Konsumsi Ikan Segar dan Tarif Angkutan Udara Dorong Inflasi Papua Barat | Pasific Pos.com

| 16 November, 2018 |

Konsumsi Ikan Segar dan Tarif Angkutan Udara Dorong Inflasi Papua Barat

Papua Barat Written by  Minggu, 08 Juli 2018 00:07 0
Rate this item
(0 votes)

Manokwari, TP – Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) Papua Barat, inflasi Papua Barat pada bulan Juni 2018 sebesar 1,20 persen (mtm). Tingkat inflasi tersebut relatif hampir sama dengan beberapa daerah di Kawasan Timur Indonesia yakni Maluku sebesar 1,05 persen, Maluku Utara sebesar 1,71 persen, dan Papua sebesar 093 persen.

Inflasi bulan Juni lebih tinggi dibandingkan dengan bulan Mei yang tercatat sebesar 0,66 persen. Hal ini didorong oleh berbagai kenaikan komoditas bahan makanan terutama bahan pangan bergejolak.

Menurut Kepala Perwakilan BI Provinsi Papua Barat, S. Donny Heatubun, peningkatan inflasi tersebut sedikit tertahan dengan penurunan inflasi pada kelompok harga yang diatur pemerintah dan kelompok inti, meskipun tekanan inflasi pada komoditas angkutan udara tetap kuat.

Dengan perkembangan itu, inflasi Papua Barat tahun kalender 2018 adalah sebesar 3,61 persen dan inflasi tahun ke tahun sebesar 3,42 persen.

Dalam siaran pers yang diterima Tabura Pos, Jumat (6/7), inflasi untuk bahan pangan bergejolak pada Juni 2018 tercatat sebesar 3,32 persen, meningkat cukup tajam dibanding bulan Mei yang sebesar 0,83 persen.

Peningkatan ini dipicu oleh kenaikan harga komoditas ikan, terutama ikan cakalang dan ikan kembung, serta daging ayam ras, beras, kangkung, cabai rawit, dan cabai merah yang disebabkan oleh meningkatnya permintaan pada periode Idul Fitri.

Selain itu, kata Heatubun, tingginya daya beli masyarakat akibat kebijakan pemerintah daerah yang memberikan gaji ke-13 dan Tunjangan Hari Raya (THR) turut mendorong tingkat konsumsi masyarakat. Hal ini juga tercermin dari aliran uang kartal Bank Indonesia yang tercatat yang mengalami peningkatan  net outflow pada bulan Juni.

“Tekanan inflasi bahan pangan ini diperkirakan berangsur turun dengan berakhirnya periode tersebut,” ujarnya.

Disebutkannya, inflasi pada kelompok harga yang diatur pemerintah pada bulan Juni tercatat 1,12 persen, lebih rendah dari inflasi bulan Mei yang sebesar 1,85 persen. Meskipun menurun, kata Heatubun, tekanan inflasi pada kelompok tersebut masih cukup kuat, terutama untuk komoditas angkutan udara dan angkutan laut.

“Tradisi dan budaya mudik saat perayaan Idul Fitri menyebabkan permintaan terhadap sarana transportasi baik itu udara maupun laut sangat tinggi. Peningkatan permintaan ini direspons  oleh pihak penyedia jasa transportasi dengan menaikkan tariff,” sebutnya.

Sejalan dengan inflasi pada kelompok yang diatur pemerintah, inflasi inti menunjukkan penurunan yang tercatat sebesar 0,11 persen dari sebelumnya 0,32 persen. Penurunan ini disumbangkan oleh terkoreksinya beberapa harga yang meliputi semen, minuman ringan, parfum, jeruk nipis, gula pasir, dan air kemasan.

Pengaruh imported inflation akibat peguatan Dolar Amerika terhadap Rupiah ternyata tidak mempengaruhi terlalu dalam inflasi inti di Papua Barat.

Dia menambahkan, dalam menjaga stabilisasi inflasi, Bank Indonesia senantiasa berkoordinasi dengan pemerintah daerah di Papua Barat dan instansi atau lembaga terkait melalui forum Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPDI) dengan berbagai program kerja.

Selain itu, Bank Indonesia juga mendukung pengembangan UMKM dan klaster penyumbang inflasi berupa komoditas cabai dan bawang merah di beberapa daerah di Papua Barat. Melalui upaya tersebut, diharapkan inflasi Papua Barat tahun 2018 tetap terjaga dalam target inflasi sebesar 3,5  dengan plus minus 1 persen.[CR44-R3] 

Read 283 times

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.