Dari Ibadah HUT PI ke-163 di Pulau Mansinam | Pasific Pos.com

| 27 May, 2018 |

Dari Ibadah HUT PI ke-163 di Pulau Mansinam

Papua Barat Penulis  Selasa, 06 Februari 2018 13:25 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Jemaat Jangan Terjebak Pipen, Pidi, Pisu, Piku, Hingga Pikun

 

Manokwari, TP – Ibadah perayaan HUT Pekabaran Injil (PI) ke-163 di Tanah Papua, dipusatkan di Pulau Mansinam, Manokwari, Senin (5/2), dihadiri ribuan umat Kristiani.

Perayaan HUT kali ini mengusung tema: ‘Datanglah Kerajaan Mu (Matius 6: 10a) dan sub tema: ‘Jadikan Tanah Papua sebagai Pusat Pemberitaan Injil yang Memberikan Kehidupan, Kasih, dan Damai Sejahtera’. Ibadah yang dipimpin Pdt. Dr. Rainer Scheunemann mengambil khotbah dari kitab Ibrani 13: 20-21 dengan refleksi ‘Diberkati Dalam Naungan Kuasa Karya Allah’.


Scheunemann mengingatkan supaya jangan sampai jemaat mementingkan materi, tetapi terus-menerus mendengar, taat, dan berorientasi terhadap firman Tuhan. Dirinya pun berharap jemaat jangan sampai terjebak pikiran pendek (pipen), pikir diri (pidi), pikir suku (pisu), dan pikir kuasa (piku) hingga pikun.


“Harus berpikir tanah Papua secara keseluruhan dan tetap berada dalam naungan berkat Tuhan, sehingga dalam kitab Ibrani terdapat 3 poin penting. Pertama, harus sadar bahwa umat manusia memerlukan sang gembala, Tuhan Yesus. Kedua, harus menerima pemberian Tuhan Yesus, dan ketiga, bersedia berkarya bersama Yesus. Jadi, sabar, menerima, dan berkarya, itulah yang kita perlukan di tanah Papua,” ujar Scheunemann.


Lanjut Scheunemann, tanpa kesadaran bahwa semua orang membutuhkan Yesus, maka setiap orang tidak bisa menjalani kehidupannya, karena mutlak semua orang membutuhkan gembala, ibarat domba yang membutuhkan gembala.


Ia membeberkan, domba memiliki 6 ciri yang mirip seperti manusia, tidak memiliki orientasi, mudah dipengaruhi, cepat puas dan iri hati, sangat sulit dididik, membutuhkan gembala, dan tidak bisa menolong dirinya sendiri.


Untuk itu, ia menegaskan, hanya Yesus, gembala yang baik dan bisa menjamin kehidupan kekal. Ditambahkannya, sebagai gereja, pemerintah, masyarakat, pengusaha, dan adat, sudah mutlak memerlukan Yesus untuk memiliki orientasi, pengaruh, tidak dikuasai iri hati, bisa melawan kuasa kegelapan, dan dapat diselamatkan.


“Itulah yang Ottow dan Geissler inginkan, kiranya orang Papua berada dalam tongkat gembala yang lembut, yakni sang gembala Tuhan Yesus Kristus. Maukah kita mengambil keputusan mengikut Yesus,” tanyanya.


Kedua, menerima pemberian Tuhan Yesus. Dalam teks Ibrani, dijelaskan bahwa ada beberapa pemberian pemberian Tuhan Yesus, yakni damai sejahtera, fakta historis, dan Papua didamaikan oleh karena Injil Allah.


“Sebelumnya suku-suku di Papua berada dalam situasi perang antar-suku, tidak ada pendidikan, tidak ada kesehatan, tidak ada kemajuan, dan tanah Papua hanya dijadikan objek bisnis, baik hasil alam, dagang, maupun budak, dan tidak ada yang sungguh-sungguh peduli akan Papua. Adalah benar dan merupakan fakta historis bahwa pembangunan tanah Papua dimulai dari Mansinam, maka sangatlah penting bagi kita di Papua untuk mempertahankan dan menjaga Injil. Inilah identitas kita sebagai orang Papua, jaminan, damai, berkat, dan harapan bagi tanah Papua,” ungkap Scheunemann.


Ia menerangkan, Allah adalah kehidupan kekal, maka manusia harus bersungguh-sungguh taat, menjaga alam, melestarikan bumi, bersungguh-sungguh melestarikan lingkungan dan melawan segala jenis kerusakan alam yang terjadi, mulai dari hal kecil.


Ketiga, berkarya bersama Tuhan Yesus. Menurutnya, Tuhan Yesus mau manusia berkarya lewat kuasanya, bukan dengan kemampuan sendiri. “Bagaimana tanah Papua mau dijangkau dengan Injil dan kesejahteraan, maka Tuhan mau kita menggunakan kuasanya. Dengan demikian, saat kita sadar memerlukan Yesus, kita sungguh-sungguh menerima pemberian-Nya, maka Tuhan memampukan kita untuk melakukan kebaikan dan membuat kita berhasil lewat pendidikan kita, lewat kesehatan, dan berhasil dalam segala hal,” paparnya.


Sementara itu, Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Hendrikus Mofu menuturkan, dalam peristiwa masuknya Injil di tanah Papua, siapa yang menyebut Papua, dia menyebut Injil dan siapa menyebut Injil di atas tanah Papua, maka dia harus menyatakan perang terhadap kuasa kegelapan yang ada di atas tanah Papua.


“Hanya karena Injil dan kekuatan Injil, kita diselamatkan. Tapi, saat ini banyak orang di tanah Papua yang sudah tidak berpegang terhadap Injil. Lewat peristiwa ini, orang Papua diperingatkan kembali untuk kembali berpegang kepada Injil. Setiap jemaat harus taat membaca Alkitab, belajar dari Alkitab, dan tidak berpegang pada ajaran-ajaran lain,” tegas Mofu.


Ditambahkannya, spirit Injil dalam memperingati HUT PI ke-163 ini, semua orang di atas tanah Papua harus mengabdi dengan sungguh-sungguh sesuai tanggung jawab masing-masing, baik wakil rakyat, TNI, Polri, pemda, swasta, adat, agama, gereja, maupun masyarakat sipil.


“Kita harus mengabdi dengan sungguh-sungguh melakukan hal-hal yang baik untuk mendatangkan kebaikan bagi diri kita dan sesama. Itu tugas kita hari ini,” tukasnya.


Dirinya pun menyinggung tentang menjaga alam dan melestarikan bumi. Mofu mengungkapkan, ketika dia menyeberang dari Manokwari ke Mansinam, melihat banyak sampah di atas air.


“Saya berharap mulai hari ini, kalau kita datang ke Mansinam, kita bersihkan Mansinam agar tidak ada sampah di Mansinam. Kita tidak boleh mengotori alam, tidak boleh merusak alam, karena alam adalah diri kita. Kalau kita merusak alam, artinya kita merusak masa depan anak dan cucu kita,” ujar Mofu.


Dari pantauan Tabura Pos, sebelum khotbah, ratusan penari melakukan refleksi dalam bentuk tarian kolosal yang menceritakan kehidupan modern manusia Papua yang kehidupannya semakin jauh dari kebenaran Injil.


Dalam tarian kolosal dikisahkan tentang pejabat daerah yang melakukan korupsi, kehidupan anak-anak muda yang dipengaruhi narkoba, miras, Aibon, pemerkosaan, dan persoalan sosial lain serta keserakahan manusia dalam mengelola sumber daya alam Papua yang tidak ramah lingkungan. [FSM-R1] 

Dibaca 239 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.