Neles Tebay : Masalah Kesehatan Tanggung Jawab Bersama | Pasific Pos.com

| 22 February, 2018 |

Tim medis saat memberikan pengobatan, imunisasi dan pemberian vitamin A dan PMT kepada anak anak di kabupaten Asmat untuk mencegah wabah Campak dan gizi buruk. Tim medis saat memberikan pengobatan, imunisasi dan pemberian vitamin A dan PMT kepada anak anak di kabupaten Asmat untuk mencegah wabah Campak dan gizi buruk.

Neles Tebay : Masalah Kesehatan Tanggung Jawab Bersama

Pendidikan & Kesehatan Penulis  Selasa, 16 Januari 2018 18:11 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

 

Timika, - Kita baru saja dikagetkan dengan berita kematian 61 anak Papua di kabupaten Asmat. Mereka meninggal karena serangan campak dan kurang gizi alias gizi buruk. Kematian anak-anak ini hendaknya menjadi perhatian semua pihak. hal ini dikatakan Pater Neles Tebay.

Neles Tebay selaku koodinator jaringan Damai Papua (JDP) memaparkan beberapa kasus Kematian Anak. "Sejak April hingga juli 2017, sebanyak 50 balita meninggal di Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai. Sesudah itu, sejak Juli hingga oktober 2017, sebanyak 35 anak Papua meninggal di kampung Yigi, Distrik Inikgal, Kabupaten Nduga, dan sekarang di Asmat," ujarnya.


Kasus-kasus kesehatan di atas ini memperlihatkan bahwa anak-anak Papua sangat rentan terhadap penyakit. Sehingga kematian dalam jumlah yang besar dapat saja terjadi pada orang Papua kapan saja di semua kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat. Maka masalah kematian anak Papua tidak boleh dipandang remeh.


Kita banyak kali memandang Pemerintah sebagai satu-satunya institusi yang bertanggung jawab atas urusan kesehatan di Tanah Papua. Tentunya, pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten, dapat mengambil langkah tertentu. Tetapi, melimpahkan semua urusan kesehatan hanya pada Pemerintah sama dengan melepaskan tanggung jawab dari pemangku kepentingan yang lain.

Selama ini, kekurangan dokter umum, dokter spesialis, mantri, PUSKESMAS yang jauh dari penduduk Papua, PUSKESMAS yang tidak ada perawatnya, PUSKESMAS yang tidak tersedia obat-obat yang dibutuhkan rakyat, biaya transportasi yang mahal, terisolirnya kampung yang didiami orang Papua, dan redahnya kesadaran oran Papua di kampung dalam hal hidup sehat, lingkungan kehidupannya yang kotor, dan lain-lain. Semua alasan ini yang selama ini dijadikan sebagai faktor-faktor penyebab bila terjadi kasus kesehatan yang besar yang menarik perhatian dari banyak pihak seperti masalah kesehatan sekrang di kabuparten Asmat. Orang Papua tidak boleh terus menerus mengulangi alasan-alasan ini.


"Orang Papua sudah harus pikir dan terlibat dalam upaya penanggulangan masalah kesehatan dan memajukan hidup sehat. Orang Papua mesti temukan solusi-solusi alternatif yang tepat-guna, sehingga tidak tergantung pada dokter, mantra/perawat, atau pihak-pihak lain. Orang Papua mesti memperlihatkan kemampuannya untuk memelihara kesehatannya sendiri, biarpun tidak ada dokter dan mantri," ujar Neles Tebay.


Lebih lanjut dikatakannya, penanganan masalah kesehatan dan promosi hidup sehat di tanah Papua mesti dipandang sebagai tanggung jawab dari setiap dan semua pemangku kepentingan, termasuk orang Papua. Tidak benar kalau sektor kesehatan dipandang sebagai monopoli pemerintah saja,baik pemerintah pusat, provinsi dan pemerintah kabupaten. Pemerintah bukan merupakan satu-satunya pemangku kepentingan, melainkan salah satu dari antara pemangku kepentingan yang lain. Ada pemangku kepentingan lain selain pemerintah seperti pihak swasta seperti perusahan-perusahan yang mengeksploitasi kekayaan alam papua, ada lembaga keagamaan, lembaga gereja, lembaga adat, dan kelompok-kelompok seperti kelompok perempuan dan pemuda. Semua pemangku kepentingan ini dapat memberikan kontribusi yang khas dalam menangani masalah kesehatan dan mempromosikan hidup sehat di antara orang asli Papua. Bahkan setiap pribadi mesti bertanggung jawab atas perkembangan kesehatannya.


Semua pemangku kepentingan mesti dilibatkan dalam mengurus kesehatan di Papua. Mereka perlu dipertemukan secara bersama dalam pertemuan, dan dilibatkan dalam diskusi yang membahas tentang sektor kesehatan dan mencarikan secara bersama solusi-solusi yang dapat dilaksanakan. Dan tentunya, setiap pemangku kepentingan mempunyai peran yang berbeda, sehingga tugasnya dapat dibagi antara semua pemangku kepentingan sesuai peranan mereka masing-masing. Dengan demikian, mereka semua secara bersama berpartisipasi dalam mengurus kesehatan rakyat di bumi cenderawasih.


Guna mempertemukan semua pemangku kepentingan yang membahas sektor kesehatan, dialog sektoral perlu dilaksanakan di setiap kabupaten. Dalam dialog sektoral ini, semua pemangku kepentingan yang berkompeten dan berpengalaman dalam urusan kesehatan diundang sebagai peserta dialog. Dialog tentang sektor kesehatan melibatkan pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat. Para pesertanya diundang bukan untuk saling menuduh, menuding, dan mempersalahkan satu sama lain, melainkan untuk secara bersama mengidentifikasi dan menganalisa masalah serta menertapkan solusi secara bersama. Dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, urusan kesehatan akan menjadi keprihatian dan tanggung jawab bersama dari semua pemangku kepentingan.

Dibaca 329 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.

Trending Topik