Umat Muslim Usulkan Bangun Simbol Gereja di Kabupaten Jayapura | Pasific Pos.com

| 14 August, 2018 |

Suasana dialog kerukunan umat beragama dengan lembaga agama khusunya dengan umat Muslim se-Kabupaten Jayapura, di Aula Lantai I Kantor Bupati, Gunung Merah Sentani, Selasa (27/3/18). Suasana dialog kerukunan umat beragama dengan lembaga agama khusunya dengan umat Muslim se-Kabupaten Jayapura, di Aula Lantai I Kantor Bupati, Gunung Merah Sentani, Selasa (27/3/18).

Umat Muslim Usulkan Bangun Simbol Gereja di Kabupaten Jayapura

Kabupaten Jayapura Penulis  Selasa, 27 Maret 2018 21:03 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

SENTANI - Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua dari Pokja Agama melalui dua anggotanya DR. H. Toni Wanggai, S.Ag, M.A, dan Dorlince Mehue mengadakan reses dengan melakukan Dialog Kerukunan Umat Beragama dengan lembaga-lembaga agama yang ada di Kabupaten Jayapura selama dua hari mulai Senin 26 Maret 2018 hingga Selasa 27 Maret 2018.

Dimana di hari kedua dari kegiatan dialog kerukunan umat beragama itu juga dihadiri Ketua Tim 6, Pdt. Albrth Yoku, S.Th, Asisten I Bidang Pemerintahan Umum Setda Kabupaten jayapura Abdul Rahman Basri, S.Sos, M.KP, juga baik dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jayapura, Ormas-ormas Islam dan pengurus masjid, yang mengusulkan untuk membangun sebuah simbol Gereja yang besar dan megah berdampingan dengan simbol agama Islam yakni Masjid Agung Al-Aqsha.


Seperti yang telah dibangun dan ada di Ibukota dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu DKI Jakarta, Masjid Istiqlal yang berdekatan dengan Gereja Katedral. Yang mana, dua tempat ibadah itu sengaja dibangun oleh Presiden Soekarno untuk mempererat kerukunan antara umat Muslim dan umat Katolik di Indonesia.


Hasil dari pertemuan tadi (kemarin) dengan lembaga-lembaga agama seperti MUI, Ormas-ormas Islam dan juga pengurus masjid itu, kata Ketua TIM 6, Pdt. Alberth Yoku, S.Th, bahwa pertama ada sebuah etika kebersamaan yang sudah di dapati bersama, kemudian yang kedua ada semacam roh solidaritas yang sekarang ini sedang kelihatan disini.


“Teman-teman dari MUI, Ormas Islam, pengurus masjid dan seluruh komponen umat Muslim menggagas atau mengusulkan untuk membangun sebuah simbol agama Kristiani di daerah ini. Kalau memang masjid ini dilihat dan dibangun begitu besar. Jadi, mereka juga mengusulkan harus ada sebuah simbol Gereja yang besar dibangun di Kabupaten Jayapura,” ujar Pdt. Alberth kepada wartawan usai kegiatan dialog, di Aula Lantai I Kantor Bupati Jayapura, Selasa (27/3/18).


Menurut Pdt. Alberth Yoku, usulan untuk membangun simbol Gereja yang besar, itu berarti ada sebuah roh solidaritas atau roh kebersamaan di dalam sarana-sarana fisik yang menjadi semacam sentral (pusat) simbol-simbol keagamaan di Bumi Khenambay Umbay.


“Mudah-mudahan ini juga bagian yang dapat berimbas kepada agama-agama lain seperti Hindu, Buddha, Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Sehingga dapat kelihatan dari keberagaman dan juga kemajemukan agama di Kabupaten Jayapura,” kata pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Sinode GKI di Tanah Papua.


Terkait usulan tersebut, Pdt. Alberth Yoku mengatakan, secara klimaks dari hasil pertemuan atau dialog dengan MUI, Ormas-ormas Islam dan pengurus masjid itu, pihaknya bisa menarik kesimpulan bahwa nanti tim akan rapat untuk mengawinkan (mensinkronkan) pendapat-pendapat ini ke dalam sebuah stagmen atau keputusan akhir.


“Kemudian kita akan berkonsultasi dengan unsur Forkompimda Kabupaten Jayapura karena kami menerima mandat (sebagai ketua tim 6) dari pemerintah daerah. Sehingga apa yang cocok melalui atau menurut pemerintah, maka itu yang akan kami konfrensi pers kan. Begitupun juga kalau ada saran atau usul dari pemerintah, maka kami akan tampung semuanya,” ujar Alberth Yoku.


Terkait penyelesaian persoalan kerukunan umat beragama di Kabupaten Jayapura, Alberth Yoku menegaskan Tim 6 secepatnya akan menyelesaikannya.


“Apalagi pak Asisten I sudah diberikan mandat oleh bapa bupati untuk bersama Tim 6. Jadi, kami secepatnya menyelesaikan persoalan ini. Supaya ini jangan menjadi isu liar dan orang-orang yang tidak tau-menau dengan pembangunan karakter building, yang kita lakukan dalam soal spirit keagamaan serta keberagaman ini bisa ngomong sembarang (seenaknya) di media sosial (Medsos) atau lain sebagainya,” jelasnya.


“Saya harap sampai dengan besok (hari ini) kami dari Tim 6 sudah selesai, karena kita sudah terima stagmen dari kedua belah pihak dan juga sudah melakukan dialog. Artinya, mulai hari ini (kemarin) tim akan melakukan rapat, kemudian kami akan bertemu bapa Bupati dengan jajaran Pemda guna memberitahukan hasil dari dialog tersebut,” tukasnya.

Dibaca 266 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.