Ombudsman belum Terima Pengaduan Orangtua Siswa | Pasific Pos.com

| 16 August, 2018 |

Ombudsman belum Terima Pengaduan Orangtua Siswa

Papua Barat Penulis  Rabu, 04 Juli 2018 15:09 1
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Meski ada persoalan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) di Manokwari, Ombudsman RI Perwakilan Papua Barat hingga Selasa (3/7) belum menerima laporan dari orangtua calon siswa. Namun, Ombudsman tetap memantau pelaksanaan penerimaan peserta didik baru di Papua Barat.

Kepada Tabura Pos melalui saluran tepelon, Asisten Ombudsman RI Perwakilan Papua Barat, Yules Rumbewas mengakui bahwa pihaknya belum menerima pengaduan terkait penerimaan peserta didik baru.

“Sampai sekarang belum ada pengaduan dari orangtua murid,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Papua Barat, Nortbertus mengatakan, permasalahan yang terjadi di SMPN 1 Manokwari dilatarbelakangi adanya ketidakpuasan karena ada calon siswa dari Kampung Ambon, Rendani, dan Wosi ikut mendaftar di sekolah tersebut. Padahal, sesuai sistem zonasi itu tidak diperbolehkan.

Menurutnya, Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 merupakan niat baik pemerintah untuk perbaikan. Sistem zonasi, kata dia, juga untuk mencegah adanya pungutan liar (pungli) pada saat PPDB.

“Jadi sekolah-sekolah diharapkan dengan Permendikbud tersebut tidak ada lagi yang namanya sekolah favorit dan nonfavorit,” ujarnya.

Sistem zonasi, kata dia, maksudnya selain siswa dekat dengan sekolah, juga untuk mencegah jual beli kursi. Sistem zonasi juga membutuhkan keterlibatan pemerinrtah daerah membantu sekolah-sekolah yang dianggap nonfavorit.

“Sebenarnya perbedaan sekolah favorit dan nonfavorit hanya karena fasilitasnya, termasuk laboratorium komputer dan perpustakaan. Ini yang biasanya tidak tersedia di sekolah nonfavorit, sedangkan sekolah favorit fasilitasnya lengkap,” jelasnya.

Oleh karena itu, diharapkan pemerintah daerah memperhatikan sekolah-sekolah yang dianggap tidak favorit dengan melengkapi fasilitasnya. Dengan demikian, tidak gap antara sekolah favorit dan nonfavorit.

“Contoh kasus SMPN 1 Manokwari kemarin, ternyata ada orang dari Kampung Ambon, dari Rendani, dan Wosi juga ikut mendaftar di SMPN 1. Padahal zonasi untuk SMPN 1 untuk wilayah Marina, Reremi, dan sebagian Brawijaya. Ini karena mereka menganggap SMPN 1 adalah sekolah yang cukup maju, lengkap, dan favorit. Padahal, kita berpikir bahwa guru-guru memiliki pendidikan yang sama dan sudah terakreditasi,” tegasnya.

Sekali lagi, kata dia, hal itu kembali lagi ke pemeritah daerah yang harus melengkapi fasilitas pendukung, sehingga sekolah-sekolah tidak favorit tidak dianggap tertinggal dibanding sekolah lain.

“Contohnya bisa dilihat di SMP di Anggori. Meski berada di lingkungan kampus, anak-anak dosen tidak mau bersekolah di situ karena fasilitas pendukung tidak lengkap dan kekurangan guru,” sebutnya.

Guru-guru, menurut dia, tersentralisasi di beberapa sekolah yang tenaga honorernya ada yang 20 orang bahkan ada yang lebih dari itu.

“Selain jauh, mungkin karena fasilits pendukung di SMP itu kurang. Sehingga untuk SMPN 1 dan 2 itu pendaftarnya membeludak, sehingga muncul ketidakpuasan,” imbuhnya.

Dia menambahkan, sesuai informasi yang diperolehnya, tahun ini SMPN 1 Manokwari hanya menerima calon siswa untuk empat kelas. Sementara yang mendaftar lebih dari 250 calon siswa.

“Mereka kan sudah tidak mampu menampung itu dan bahwa ada pendaftar dari Wosi dan Rendani juga ingin anaknya sekolah di SMPN 1. Itulah yang menyebabkan adanya keributan di sekolah itu,” pungkasnya. (CR44) 

Dibaca 83 kali

1 comment

  • Comment Link dede Selasa, 10 Juli 2018 22:54 posted by dede

    jarak SD dengan rumah saya 20m tapi anak saya yang usia 6,8thn mendapatkan SD dengan jarak 2km. SD yang dekat dari rumah saya favorit yg daftar dan diterima dari kelurahan saya usia 7 thn tetapi ada dari kelurahan lain yang diterima. dulu tdk ada ppdb semua warga di kelurahan yang RW nya dekat SD tsb diterima sekolah semua, semenjak ada PPDB malah kacau. jadi anak2 usia 6thn mendapatkan sekolahan jauh sedangkan usia 7 thn diterima di SD favorit terdekat di RW kami. "dekat sekolah ra melu duwe sekolah" kediri jawa timur. saya harap anak saya diterima di sekolahan yg terdekat dari rumahnya yaitu SD sukorame 3 kediri. di SD sukorame 4 kota kediri jawa timur kls teori hanya ada 5 kls sedangkan rombel ada 6 kurang 1 kls teori dan kls harus bergantian di thn 2018 ini zamannow mohon perhatiannya.

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.