 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Bursa Efek Indonesia (BEI) cabang Papua Barat menggelar seminar pasar modal di Fakultas Ekonomi Universitas Papua (Unipa) dan fakultas lainnya.

Seminar ini juga sekaligus untuk mengajak mahasiswa/I Unipa menanam saham dan menjadi investor pemula. “Dengan tema saat ini yang muda yang berinvestasi maka peserta, penerima beasiswa Bidikmisi Universitas Papua (Unipa), dari berbagai fakultas, dan juga berbagai angkatan, kami ingin memberikan pemahaman bahwa sejak muda mereka sudah bisa memulai investasi khususnya di pasar modal Indonesia,” jelas Kepala Bursa Efek cabang Manokwari, Adevi Sabath Sofani, di aula Fakultas Ekonomi Universitas Papua (Unipa), Sabtu (22/9).

Untuk menjadi investor pemula di pasar modal, Adevi menjelaskan caranya sangat mudah dan terjangkau, sehingga bisa dimanfaatkan oleh para mahasiswa Unipa. Sebab, BEI juga telah membuka saham disekitar lingkungan fakultas, makanya, mahasiswa bisa buka rekening saham di stand yang tersedia, dengan membuka rekening saham.

Adevi menjelaskan, pengenalan ini tidak ada klasifikasi kelas apapun yang terbagi, sehingga bagi yang baru menanamkan sahamnya, bisa menjadi investor pemula. “Jadi masih banyak tahapan yang dilalui, dan mereka harus belajar dengan teman-teman yang sudah lebih menguasai pasar modal. Pihak BEI juga akan terus mengedukasi,” jelasnya.

Rata-rata, para dosen Unipa khususnya dosen FEB, kata Adevi, sudah menjadi investor yang aktif bertransaksi yang jumlahnya mencapai sebanyak 135 orang.

Menurut Adevi, pada dasarnya hukum ekonomi berkaitan, jadi tidak ada yang bisa menelisik kapan saham naik dan turun, yang pasti penurunan saham tersebut akan sangat mempengaruhi pasar modal. 

Dalam seminarnya, Adevi juga menjelaskan tentang nilai tukar rupiah yang melemahnya cukup luar biasa, disebabkan oleh pengaruh asing yang masuk. Ada aksi jual dari pihak asing itu sendiri, tetapi kalau dilihat lagi ke keadaan ekonominya Indonesia, itu tidak ada masalah yang berarti, “cadangan devisa kita bagus, GDP Indonesia juga masih bagus, ada pertumbuhan ekonomi, bahkan di triwulan kedua sebesar 5,7.

Diakui Adevi, inflasi per Agustus mencapai 3,2%. Angka kemiskinan dan lain-lain sebagai pengikut dari turunnya rupiah. “Itu yang menjadi catatan kebijakan-kebijakan dollar yang membuat dollar itu menguat lalu rupiah melemah yang akhirnya berdampak ke dunia. Jepang, Korea, bahkan Negara Turki Lainnya sampai turun sebanyak 40%.

Lebih lanjut Adevi menjelaskan, dampak penurunan nilai tukar cukup berbahaya. Tentunya, BI akan terus memantau agar tidak sampai turun lagi, sebab dampaknya ke IHSG adalah ketika pihak asing menjual, karena pasar modal Indonesia 47 persen masih menjadi milik asing yang biasa digunakannya untuk aksi jual, sementara 53% milik Indonesia. [CR48-R3] 

Dibaca 172 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.