Inilah Saran Anton Tromp Seputar Program Manokwari Nol Sampah | Pasific Pos.com

| 25 September, 2018 |

Inilah Saran Anton Tromp Seputar Program Manokwari Nol Sampah

Papua Barat Penulis  Senin, 13 Agustus 2018 20:05 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Program Nol Sampah di Kabupaten Manokwari, sebenarnya tidak diperlukan apabila setiap keluarga, mulai orang tua mensosialisasikan agar jangan membuang sampah sembarang kepada anak-anaknya.

“Program Manokwari Nol Sampah tidak perlu, tetapi diperlukan sosialisasi dan pendidikan dalam keluarga untuk membuang sampah pada tempatnya,” terang AntonTromp, Rektor SMP Katolik Villanova, Maripi, Manokwari kepada Tabura Pos, Minggu (12/8).

Diutarakannya, berdasarkan informasi yang dibacanya, Indonesia menempati posisi kedua dari seluruh negara di dunia yang paling banyak mencemari lingkungan dengan membuang sampah plastik dan sampah lain. Lanjut dia, di Singapura, membuang puntung rokok di sembarang tempat, akan didenda Rp. 500.000.

Di Indonesia, kata dia, membuang sampah sembarang terkesan sudah menjadi budaya dan orang segan saling menegur satu sama lain.

Dicontohkannya, ketika orang membuang sampah sembarang, ditegur, tentu membuat orang tersinggung, karena orang sering berpikir, itu bukan urusan orang lain. Dengan begitu, lanjut dia, orang tidak saling mengingatkan dan beranggapan urusan begitu menjadi urusan masing-masing orang.

Tromp menambahkan, program ini masih jauh, karena masih banyak orang membuang sampah sembarang. Di negara lain, lanjut dia, orang bahkan sudah meninggalkan plastik dan tidak membelinya di toko.

Sebab, Tromp memaparkan, jika satu kantong plastik dibakar akan tersisa satu gumpalan dan menurut para ahli, gumpalan plastik ini akan hancur, membutuhkan waktu 400 tahun. “Jadi, kita sebenarnya menguburkan diri sendiri di bawah sampah plastik,” tuturnya.

Oleh sebab itu, ia menyarankan masyarakat supaya tidak menggunakan plastik dan sebaiknya membawa tas dari rumah atau membungkus barang yang dibeli dengan kertas atau tas kertas. Untuk mewujudkan hal ini, Tromp mengatakan, toko juga harus diberikan kesadaran, tidak perlu lagi memberikan kantong plastik.

Diungkapkannya, untuk mewujudkan Manokwari Nol Sampah, maka ajarkanlah masyarakat untuk memisahkan sampah organik dan non organik, saling menegur satu sama lain tanpa harus merasa tersinggung.

“Ciptakan budaya baru, saling menegur, bersosialisasi melalui keluarga dan rumah tangga untuk membuang sampah pada tempatnya. Pertama-tama mengubah mentalitas dengan pendidikan dalam keluarga, seperti banyak hal lain,” tambahnya.

Di samping itu, Dinas Kebersihan harus tahu mengatur dengan cara yang canggih dan modern, toko didenda jika kedapatan membuang sampah sembarangan. Bukan itu saja, Tromp berharap masyarakat harus bermental taat pada aturan, bersedia ditegur dan menegur, saling menanggung beban, tidak melempar kesalahan kepada pemerintah, tetapi saling mengingatkan dalam keluarga.

“Penting juga diingatkan bahwa di tempat lain, sampah tidak diperbolehkan dibakar, mengingat dampaknya pada lapisan Ozon menjadi berlubang yang berakibat pada global warming (pemanasan global). Selain itu, kita juga belum ada kemauan mengubah sampah-sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat, seperti kompos dan barang hasil uraian lain,” tukasnya. [CR47-R1] 

Dibaca 163 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.