MEMAHAMI EKSISTENSI ORANG PAPUA DALAM SEJARAH | Pasific Pos.com

| 23 August, 2019 |

MEMAHAMI EKSISTENSI ORANG PAPUA DALAM SEJARAH

Opini Jumat, 29 Jun 2018 14:07 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Oleh Ernest Pugiye


Sesungguhnya, setiap manusia di dunia adalah makhluk hidup dan berada. Hidup dan keberadaannya telah diciptakan Tuhan secara baik adanya. Dikatakan baik adanya karena setiap manusia diciptakan Tuhan menurut pikiran, hati dan kehendaknya. Sejak penciptaan itulah, ia telah berada sebagai makhluk insani dan sekaligus ilahi. Kini, setiap manusia masih disebut sebagai pribadi yang secitra dan segambar dengan-Nya. Demikian juga keberadaan orang Papua dalam sejarahnya merupakan suatu kepastian. Suatu keadaan orang dan tanah Papua yang ‘menjadi’ secara sejati dan menyatakan hidup yang baik menurut nasehat adat dalam sejarah yang paling panjang itu. Dan Tuhan telah dipercayai dan dialami sebagai substansi dari sejarah mereka. Maka hidup, keberadaan dan cara mengadakan mereka tidak dapat dipisahkan dari keberadaan tanah adat Papua dan Allah mereka.

Meskipun demikian, orang asli Papua kini masih terpisah, terpinggir, dieksplotasi dan diasingkan dari tanah adat mereka. Eksistensi tanah yang mencakup tanah, batu, pasir, emas air, minyak dan udara sudah dikeruk habis total oleh pemerintah Indonesia dan para pengusaha. Kondisi kehancuran mereka pada zaman sekarang manampakkan tidak adanya masa depan bangsa Papua. Pada titik inilah, saya hadir untuk memberikan pemahaman tentang betap pentingnya keberadaan dan hidup mereka dan tanah adatnya bagi setiap kita termasuk pemerintah dan orang Papua.


Tanah Sebagai Milik Komunitas


Tanah sebagai milik komunitas bagi rakyat Papua. Sebagai orang Papua, setiap mereka telah mengetahui batas-batas kepemilikan tanah adat. Setiap mereka punya tanah kemilikan pribadi. Ia secara pribadi dipanggil untuk memelihara tanah miliknya. Seperti dalam kepemilikan komunitas atas tanah, ia memaknai tanah kepemilikannya dengan mengelolah, memelihara dan menjaga tanah miliknya. Ia biasa menggunakan hasil hutan miliknya sesuai kebutuhan. Maka ia telah membuat rumah, kebun di tanah miliknya sendiri.


Kepemilikan tanah milik pribadi ini telah diakui dan berada dalam keberadaan tanah milik komunitas marga dan kampung. Karena tanah milik pribadinya tidak dapat dipisahkan dari tanah milik marga/ kampung. Setiap pribadi bersama warga semarga dan sekampungnya telah berbuat kebun dan mendirikan rumah di tanah adat mereka. Kepemilikan atas tanah mereka saling mengakui dan diakui sebagai apa adanya menurut ajaran hukum adat.


Pemaknaan kepemilikan pribadi dan komunitas atas tanah dapat diperluas dalam kepemilikan bersama sebagai orang suku Mee atas keberadaan tanah adat mereka. Dalam pengertian ini, tanah milik komunitas tidak dapat dipisahkan dari tanah milik keluarga, marga dan keturunan serta kerabat mereka. Kepemilikan mereka sehal ini dapat dibentuk melalui relasi sosial dan kekerabatan yang telah terbangun secara sistematis dalam sejarah yang paling panjang. Suatu nilai yang menyatukan relasi ini adalah nilai genetic dan darah keturunan mereka. Maka, kepemilikan komunitas atas tanah ini mesti dipupuk, dijaga ketat, penuh hati-hati dan bijaksana dalam mewariskan hak-hak keselungan mereka. Maka itu, dialog, musyawarah adat dan negosiasi sudah tentunya merupakan media bersama untuk mewariskan hak-hak adat dalam ketegorial mereka demi memelihara hidup sejati dan baik.


