Sejak Tahun 1939 Gereja Kingmi Sudah Ada di Tanah Papua | Pasific Pos.com

| 27 May, 2018 |

Suasana Ibadah Syukur saat merayakan HUT Injil Empat Berganda ke 79 di Gereja Kingmi Eklesia Angkasa Indah Kota Jayapura, Sabtu (13/1/18). Suasana Ibadah Syukur saat merayakan HUT Injil Empat Berganda ke 79 di Gereja Kingmi Eklesia Angkasa Indah Kota Jayapura, Sabtu (13/1/18).

Sejak Tahun 1939 Gereja Kingmi Sudah Ada di Tanah Papua

Kota Jayapura Penulis  Minggu, 14 Januari 2018 23:05 0
Beri rating artikel ini
(0 voting)

Pdt. Yosia Tebay : Saat Ini Gereja Kingmi Urutan Pertama di Tanah Papua

 

 

Jayapura,- Perintis Gereja Kingmi di Tanah Papua, Pdt. Yosia Tebai, STh, MA mengungkapkan, sejarah singkat masuknya injil di Tanah Papua yakni keputusan hamba-hamba Tuhan dari Amerika yang kemudian mereka masuk di Enarotali pada 13 Januari 1939.

“Ini sejarah singkat masuknya injil sampai dia besar disana. Besar artinya penginjilan sudah disebarkan ke kabupaten-kabupaten lain. Mulai di Pania kemudian masuk di Kabupaten Intan Jaya lalu dari situ masuk ke Ilaga Kabupaten Puncak, baru masuk lagi Beoga. Ini jalannya dia dari awal sampai tahun 1954 masuk di lembah Baliem, “ kata Pdt. Yosia Tebay kepada Pasific Pos usai mengikuti acara perayaan HUT Injil Empat Berganda yang ke-79 yang jatuh pada tanggal 13 Januari 1939 – 13 Januari 2018 dengan tema "Berubah Untuk Menjadi Lebih Kuat Menuju 100 Tahun Gereja Kingmi", yang dilaksanakan di Gereja Kingmi Eklesia Angkasa Indah, Kota Jayapura, Sabtu (13/1/18).

Lanjut dikatakan, selama sekian tahun ini, ia telah melayani di daerah pedalaman pegunungan dari barat samapi ke Timur, dan dari Timur sampai ke Selatan dan Utara.

“Setelah tahun 1963 kita sudah masuk di bagian pantai dan mulai penginjilan di Sentani kabupaten Jayapura hingga pindah ke Abepura kemudian ke Kota Jayapura. Dan sekitar Kota Jayapura sudah terima ini, baik orang pendatang maupun orang asli Papua. Jadi kami sudah melayani sekian tahun, “ ungkapnya.

Apalagi kata Yosia Tebai, garis besar sejarah gereja ini mulai dari pedalaman lalu turun ke pantai. Sementara gereja lain seperti GKI, itu dimulai dari pesisir pantai baru naik ke pegunungan.

“Tapi kita ini dari gunung lalu turun ke kota dan itu mulai sejak tahun 1963. Dan selesai dari sini kita buka lagi di Merauke dan masuk di Biak dan Serui. Bahkan di Papua Barat sampai ke Fak-Fak. Jadi Fak-Fak itu kami buka disana tahun 1978, “ imbuhnya.

Ia mengakui, semua tenaga dan pengorbanan sangat banyak tapi pihaknya tidak berhenti sampai di situ, karena baginya pantang mundur meskipun persoalan dan tantangan silih berganti.

“Kita tidak mundur walaupun ada persoalan dan tantangan yang menghalang, kita malah maju terus sehingga Injil ini sudah tersebar sampai di seluruh Tanah Papua dan Papua Barat, “ kata Yosia tebay.

Kalau segi stastik Gereja itu dari pemerintah, namun kata Yosia Tebay, kita punya gereja ini nomor urut satu, sementara GKI sekarang urutan kedua.

“Jadi jumlah umatnya ada sekitar 95 persen orang asli Papua dan 5 persennya pendatang. Baik dari Jawa, Manado, Batak. Bahkan sekarang pun sudah bertambah lagi sehingga sekarang mungkin yang campuran sudah 10 persen, “ ujarnya.

Salah satu pengurus organisasi menjelaskan bahwa, secara organisasi ada 13 koordinator dan 89 klasis dengan jumlah umat keseluruhan gereja Kingmi di Tanah Papua enam ratus ribu umat dan tiga ratus ribu jemaat yang tersebar di dua provinisi, yaitu Provinsi Papua dan Papua Barat.

