Akwan Sebut Pengeroyokan Berawal dari Pegang Bokong dan Buah Dada | Pasific Pos.com

| 15 August, 2018 |

Akwan Sebut Pengeroyokan Berawal dari Pegang Bokong dan Buah Dada

Papua Barat Penulis  Selasa, 16 Januari 2018 09:30 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Manokwari, TP – Pjs. Kapolsek Bintuni, Iptu Herman menyebutkan bahwa pernyataan Ketua DPD Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) Provinsi Papua Barat, Yohanes Akwan merupakan fitnah, ditanggapi dingin.

Ia menegaskan, apa yang disampaikan itu merupakan hak dari pihak kepolisian, dalam hal ini Pjs. Kapolsek Bintuni. Namun, ia mengatakan, ada sejumlah pernyataan terkait kasus yang melibatkan Ali Kaitam alias Kango (38 tahun), Yadi Kaitam (32 tahun), dan Latif Kaitam (33 tahun).


Diungkapkan Akwan, dalam surat perintah penangkapan dan penahanan yang dikeluarkan Polsek Bintuni dengan Nomor: B/04/I/2018 untuk menangkap ketiga pengurus DPC GSBI Kabupaten Teluk Bintuni, tertulis pengeroyokan.
Akan tetapi, ia mengatakan, tidak tertulis siapa korban pengeroyokan yang merupakan dasar penahanan ketiga anggota GSBI ini, sehingga dinilai penahanan tersebut keliru.


“Saya melihat dalam tanda petik ketika pihak Polsek Bintuni bilang mereka buronan. Saya pikir mereka bukan buronan. Kenapa, karena tempat kerja mereka jelas dan mereka sering bertemu penyidik Polsek Bintuni. Namun, penyidik pesan secara lisan kepada mereka untuk segera ke Polsek Bintuni. Ketiga anggota kami tahu aturan memanggil, harus menggunakan surat resmi, karena ini adalah lembaga resmi,” tandas Akwan kepada Tabura Pos di Sekretariat GSBI Provinsi Papua Barat, Senin (15/1/18).


Dirinya mengaku tidak melihat upaya ketiganya untuk melarikan diri, karena mereka bekerja dan mempunyai istri dan anak di Bintuni, sehingga tidak sulit untuk mencari mereka.


“Terkait kasus pengeroyokan, kita bisa balik bertanya, seandainya saudara perempuan kita dipegang pantat dan buah dadanya, apa respon kita? Saya yakin, siapa pun yang ada di tanah Papua ini akan marah. Ini yang harus dilihat, kenapa kemudian terjadi pengeroyokan,” paparnya.


Ia menerangkan, pengaduan yang dilakukan seorang imam masjid di Tahiti karena faktanya mereka bermain petasan, maka itu merupakan delik aduan dari imam masjid, sehingga ada 2 duduk perkara. Pertama, bermain petasan api dan kedua, pengeroyokan akibat ulah seorang kepala kampung berinisial MK yang memegang pantat dan buah dada dari para ketiga pelaku pengeroyokan tersebut.


“Kenapa kita beralibi bahwa kasus ini kabur, karena tahapan dan mekanisme waktu penyelidikan itu sudah lewat dari batas waktu 21 hari yang ditentukan. Seharusnya dari awal pengaduan, polisi segera mengambil langkah untuk menyelesaikan kasus pengeroyokan tersebut. Kelalaian ada pada institusi kepolisian itu sendiri, maka mereka harus dibebaskan, karena kasusnya kabur,” tukas Akwan.


Ditanya apakah ada langkah yang akan dilakukan terkait penahanan ketiga tersangka ini, dia mengaku sudah menghubungi LP3BH Manokwari dan mereka siap untuk menangani perkara tersebut. Akwan menjelaskan, saat ini surat kuasa sudah disiapkan dan intinya, begitu perkara ini dilimpahkan, LP3BH siap menanganinya.


Di samping itu, dirinya mengaku tidak tertutup kemungkinan pihaknya akan menempuh praperadilan apabila ketiga anggotanya ini dirugikan, karena terdapat sejumlah kejanggalan dalam kasus tersebut.


“Pertama, laporan penahanannya adalah petasan, polisi tiba, mereka dianiaya dan ketika mereka bertiga digiring ke Polsek Bintuni, kasusnya dilarikan ke bulan Oktober 2017, Pasal 170, bukan lagi kepada orang yang bermain petasan,” tukas Akwan. [FSM-R1] 

Dibaca 529 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.