Bupati Yapen : Demo Ijazah Palsu Karena Dibayar | Pasific Pos.com

| 27 May, 2018 |

Bupati Kabupaten Kepulauan Yapen, Tony Tesar. Bupati Kabupaten Kepulauan Yapen, Tony Tesar.

Bupati Yapen : Demo Ijazah Palsu Karena Dibayar

Headline Penulis  Senin, 12 Februari 2018 15:05 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

JAYAPURA,- Bupati Kabupaten Kepulauan Yapen, Tony Tesar, menyatakan, Puluhan masyarakat dari kabupaten Kepuluan Yapen yang tergabung dalam Forum peduli kawasan Biak dan spontanitas masyarakat peduli Yapen melakukan aksi demo damai di Kantor DPR Papua, beberapa hari lalu terkait dengan ijazah palsu yang diduga digunakan oleh dirinya, karena kelompok tersebut dibayar.

“Mereka yang demo ini dibayar, masalah ini masih terkait dengan Pilkada 2017 lalu,” tegasnya kepada wartawan di Jayapura, Senin (12/2/18).


Sebab Tony melihat orang – orang yang melakukan aksi demo tersebut dari Timses salah satu pasangan calon. Kemudian mereka berdemo untuk menuntut sampai ke Jakarta. Kemudian sekarang merubah bentuk menjadi masyarakat Peduli Demokrasi Kepulauan Yapen yang tergabung dalam KAMPAK komunitas Biak.

“Mereka itu adalah orang yang tidak siap atau belum menerima kekalahan,” Ia mengakui, sejak tahun 2004 dirinya mencalonkan diri sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI menggunakan ijaza yang sama.


“Verifikasi ijazah oleh KPU sejak 2004 hingga 2017 tidak ada masalah, ijazah yang saya gunakan mulai dari SD hingga lulus dari Uncen yang sama,” bebernya.


Lanjutnya kalaupun yang permasalahannya melihat nama diri. Menurutnya hal itu mengada ada. Karena untuk nama itu, kapan saja orang hendak mengganti nama diperbolehkan.


Saat proses pergantian nama itu, Tony mengaku melalui Pengadilan Negeri dan menjalani sidang penggantian nama. Dimana sebelumnya Tony T yakni menggunakan nama China. Tetapi ketika itu di era Presiden Soeharto meminta untuk pergantian nama harus pakai nama nasional.


Serta untuk menghindari diskriminasi dan lainnya. “Kita semua dan bukan saya saja, nama – nama yang asing masih menggunakan nama Cina itu dirubah semua. Saya dari Tonny T menjadi Tonny Tesar.


Sehingga penulisan ijazah yang ada di ijazah Uncen itu menjadi Tonny Tesar. Kalau dilihat dari ijazah SMA itu beda yakni Tonny T,” ungkapnya.


Akan tetapi menurutnya menggunakan nama berapa banyak juga tidak masalah, sepanjang yang bersangkutan melakukan proses pergantian namanya melalui pengadilan. Dirinya bertanya kenapa hal itu mesti dipersoalkan, sehingga agak rancu.


“Mereka persoalkan hanya nama. Jadi klarifikasi bahwa yang ijazah itu, dari SD – SMA itu ijazah saya dan bukan ijazah palsu atau orang lain,” tegasnya.

Dibaca 418 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.