“Kami gereja Kingmi di Tanah Papua hampir tiga ratusan lebih yang sedang melayani di seluruh tanah Papua maupun di Papua Barat. Dan jumlah umat yang tadi saya sampaikan sekitar 80 persen adalah orang pribumi Papua kemudian dua puluh persen adalah teman-teman dari suku lain. Seperti dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Manado dan lain-lainnya, “ paparnya.

Dikatakan, itu yang sedang pihaknya jalani, dengan tema yaitu "Berubah untuk menjadi lebih kuat menuju 100 Tahun Gereja Kingmi di Tanah Papua". Dengan sub tema "Melalui penyambutan Injil oleh generasi pertama membangkitkan semangat pelayanan generasi baru".

“Sedangkan tema kami dengan visi, gereja Kingmi di Tanah Papua membawa damai dan mendirikan kerajaan Allah di bumi ini dengan tujuan supaya damai sejahtera itu akan terus memerintah dalam kehidupan kita secara organisasi dan secara jemaat dan dalam gereja ini sebagai visi kami, “ jelasnya.

Untuk itu, secara organisasi sudah diberi ruang untuk masing-masing klasis, sehingga harus menjalankan ini sampai ke akar rumput. Dan berita utama yang harus kami sampaikan adalah Yesus kristus adalah Tuhan dan juru selamat, Yesus Kristus adalah sebagai pengurus kita, Yesus kristus adalah raja kita yang akan datang.

“Ini kami punya doktrin, kami punya urat nadi untuk memerintahkan ini sampai Yesus datang kembali, “ tandasnya.

Sementara itu Ketua Klasis Gereja Kemah Injil Kingmi di Tanah Papua, Kalsis Kota Jayapura, Pdt. Marthen Mauri menyampaikan syukur kepada Tuhan dimana hari ini dapat menyelesaikan ibadah 79 tahun hari pekabaran Injil Gereja Kemah Injil Kingmi di Tanah Papua atau yang lebih dikenal sebagai hari Injil Empat Berganda.

Menurutnya, dengan fokus Yesus Kristus adalah juru selamat, yesus kristus adalah pengurus, yesus kristus adalah penyembuh atau tabin, yesus kristus adalah raja yang akan datang.

“Jadi dengan berita ini, Gereja Kemah Kingmi telah berkembang dan secara khusus untuk klasis kota Jayapura, kita memiliki satu visi, yaitu gereja ku adalah kota ku, kota ku adalah gereja ku, “ kata Pdt. Marthen Mauri.

Menurutnya, dengan visi ini akan menjadikan semua orang, semua etis dan semua agama di dalam kota ini adalah saudara, keluarga. Bahkan target untuk menerima kabar baik.

“Jadi kita tidak pandang dia itu dari agam Islam, Kristen, hindu atau budha karena semua orang itu adalah bagian yang dikasihi oleh Tuhan yang harus mendapat sentuhan kasih dari gereja sebagai bagian yang terpenting di hatinya Tuhan. Karena Tuhan Yesus tidak pernah pilih kasih untuk mengasishi, “ imbuhnya.

Dengan demikian kata Pdt. Marthen Mauri, Klasis Kota memiliki target untuk memiliki mitra dengan pemerintah kota, pengusaha, masyarakat, dan bermitra dengan orang-orang yang terbuang. Seperti anak-anak muda yang kecandu Aibon, Narkotika, dan Ganja.

“Karena orang-orang itulah yang menjadi targetnya Tuhan dimasa yang lampau, yaitu orang-orang yang berdosa. Jadi Gereja Kingmi di Tanah Papua bukan gereja yang elit tetapi gereja yang bermasyarakat, gereja yang mau menyentuh orang-orang kecil dan orang-orang yang terbuang, “ tegasnya.

Pdt Marthen Mauri menambahkan, Kingmi Klasis Kota akan menjangkau orang dengan kasihnya Tuhan dengan tidak memilah-milah atau membeda-bedakan untuk mengasihi semua orang yang ada di Kota ini sesuai dengan visi misi gereja Kingmi Klasis Kota yaitu gereja ku adalah kota ku, dan kota ku adalah gereja ku.

“Saya pikir itu yang menjadi harapan ke depan bahwa gereja Kingmi tetap menjadi sahabat semua gereja, semua agama dan kiranya nama Tuhan dimuliakan selalu, “ tutup Pdt Marthen Mauri. (TIARA)

Dibaca 824 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.