Sambil mengakui kepemelikan mereka atas tanah adat, setiap orang dari suku Mee mengakui tanah adat dari semua lapisan kepemilikan sebagai milik bersama. Semua kepemilikan tanah adat baik pribadi, marga, keluarga maupun tanah milik kerabat dan kampung telah biasanya diakui dan dijaga bersama secara baik dan adil oleh semua orang dari suku Mee di Meepago. Mereka sudah punya rumah dan kebun masing-masing di tanah adat mereka sambil membangun dan memelihara keutuhan relasi sosial di antara mereka.


Selain itu, mereka juga memiliki tempat buruannya masing-masing. Adatnya mengajarkan bahwa setiap mereka tidak bisa berburu di batas hak kepemilikan tanah marga, keluarga dan kampung lain. Masyarakat Mee mesti berdialog dan meminta ijin terlebih dahulu jika ada orang dari mereka yang mendak masuk berburu di batas tanah miliki sesama orang Mee lain di tanah Meepago. Demikian juga jika mereka hendak membuka lahan kebun dan rumah di tanah milik sesama sesukunya. Dengan demikian, hak kepemilikan dalam berbagai lapisan masyarakat suku Mee tetap selalu aktual dalam kepemilikan bersama atas tanah adat dari generasi ke generasi dalam sepanjang zaman.
Tanah Sebagai Mama


Menurut pandangan orang Papua, tanah adat adalah mama. Mama yang sejati dan baik adanya bagi orang Papua. Ia adalah mama Papua. Sebagai mama, tanah adat biasa melahirkan setiap orang Papua. Mereka dilahirkan dalam keadaan yang hidup damai dan tenang. Mereka yang hidup itu berasal dari tanah dan akan kembali kepadanya secara damai. Bagi orang Papua, ia telah ikut berpartisipasi aktif dan penuh dalam kisah penciptaan Allah. Tanah adalah pencipta nyata bagi orang Papua dan menentukan kematian mereka. Maka setiap orang Papua tetap akan hidup, mati dan dikuburkan di atas dan dalam tanah adat sebagai mama mereka. Maka itu, jiwa mereka akan berdiam di dalam mama Papua.


Selama hidup di dunia, tanah sebagai mama, ia telah memelihara dan membesarkan setiap orang Papua. Ia juga menjaga dan membesarkan setiap individu masyarakat adat yang berada di pegunungan tengah Papua. Seperti masyarakat pantai di bagian pesisir pantai Papua, tanah adat telah memelihara orang-orang koteka dengan keberadaan hutan dan segala isinya yang paling misteri. Mereka keluar masuk hutan yang luas. Mereka juga langsung ambil air minum dari sungi/ kali. Di sana ada banyak ikan yang disediakan oleh seorang mama Papua untuk mereka makan dan hidup.


Sungai yang mengalir, danau dan lemba yang mempesona justru melahirkan susu, keindahan, udara yang segar bagi mereka. Ada banyak pohon yang menjamin oksigen yang paling sempurna. Di sana ada banyak hewan buruan untuk dapat diambil sesuai kebutuhan. Dari mama Papua, setiap mereka biasa menerima dan menikmati makanan yang berkelimpahan. Tanpa gunung, lemba, sungai/kali, hutan dan laut serta semua isinya, mereka tidak bisa berada dan hidup sebagai manusia sejati dan baik. Jadi, tanah sebagai mama telah memenuhi segala sesuatu yang dibutuhkan oleh setiap dan semua orang Mee di Meeuwodide.


Ia menyatakan dirinya sebagai mama yang menyatukan mereka. Setiap orang Mee biasa hidup dalam kebersaamaan tanah adat. Mama Papua telah menjadi HIDUP bagi mereka. Tanah menjadi mama yang memberi dirinya untuk beraktivitas bagi setiap mereka. Mereka biasanya disatukan oleh tanah adat sebagai mama sejati. Jadi, mereka biasa dibuat berada, hidup dan dibesarkan secara mandiri demi kedaulatan kebahagian Papua.


