Kehadiran Freeport Bakal Mengancam Generasi Suku Komoro | Pasific Pos.com

| 16 August, 2018 |

Mathea Mamoyau, S. Sos Mathea Mamoyau, S. Sos

Kehadiran Freeport Bakal Mengancam Generasi Suku Komoro

Sosial & Politik Penulis  Kamis, 19 Juli 2018 00:32 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Mathea : Kami Bersuara Karena Kami Kehilangan Habitat



Jayapura, -  Legislator Papua dari suku Komoro Kabupaten Mimika, Mathea Mamoyau menudiing kehadiran PT Freeport Indonesia bakal mengancam keberlangsungan generasi masa depan suku Komoro.

Apalagi kata Sekretaris Komisi I DPR Papua ini, hutan dan sagu yang menjadi kehidupan suku Kamoro telah hilang akibat tailing Freeport. Dampak ini jelas akan mengancam keberlangsungan hidup generasi masa depan Kamoro.

"Kami bersuara karena kami kehilangan habibat yang ada di sana, memang kami sempat dalam pembahasan mengenai Freeport pada tahun 2000. Namun setelah itu tidak lagi," kata Mathea Mamoyau kepada Paaific Pos, Rabu (18/7/18).

Diakuinya,  jika ia  juga pernah bicara mengenai kompensasi suku Kamoro hingga 2013, namun hilang tak ada lagi keterlibatan pihaknya.

"Beberapa kali pembahasan kontrak karya kami tak dilibatkan. Hingga kini bicara divestasi dan saham kami. Padahal kalau mau melihat sejarah, kami juga tahu sejarah itu," tukasnya.

"Makanya saya minta orang Jakarta tolong libatkan kami, Kami masih ada dan kami selalu bicara keberlangsungan hidup masyarakat Kamoro sendiri," tandasnya.

Bahkan,  ia justru merasa ada pemusnahan perlahan-lahan dalam keberlangsungan hidup masyatakat Komoro.

Padahal kata Mathea, ia sendiri tak punya kepentingan pribadi, hanya ingin agar keberlangsungan hidup sukunya terus terjaga.

"Kompensasi yang ada satu persen dari Freeport tidak menjamin keberlangsungan generasi kami ke depan, saya sendiri tidak tahu apakah kompensasi ini masih ada atau seperti apa." ketusnya.

Hanya saja, Mathea  tak ingin jika kompensasi dari Freeport hanya dinikmati oknum-oknum tertentu, sedangkan masyarakatnya hidup di atas kemiskinan.

Bahkan kata Mathea, dampak yang ditimbulkan tailing Freeport selama ini yakni menghilangkan area yang selama ini dijadikan masyarakat mencari sumber penghidupan.

Selain itu, sambungnya,  tak ada pelayanan kesehatan dan pendidikan memadai.

Politisi Partai PDI Perjuangan ini menambajkan,  jika selama ini ada orang sakit selalu dirujuk ke rumah sakit Karitas, milik Freeport. Padahal yang diinginkan masyarakat sebenarnya adalah  bagaimana memperbaiki pendidikan dan kesehatan masyarakat sekitar.

 "Saya cemburu karena anak-anak Kamoro tak mendapat beasiswa yang baik, bahkan mereka tidak ada yang disekolahkan ke luar negeri," beber wanita asal Komoro ini. (TIARA)

Dibaca 98 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.