Uskup Herman Munninghoff Ingin Namanya Dituliskan Tinta Emas di Hati Masyarakat Papua | Pasific Pos.com

| 20 June, 2018 |

Kawan sekerja dan perjuangan almarhum Uskup Herman Ferdinand Maria Munninghoff. Kawan sekerja dan perjuangan almarhum Uskup Herman Ferdinand Maria Munninghoff.

Uskup Herman Munninghoff Ingin Namanya Dituliskan Tinta Emas di Hati Masyarakat Papua

Kota Jayapura Penulis  Kamis, 15 Februari 2018 20:06 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

 

JAYAPURA, - Teman seperjuangan dan sekerja almarhum Uskup Mrg. Herman Ferdinand Maria Munninghoff, OFM, menginginkan nama almarhum ditulis dengn tinta emas karena dinilai sebagai pahlawan perjuangan hak asasi manusia (HAM) Papua.

Mantan anak didik dan rekan kerja, Piet Maturbongs mengatakan selama 51 tahun masa bakti almarhum Uskup Heman Munninghoff melakukan pelayanan di Tanah Papua, dinilai inspirator dan sosok yang berjasa bagi promosi hak asasi manusia di tanah Papua.


"Keberpihakannya kepada kaum termarginal, kesediaanya menjadi suara kaum tak bersuara, bahkan kesediaanya untuk mati bagi Papua. Ada rasa sedih tapi juga terima kasih atas budi jasanya bagi bangsa dan negeri Papua," kata Piet di Aula Susteran Maranatha, Jalan SPG Waena, Kamis (15/2/18).


Dihadapatan anggota Elsham Papua, Gabah Papua, dan Tokoh Papua, sebagai rekan kerja, Piet menilai di usia 83 tahun almarhum Herman Munninghoff telah berjasa di bidang pendidikan, kesehatan untuk membangkitkan semangat perjuangan masyarakat Papua.


"Mendiang uskup Munninghoff adalah pribadi yang melayani umat dengan taat sekaligusa terbuka untuuk bekerja sama lintas agama, lintas profesi, lintas sauku demi membangun keadilan dan perdamaian," kata Piet.


Anggota Elsham Papua, Ferry Marisan mengatakan ketika Papua diajari sejarah kepahlawanan putra bangsa, maka sudihlah kiranya mencatat nama almarhum Uskup Herman Munninghoff dengan tinta emas, minimal di hati masyarakat Papua.


"Pahlawan keadilan dan perdamaian di tanah Papua, jika bukan untuk saeluruh Papua, minimal untuk asuku Amungme dan tujuh suku di wilayah operasi PT. Freeport," kata Ferry.


Ferry menceritakan momen sejarah yang paling mendebarkan dan menegangkan yang dialami almarhum Uskup Herman Munninghoff adalah ketika uskup kharismatik itu memutuskan untuk menandatangani laporan pelanggaran HAM pertama di Papua berlokasi di wilayah operasi PT. Freeport.


"Saya ambil tanggung jawab ini. Jika harus mati karena keputusan ini, saya siap mati untuk Papua," kata Ferry menirukan ungkapan almarhum Uskup Herman Ferninan Maria Munninghoff.

Dibaca 253 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

Trending Topik