Sistem Zonasi Masih Menimbulkan Pro dan Kontra | Pasific Pos.com

| 21 October, 2018 |

Sistem Zonasi Masih Menimbulkan Pro dan Kontra

Papua Barat Penulis  Sabtu, 21 Juli 2018 07:44 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Penerimaan murid baru tahun ajaran 2018/2019 dengan menggunakan sistem zonasi (wilayah) masih menimbulkan pro dan kontra, karena ada pihak yang mendukung program ini dan ada juga yang tidak.

Sebagian pihak yang mendukung penerapan sistem zonasi adalah pihak sekolah salah satunya SD Negeri 08 Arfai.  

Kepala SD Negeri 08 Arfai, Niko Koridama, mengaku sangat terbantu dengan penerapan sistem zonasi tersebut. 

“Pada dasarnya kami berterima kasih kepada pemerintah terutama dinas pendidikan yang sudah menggunakan zonasi dalam penerimaan murid baru kali ini,” tutur Koridama saat ditemui di ruangannya, Jumat, (20/7).

Menurut Koridama, sistem zonasi sangat penting dalam penerimaan murid baru, karena bisa meminimalisir adanya murid dari tempat yang jauh. Di samping itu, bisa mengakomodir semua anak di wilayah kerja suatu SD.

“Pada tahun sebelumnya ada yang dari kota yang mendaftar di sini. Bayangkan saja berapa sekolah yang ia harus lewati sampai sini. Tahun ini kami menerima murid baru 105 anak, tetapi pada saat pendaftaran seluruhnya berjumlah 150 anak. Namun, dengan adanya program zonasi, kami kemudian mengklarifikasi anak yang mendaftar sesuai wilayah kerja kami, sedangkan yang tidak masuk dalam wilayah SDN 08 Arfai, kami tolak,” ungkap Koridama.

Koridama mengatakan, tidak mengetahui alasan apa sampai jumlah murid baru di sekolah yang dipimpinnya tahun 2018 sangat banyak, seperti telah menjadi SD idaman bagi orang tua.

Pihaknya kata Koridama, dalam mendidik anak, tetap berpaduan dengan aturan yang berlaku, tegas, disiplin, dan kreatif, seperti wajib mengikuti apel pagi, berpakain rapi, dan lainnya. 

“Dalam sistem pembelajaran, saya minta kepada guru agar sadar dan tahu bahwa guru adalah buku yang hidup. Oleh karena itu, guru tidak perlu menggunakan buku paket dalam proses belajar. Mengapa, karena ketika guru menggunakan buku paket kepada anak-anak, ada kemungkinan anak-anak hanya diberikan pekerjaan, disuruh buka buku dan selesai. Oleh karena itu dengan guru sebagai buku hidup, maka guru harus selalu hadiir di kelas. Jadi yang pertama yang harus dibentuk adalah gurunya,” beber Koridama.

Koridama mengatakan mengibaratkan sekolah layaknya warung makan, sehingga ketika orang merasakan makanan enak, orang pasti beramai-ramai untuk merasakannya.

“Kami tidak menilai sekolah kami bagus atau hebat tetapi kami hanya ingin menunjukan fungsi dan tanggung jawab kami sebagai pengajar dan juga sebagai pendidik. Kami menjalankan tugas kami sebagi guru maka itu yang kami lakukan jadi yang utama dalam dalam sekolah ini adalah proses belajar mengajar, yang lain akan ikut dari belakang,” ungkap Koridama.

Ditanya mengenai jumlah rombonga belajar, Koridama, mengatakan di SD Negeri 08 Arfai ada 18 rombongan belajar (rombel), dimana setiap kelas dibagi ke dalam tiga rombel dan ditunjang dengan 9 orang guru PNS termasuk guru agama.

“Hal lain bahwa guru juga perlu diperhatikan soal kesejahteraannya. Mengapa, karena ketika guru merasa kebutuhannya bisa dipenuhi berkat tugas dan tanggungjawabnya sebagai pengajara dan pendidik maka ia akan memberikan yang terbaik kepada anak-anak. Oleh karena itu, untuk guru-guru honor yang ada di sini selalu kami perhatikan. Istilahnya semua sama-sama rasa meskipun ada batasan terhadap gaji honor,” pungkas Koridama.

Sementara itu, penolakan diterapkannya sistem zonasi dalam penerimaan murid baru diungkapkan salah satu orang tua murid yang tinggal di Maripi. 

Ibu rumah tangga yang namanya enggan di korankan ini, mengaku kecewa dan tidak setuju diterapkannya sistem zonasi dengan alasan mutu pendidikan di Manokwari belum seluruhnya merata.

Ia mengungkapkan, terpaksa mendaftarkan anaknya di SD Negeri 08 Arfai, karena dirinya merasa mutu pendidikan SD di wilayah Maripi sangat meragukan.

“Bukannya kami tidak ingin mendaftarkan anak kami di sekolah terdekat di sekitaran Maripi, tetapi kami melihat sendiri bagaimana sekolah itu banyak kali waktu liburnya. Anak-anak hampir sepanjang jam sekolah hanya datang bermain dan pulang. Oleh karena itu kami mencoba mendaftarkan anak kami ke SDN 08 Arfai, tetapi justru kami ditolak dengan alasan bahwa Maripi di luar batas wilayah SDN 08 Arfai,” ungkapnya denan nada kesal. [CR47-R4] 

Dibaca 262 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.