Aloysius Giyai Sesalkan Pernyataan JWW | Pasific Pos.com

| 15 December, 2018 |

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aloysius Giyai. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aloysius Giyai.

Aloysius Giyai Sesalkan Pernyataan JWW

Headline Penulis  Sabtu, 13 Januari 2018 10:09 font size decrease font size increase font size 0
Beri rating artikel ini
(1 Voting)

“Jangan Kita Provokasi Suatu Hal yang Tidak Mendasar”

 

Jayapura, - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai menyesalkan adanya statemen dari bakal calon Gubernur Papua, John Wempi Watipo (JWW) yang mengatakan bahwa RSUD Jayapura merupakan rumah sakit yang tidak independen.

Apalagi ia dianggap sebagai tim sukses petahana Lukas Enembe- Klemen Tinal, sehingga dianggap sama sekali tidak independen. Untuk itu sebagai Plt Direktur RSUD, Alosius Giyai ingin mengklarifikasi pemberitaan tersebut.

“Disini saya mau tegaskan bahwa terkait dengan terpilihnya pemeriksaan kesehatan di RSUD Jayapura, itu bukan diminta oleh jajaran rumah sakit Dok II karena itu sudah menjadi aturan dalam undang-undang dimana kami juga diminta oleh KPU Papua dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mereka mengambil tempat di Rumah Sakit Dok II ini untuk lakukan pemeriksaan bagi pasangan bakal calon Gubernur Papua Periode 2018-2023, “ kata drg. Aloysius Giyai ketika dikonfirmasi Pasific Pos di ruang kerjanya, Jumat (12/1/18) sore.

Sehingga kata Aloysius, hasil apa pun kami pihak manajemen atau administrasi tidak tahu menahu hasil pemeriksaan tersebut karena itu hak progratif yang menjadi penentuan hasilnya oleh dokter-dokter ahli yang memeriksa dalam hal ini dokter-dokter spesialis dari 14 item itu. Dan itu pun hasilnya ditentukan oleh Ikatan Dokter Indonesia itu sendiri.

Menurutnya, meskipun dirinya sebagai Plt RSUD Jayapura yang juga sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, ia tidak akan memihak kepada siapa pun apalagi sampai intervensi hasil pemeriksaan itu.

“Jadi kami tidak punya hak untuk intervensi sampai ke situ dan itu sangat tidak mungkin, kita ini Aparatur Sipil Negara (ASN) dan kita juga menjaga netralitas, tapi lebih dari itu kami ini sudah di sumpah. Terus mau diintervensi itu lewat apa. Kan ini indenpendensi netralitas keahlian profesi oleh ahli-ahli itu sendiri, sehingga tidak ada celah untuk kami bisa intervensi atau memberi petunjuk, itu tidak ada sama sekali, “ jelasnya.

Untuk itu, ia yakin dan percaya bahwa hasil ini adalah murni dari dokter-dokter spesialis yang tidak akan ditambah ataupun dikurangi. Baik situasi dan kondisi status kesehatan para bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur juga Bupati dan Wakil Bupati.

“Saya kira ini netral, dan tentunya IDI pasti netral tidak mungkin ada intervensi kelompok ini dan kelompok itu. Apalagi kami jajaran managemen rumah sakit DOK II yang dituding akan mengintervensi. Tidak ada benang merahnya, cuma kami diberi kepercayaan sehingga kami harus siapkan dokter-dokter yang memeriksa dengan keahliannya, dan fasilitasnya kami juga siapkan, dan kami pun punya kepanitiaan khusus, “ ungkapnya.

Kalau sudah menyangkut teknisi keahlian, lanjut Aloysius Giyai, siapa pun tidak bisa diintervensi, karena ini ranah yang sudah disumpah. Sehingga itu sangat tidak mungkin.

“kita ini bukan kerja di ranah politik, tapi kita kerja di ranah profesi yang tidak bisa diintervensi oleh siapa pun, “ tandasnya. 


Saya mau berpihak dalam aspek apa? Saya tidak terlibat untuk menentukan status kesehatan orang. Yang menentukan itu adalah dokter-dokter ahli dan saya tidak ada link dengan mereka. Sekali lagi saya katakan, siapa pun Gubernur terpilih, saya hanya bekerja sebagai birokrat profesioanl, “ tegasnya. 


“Seharusnya kita jaga Pilkada ini agar tetap berjalan aman. Karena sebagai direktur dan jajaran tidak ada sangkut paut dengan keputusan hasil pemeriksaan kesehatan, itu ada pada dokter-dokter ahli masing-masing dan IDI, “ ungkap Alosius Giyai.

Terkait video yang beredar dan kini jadi viral di dunia maya, yang dituding mendukung Lukas Enembe, ia menjelaskan bahwa video itu adalah acara adat yaitu parade nusantara yang tidak ada sangkut pautnya dengan politik dan Pilgub.