Tanah Sebagai Warisan


Tanah adat adalah warisan abadi bagi mereka. Karena tanah warisan memiliki hak ahli waris dan pewarisan hanya dari mereka dan untuk mereka. Hak pewarisan itu telah melekat di dalam mereka. Tanah warisan itu tidak bisa diberikan di luar hak-hak kesulungan mereka. Setiap orang, entah siapapun dia, dari luar sukunya tidak bisa mewariskan dan diwarsikan tanah adat mereka. Tanah adat dapat diwariskan oleh para pemiliki dari generasi sebelumnya hanya kepada generasi selanjutnya dalam sesuku mereka. Maka orang di luar suku mereka tidak punya hak untuk mendapatkan hak-hak warisan atas tanah adat.


Tanah Sejarah


Tanah biasanya dipandang sebagai tanah sejarah. Dikatakan demikian, karena ada sejarah tentang keberadaan mereka dan tanah tersebut. Mereka membentuk keturunan mereka secara mandiri dan sejahtera dari tanah sejarah. Sebaliknya tanah memiliki sejarah tersendiri. Ia membentuk mereka sebagai pewaris sejarah. Juga mereka menyimpan banyak rahasia di dalam tanah sejarah. Bahkan ada banyak peristiwa bersejarah yang penah diukir oleh mereka di tanah sejarah. Maka itu, mereka memiliki asal, tengah dan akhir hidup yang baik di tanah sejarah mereka. Oleh karena itu, tanah sejarah dapat memberikan harapan hidup sejati bagi mereka dan generasi bangsanya dalam sejarah yang paling panjang.


Tanah Sakral dan Keramat


Tanah sakral dan sejarah memiliki arti yang tidak jauh berbeda. Tanah kramat adalah tempat tinggalnya para leluhur, para mailaikat dan jiwa-jiwa orang Mee. Sedangkan tanah sakral lebih menunjukkan arti pada kekudusan dan tempat Allah merajai di sana. Ada banyak nilai-nilai universal yang dapat alirkan dari kedua tempat itu. Maka orang Mee biasanya melarang untuk mereka masuk ke tempat skral dan kramat.


Tempat sakral itu adalah tempat mereka orang Mee hidup. Setiap orang Mee juga memiliki batas tanah tertentu sebagai tanah sakral. Tanah egaidimi, degeidimi dan Degeuwo adalah tanah sakral dan kramat yang tidak sembarangan dimasuki orang. Dari tanah sakralnya mengajarkan kepada mereka tentang perintah dan larangan. Kedua ajaran ini harus dipatuhi setiap mereka tanpa alasan. Ajaran tentang dihodou (boleh melakukan dan tidak boleh melalukan) adalah suatu bukti nyata ajaran luhur dari sana. Maka setiap mereka tidak biasa merusak lingkungan sekitar mereka karena dipandang sangat sakral dan kramat.


Jika kita mau ke Degeuwo, kita harus mengaku dosa sebelum jalan. Sudah ada penetapan tempat tertentu untuk mereka melakukan pengakuan dosa. Pengakuan ini perlu dilakukan agar tidak dapat sakit ketika kita melewati di tempat sakral. Maka tanah sakral dan kramat sudah tentunya dilindungi dan dipelihara demi kesuburan dan kedamaian hidup mereka baik di dunia sekarang maupun di akhirat. Dengan demikian, saya percaya, tanah adat merupakan nilai yang paling abadi dan bernilai luhur karena rakyat Papua akan berada dan hidup damai hanya dari tanah adat milik mereka, bukan dari pembangunan pemerintah yang tidak tahu manfaat dan tujuan hidup. Oleh karena itu, pemerintah tidak boleh lagi merusak tanah adat melalui adanya proses pembangunan secara membabi-buta, memahaminya dalam pengertiaan yang sekadar ini dan segera mengakui tanah adat masyarakat Papua melalui penetapan regulasi hukum secara menyeluruh dan permanen.


Penulis adalah alumnus pada STFT “Fajar Timur” Abepura

Dibaca 601 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.