LIKA-LIKU PERWUJUDAN KTT ANTARA AS - KOREA UTARA | Pasific Pos.com

| 18 November, 2018 |

LIKA-LIKU PERWUJUDAN KTT ANTARA AS - KOREA UTARA

Opini Senin, 04 Jun 2018 13:15 0
Rate this item
(1 Vote)

Konferensi Tingkat Tinggi antara AS-Korea Utara menjadi salah satu topik hangat dalam dunia diplomasi internasional. Rencana ini mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak. Banyak pihak yang menganggap pertemuan ini sebagai pertemuan bersejarah yang dilakukan kedua negara yang terkenal tidak akur ini dan juga membahas tentang rencana denuklirisasi di semenanjung Korea yang selama ini meresahkan masyarakat internasional. KTT ini direncanakan akan diselenggarakan di Singapura pada 12 Juni 2018.

Namun beberapa waktu lalu tepatnya pada 24 Mei 2018, Presiden Trump melalui surat yang ia tunjukkan langsung untuk Kim Jong Un menyampaikan pembatalannya untuk melakukan pertemuan dengan pemimpin Korea Utara tersebut.
"Saya sebenarnya sangat ingin bertemu dengan Anda. Sayangnya, melihat kemarahan besar dan sikap permusuhan yang pihak Anda tujukkan dalam beberapa waktu terakhir, saya merasa tidak pas rasanya jika tetap menyelenggarakan pertemuan ini," ujar Trump. ”Demi kebaikan bersama saya memutuskan pertemuan di Singapura tidak jadi digelar," kata Trump menambahkan.


Tindakan Trump ini tentu menuai kontroversi diberbagai pihak. Banyak pihak yang menyayangkan tindakan Trump yang membatalkan pertemuan ini.


Trump mengatakan bahwa Korea Utara menunjukkan kemarahan besar serta sikap permusuhan pada AS. Namun jika dilihat secara subjektif pasti ada alasan dibalik Korea Utara yang menunjukkan sikap tersebut.


Pernyataan yang dibuat oleh John Bolton (Politikus dan diplomat AS) pada minggu, 12 Mei disebuah talkshow salah satu hal yang membuat geram Korea Utara. Saat itu Bolton memberi tanggapan terhadap denuklirisasi yang akan dilakukan antara AS dan Korea Utara. “Ini artinya menyingkirkan semua senjata nuklir, membongkar mereka, membawa mereka ke Oakridge, Tennessee. Ini berarti menyingkirkan pengayaan uranium dan kemampuan pemrosesan ulang plutonium,” ujar Bolton mendefinisikan denuklirisasi yang diinginkan AS dari Korut. Secara tidak langsung Bolton mengatakan bahwa Korea Utara dapat mengikuti model perlucutan senjata nuklir Libya.


Hal ini menuai kecaman dari Korea Utara. Kim Gye Wan selaku deputi menteri luar negeri Korea Utara merespon dengan mengatakan bahwa ini bukanlah cara yang benar untuk menunjukkan niat baik AS mengatasi masalah melalui dialog diplomasi. Apalagi dengan menyamakan Korea Utara dengan pergerakan dari tujuan AS di Libya yang telah ambruk. Korea Utara merasa AS telah menyinggung martabat negaranya.


Korea Utara meragukan tentang AS yang dianggap berencana menyudutkan Korea Utara melakukan denuklirisasi sepihak. Sehingga Korea Utara mengungkapkan akan mempertimbangkan kembali keputusannya untuk mengikuti pertemuan tersebut atau tidak.


Selain itu, pada 14 Mei lalu Amerika Serikat dan Korea Selatan diketahui melakukan latihan militer gabungan. Dilansir oleh Korean Central News Agency mengatakan latihan ini telah melibatkan pesawat tempur jenis B-52 dan F-22 yang diduga ditujukkan untuk menyerang Korea Utara. Latihan dengan menggunakan pesawat tempur B-52 ini dianggap melanggar Deklarasi Panmunjom antara pemimpin Korea dan dianggap sebagai aksi militer yang provokatif sehingga Korea Utara mengancam akan membatalkan pertemuannya dengan AS.


Tindakan-tindakan provokatif dari AS ini tentu dapat menjadi alasan dari sifat yang ditunjukkan oleh Korea Utara. Sifat permusuhan yang ditunjukkan oleh Korea Utara tidak lain untuk merespon tindakan-tindakan yang dilakukan AS yang dapat mengganggu keamanan maupun martabat negaranya.


Tetapi kecaman yang dilakukan oleh Korea Utara ini juga bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Korea Utara yang selalu mengancam akan melakukan pembatalan pertemuan KTT antara kedua pemimpin. Penggunaan ancaman dengan pembatalan ini tentu juga membuat risau AS yang sudah bersiap-siap melakukan pertemuan bersejarah ini dan menganggap hal ini sebagai bukti provokatif dari ketidakseriusan Korea Utara dalam usaha perdamaian melalui dialog yang akan diselenggarakan. Sehingga menimbulkan ketegangan diantara keduanya karena saling curiga satu sama lain terkait keseriusan keduanya mewujudkan pertemuan ini.


Namun pada 30 Mei lalu, (setelah pernyataan Trump tentang pembatalan pertemuannya dengan Korea Utara) Jenderal Kim Yong Chol selaku pejabat tinggi Korea Utara terbang ke New York untuk bertemu dengan menteri luar negeri Amerika Serikat Mike Pompeo untuk membicarakan penyelamatan KTT yang sempat dibatalkan sebelumnya. Kedua belah pihak membahas berbagai upaya untuk tetap melancarkan pertemuan tersebut sesuai dengan yang telah di agendakan dan usaha ini mendapatkan banyak dukungan dari masyarakat internasional. Usaha ini merupakan tindakan yang tepat dilakukan berhubung pentingnya pertemuan ini bagi hubungan kedua negara ini kedepannya.


Diharapkan upaya ini berhasil dilakukan sehingga pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Kim Jong Un yang membahas tentang denuklirisasi ini dapat terwujud tanpa adanya masalah seperti tindakan-tindakan provokatif antara kedua pihak sebelumnya.

 

Penulis : Rizky Pascawati Muslim (Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, angkatan 2016 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Read 219 times

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.