“Saya ini kan penatua yang diminta oleh suku Mee untuk mengantar dalam acara adat Meepago. Apalagi saya ini kan adalah kepala suku besar mereka, dan dalam adat itu harus. Jadi dalam acara adat itu kita tidak menggunakan kepala dinas atau ASN karena tidak ada sangkut pautnya dalam acara tersebut. Jangan kita terlalu cepat mengambil kesimpulan sehingga memberikan penilaian yang negatif terhadap seseorang tanpa tahu kebenarannya. Kita bekerja dengan cerdas dan professional, jadi jangan menuduh orang tanpa ada bukti yang jelas, “ ketusnya.

Dikatakan, dirinya menjadi kepala SKPD Provinsi sudah tahun ke sepuluh, dan tidak pernah memihak kepada siapa pun, dan hanya bekerja sesuai tupoksinya. Sehingga menurutnya, harus dibedakan, apakah dalam kegiatan ini sebagai adat, pejabat birokrat atau di gereja.

“Jadi kita harus tahu menempatkan diri, jangan campur aduk. Apalagi saya juga sebagai tokoh umat Katolik, yang sekarang sering memimpin kegiatan-kegiatan gereja. Jadi apakah saat saya pimpin kegiatan gereja lalu saya dianggap fanatiknya gereja tersebut? Kan tidak, karena saya ada di lingkungan itu, maka warna gereja saya itu harus ditampilkan karena itu adalah bagian dari iman saya, “ kata Aloysius.

Untuk itu ia meminta, jangan dikaitkan dengan jabatannya sebagai kepala dinas dan direktur rumah sakit. Begitupun dengan acara budaya yang kebetulan saat itu penetapan Lukas Enembe sebagai suku besar Papua.

“Karena di situ bukan hanya kami saja, semua suku Papua dan se nusantara ada di situ. Kan saya pakai simbol adat bukan pakai baju dinas. Jadi tolong jangan diprovokasi, “ ucapnya.

Kembali Aloysius Giyai menegaskan bahwa ia hanya bekerja sesuai tupoksinya sehingga siapa pun pemimpinnya ia siap loyal dan siap taat apa pun yang menjadi visi misi, apa yang menjadi program dan siapa pun dia, itulah yang menjadi pimpinannya.

Namun Aloysius tak ingin memperpanjang masalah ini, ia enggan untuk membawa hal ini ke ranah hukum meskipun ia mengakui jika pemberitaan tersebut sangat sudah menggangu nama baiknya. Apalagi dengan sengaja diedarkan video tersebut, yang memang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan politik maupun Pilkada Gubernur.

“Saya sudah klarifikasi jadi masalah ini saya anggap misinformasi dan miskomunikasi, oleh karena itu saya harap ke depannya hal itu tidak terjadi lagi. Harus pintar-pintar bedakan karena kalian adalah orang-orang pintar. Mana yang menyangkut kegiatan adat, mana yang birokrasi atau politik. Dan jangan pernah jadi provokator untuk mengintervensi seseorang, apalagi kalau tidak ada bukti. Jadi harus berjiwa besar tidak boleh sangkut pautkan politik dan adat, “ tandas Aloysius Giyai.

Apalagi kata Aloysius, bahwa HMS ini adalah bapak mantunya sebagai orang Tabi, JWW dan Lukas Enembe serta Klemen Tinal adalah saudaranya. Sehingga ia tidak beda-bedakan mereka. Manusia boleh berjuang tapi restu itu ada di tangan Tuhan.

“Jadi saya harap hal-hal ini tolong diperhatikan karena kita punya hak pembelaan juga, karena kalau sudah sampai lewat batas pasti kami juga tidak tinggal diam dan semua akan fatal. 

Ia menjelaskan bahwa, dirinya hanya sebagai seorang birokrat professional dan mau menjalankan tugas sebagai seorang ASN dan Dokter yang sudah disumpah. Sehingga netralitas itu harus dijaga.

“Lihat saja, selama saya pimpin rumah sakit Abe dan juga di Dinas Kesehatan ini, tidak ada orang Paniai yang berjejer disini, karena saya tetap jaga profesioanl dan kompetensi. Kenapa saya tidak mau? Karena itu sangat mempengaruhi pada kinerja, “ ungkapnya.

Bahkan lanjut dia, siapa pun pemimpin, siapa pun Gubernur dan apa yang menjadi visi misi, program unggulan dan inovasi sebagai bawahan harus siap melaksanakan tugas dan tanggung jawab.

“Jadi sekali lagi saya minta jangan kita provokasi suatu hal yang tidak mendasar dan belum tahu kebenarannya. Karena semua orang punya hak jawab dan punya kesabaran. Kalau sudah terlalu menuduh bahkan sampai mencurigai, pasti kami juga akan bersuara, “ pungkasnya.

Aloysius Giyai menambahkan, tidak boleh ada kata mungkin karena kalimat seperti itu belum dijamin kebenarannya. Sebaiknya jangan menciptakan kondisi yang tidak aman sehingga menimbulkan konflik. (TIARA)

Dibaca 1208 kali

Tinggalkan Komentar

Yang bertanda bintang (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diijinkan.