Pemimpin di Tanah Papua Harus Berkaca dari Peristiwa Asmat | Pasific Pos.com

| 22 July, 2018 |

Anak anak yang mengalami gizi buruk ketika sedang dirawat di RSUD Agats, Kabupaten Asmat. Anak anak yang mengalami gizi buruk ketika sedang dirawat di RSUD Agats, Kabupaten Asmat.

Pemimpin di Tanah Papua Harus Berkaca dari Peristiwa Asmat

Papua Barat Penulis  Rabu, 24 Januari 2018 10:51 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Kasus gizi buruk dan wabah Campak di Kabupaten Asmat dan Pegunungan Bintang, Provinsi Papua, merupakan tragedi kemanusiaan yang menjadi keprihatinan bersama serta bagian dari instropeksi untuk semua pihak di tanah Papua.

Di satu sisi, luas wilayah masih menyulitkan jangkauan pelayanan kesehatan, sehingga belum seluruh rakyat Papua terlayani dengan baik. Apalagi, Asmat dengan kondisi geografis dan topografis yang berat, tentunya menjadi kendala yang harus diperhatikan Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah.


Ironisnya, kasus gizi buruk dan wabah Campak terjadi di daerah yang anggarannya tergolong besar, tetapi permasalahan itu tidak bisa teratasi.


“Ini suatu keprihatinan luar bisa. Para pemimpin di tanah Papua harus berkaca dari peristiwa Asmat. Segera wujudkan dan realisasikan anggaran kesehatan sebagaimana diatur dalam Undang-undang Otsus, karena persentase alokasi anggaran kesehatan dan pendidikan sangat jelas. Biarlah ini peristiwa terakhir,” kata anggota DPR-RI asal Provinsi Papua Barat, Jimmy D. Idjie kepada Tabura Pos di Kota Sorong, Selasa (22/1/18).


Politisi PDI Perjuangan ini menegaskan, DPP PDI Perjuangan sudah memerintahkan seluruh kader mulai pusat hingga ke daerah untuk membantu masyarakat Asmat. Apalagi, sambung dia, Bupati Asmat merupakan kader PDI Perjuangan.
Dicecar tentang kemungkinan adanya indikasi penyalahgunaan dana kesehatan dan pengelolaan yang tidak tepat sasaran, khususnya dari dana Otsus, anggota Komisi II ini mengatakan, kedua hal itu saling berkaitan.


Ditegaskannya, anggaran yang tidak tepat sasaran bisa dipicu niat untuk menyelewengkan dana tersebut. Namun, ia meyakini jika kasus gizi buruk yang merenggut nyawa hampir 100 jiwa itu karena anggaran yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di daerah serta tidak ada langkah antisipasi sejak awal akan terjadinya gizi buruk dan wabah Campak.


Oleh sebab itu, ia menegaskan, musibah yang terjadi di Asmat, harus menjadi pelajaran bagi daerah lain.


Dirinya juga melihat faktor kondisi geografis dan topografis wilayah menjadi kendala masyarakat untuk rutin memeriksakan kesehatan anaknya ke puskesmas atau tempat pelayanan kesehatan terdekat, sehingga orang tua tidak mengetahui pertumbuhan badan, berat badan anaknya dengan asupan gizi yang dikonsumsinya.


“Itu yang tidak terkontrol. Masyarakat juga masih awam dan enggan memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada. Sosialisasi secara massif bagaimana pentingnya gizi terhadap anak, kesehatan, dan pertumbuhan anak menjadi bagian terpenting untuk ditingkatkan pemerintah,” katanya.


Pada kesempatan itu, dia mengapresiasi langkah penanganan yang dilakukan Pemerintah Pusat, TNI, Polri, LSM, dan partai politik serta stakeholder terkait untuk memberikan bantuan yang cukup guna memulihkan kondisi di Asmat. [K&K-R1]

Dibaca 322 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.