Penasihat Hukum Frantinus Minta Kemenhub Periksa Pramugari Lion Air JT 687 | Pasific Pos.com

| 14 August, 2018 |

Tim Penasihat Hukum Frantinus Nirigi memberikan keterangan pers terkait kasus yang menimpa Frantinus Nirigi di Pontianak, Kalimantan Barat. Tim Penasihat Hukum Frantinus Nirigi memberikan keterangan pers terkait kasus yang menimpa Frantinus Nirigi di Pontianak, Kalimantan Barat.

Penasihat Hukum Frantinus Minta Kemenhub Periksa Pramugari Lion Air JT 687

Beri rating artikel ini
(0 voting)

JAYAPURA – Tim Penasihat Hukum Frantinus Nirigi meminta kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara untuk memeriksa pramugari pesawat Lion Air JT 687 yang ditumpangi kliennya dari Pontianak, Kalimantan Barat menuju Jakarta-Jayapura.

Permintaan itu disampaikan tim penasihat hukum Frantinus lantaran pihaknya menilai status tersangka yang dialamatkan kepada kliennya tidak adil kendati menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada penyidik PNS Kementerian Perhubungan.


“Kami menyerahkan sepenuhunya proses hukum supaya berjalan dengan baik untuk menemukan kebenaran yang sebenarnya terjadi, tapi kami juga meminta kepada penyidik untuk memeriksa pramugari Lion Air JT 687, sebab kami menilai Frantinus seolah-olah dikorbankan untuk kepentingan pihak lain, “papar Frederika Korain, satu dari lima Penasihat Hukum Frantinus Nirigi.


Menurut dia, pramugari Lion Air JT 687 telah mengeluarkan perkataan dengan mengumumkan “Kepada seluruh penumpang yang terhormat mohon segera meninggalkan pesawat demi keselamatan melalui pintu depan pesawat karena diduga ada penumpang yang membawa bahan cepat meledak di dalam pesawat”.


Pengumuman yang disampaikan sebanyak tiga kali itu, kata Fredrika, menyebabkan penumpang panik. “Jadi bukan klien kami ucapkan itu, tapi pada saat pramugari menyampaikan pengumuman yang bunyinya diduga ada penumpang membawa bahan cepat meledak itulah yang menyebabkan penumpang berhamburan keluar dari kabin pesawat melalui pintu darurat sehingga tak sedikit yang luka-luka akibat melompat dari sayap pesawat, “tegas Frederika.


Terkait permintaan maaf Frantinus di depan awak media di Pontianak, Frederika tegas menyampaikan bahwa ucapan permintaan maaf bukan keluar dari hati Frantinus melainkan atas permintaan dari kuasa hukum Frantinus yang sebelumnya mendampingi.


Frantinus, kata Frederika, tidak perlu melakukan permintaan maaf lantaran kliennya tidak bersalah, sebab yang menyebabkan kekacauan di kabin pesawat hingga penumpang berhamburan keluar bukan dari perkataan kliennya.


Hingga kini Frantinus masih ditahan di Mapolda Kalimantan Barat selama 20 hari sejak ditetapkan sebagai tersangka pada 28 Mei 2018.


Seperti diketahui, pada 28 Mei 2018, Frantinus Nirigi hendak pulang ke Papua dari Pontianak, Kalimantan Barat setelah menyelesaikan kuliahnya di salah satu perguruan tinggi di daerah itu.


Menggunakan pesawat Lion Air JT 687, Frantinus merupakan penumpang terakhir yang naik ke pesawat itu sebelum lepas landas dari Bandara Supadio menuju Bandara Soekarno Hatta Tangerang sebagai Bandara transit.


Namun belum sampai ke Papua, Frantinus ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka atas kasus candaan bom dalam pesawat yang akan ditumpanginya itu.


Kini melalui tim penasihat hukum, keluarga Frantinus Nirigi meminta keadilan kepada pihak penyidik agar memeriksa pramugari Lion Air yang bertugas kala itu.


Senada dengan Frederika, Penasihat Hukum Frantinus Nirigi lainnya, David Maturbongs menyampaikan, komunikasi pramugari dan Frantinus yang kurang baik ini menyebabkan kliennya ditahan hingga kini.


“Klien kami dengan nada kesal berkata kepada pramugari “Awas bu ada tiga laptop dalam tas saya”, lalu pramugari menjawab “jangan bercanda/bergurau, kemudian klien kami menjawab “maaf bu”, “kata David.


Menurut David, perkataan dengan nada kesal kepada pramugari dilontarkan Frantinus lantaran melihat pramugari mendorong tas yang dibawa kliennya ke dalam kompartemen secara kuat.

Dibaca 105 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.